
"In, ayolah, bicara jangan diam saja", kata perempuan berambut pendek yang imut itu.
"apa?", lalu aku membalikkan badan dari sibuknya memetik bunga dari tangkai satu kesatunya lagi
Hari ini toko bunga sengaja ku tutup. Aku menunggu beberapa orang yang sudah kuhubungi untuk melakukan wawancara kerja.
"aku belum mau di pecat In", katanya lagi sambil menghentakkan kaki seperti balita yang meminta mainan kepada ibunya.
"siapa yang memecatmu!", jawabku dengan gemas
"kau, bahkan kau tega mencari pengganti ku saat aku sedang sakit kemarin", jawabnya mengikuti langkahku yang membawa sekeranjang bunga mawar hitam yang sudah lama sekali kutunggu waktu panennya.
"bawa ini", sambil ku serahkan keranjang itu padanya. "aku hanya mencari teman untukmu. aku tau pekerjaan mu berat Al, aku tidak berniat untuk memecat mu. bisa gila aku tanpamu", jelasku yang kemudian duduk di kursi dekat kebun bunga itu.
Alena yang menyusulku dengan wajah gembiranya menyambar dan memelukku dengan gemas. Aku sampai tidak bisa bernafas karenanya. Dengan segera ia melepaskan ku saat aku bersuara seperti orang tercekik.
"terimakasih Indira, aku sayang kamu", katanya lalu mengecup keningku. Hal tersebut sudah sering ia lakukan. Aku tahu itu adalah tanda sayangnya kepadaku.
"BTW, cowok yang kemarin tampan tidak?", tanyanya membahas orang yang membentakku dengan kasar itu.
"boro-boro tampan, wajahnya seperti singa", jawabku sambil memeragakan wajah singa dengan kedua tanganku.
Alena hanya tertawa disebelahku. Tak lama ada seseorang yang menelpon ke telepon toko bunga. Memang, kebun bunga milikku tepat berada di belakang Toko dan rumahku.
'kau bisa datang sekarang', kata Alena kepada orang itu.
"in, yang mau wawancara, sudah dekat katanya", Alena segera memberitahukan ku setelah menerima telepon tadi.
Kami pun bersiap menerima tamu dan mewawancarai calon pegawai baru disana.
Aku memang tidak memberikan persyaratan khusus mau perempuan atau pria tidak masalah asal dia bisa bekerja dengan baik, akan aku terima.
Dari 3 orang yang datang, aku sudah menemukan siapa yang pantas ku terima menjadi teman Alena di toko dan mengelola media sosial.
......***......
"erwin..win..", teriak Alena
"ada apa?", tanyaku yang memang kebetulan sedang santai dan tidak ada pekerjaan di kebun.
"aku ingin mengajari Erwin merangkai bunga In, tapi dia tidak ada", kata Alena menjelaskan kepadaku
Di sisi lain, aku di sibukkan melihat orang yang tengah berdiri di antara bunga-bunga yang di pajang di depan toko.
Lalu, aku menepuk bahu Alena dan mengisyaratkan kepada untuk menatap sama kearah yang ku tatap.
"oh sedang melayani pembeli", kata Alena
__ADS_1
"bukan Al, itu, i- itu", kataku lagi menunjuknya sampai bergetar seluruh badanku rasanya.
Lagi, aku kembali bertemu dengan orang menyebalkan itu. Walaupun kali ini kulihat ia sangat tenang berbicara dengan Erwin.
"In, in, indiraaaaa", teriakan Alena mengejutkanku.
"kau disini saja, bekerja dengan baik, aku harus ke kebun sekarang", kataku lalu berlari kecil ke arah belakang toko dan langsung memakai topi ku untuk berkebun.
...***...
Dari pintu kaca ini, aku melihat, orang itu sedang membayar beberapa tangkai bunga yang tidak di rangkai. Hanya di ikat saja oleh Alena. Setelah lelaki itu pergi, aku keluar dari persembunyianku. Mendatangi Alena yang senyum-senyun sendiri seperti sedang bertemu malaikat tampan.
"heh, senyum-senyum, abis ketemu malaikat ya?", kataku sambil menggoda Alena
"kau telat banget datangnya, tadi beneran ada malaikat tampan", jawabnya
"kau gila Al?", sahutku sambil menatap jijik anak satu ini. "makanya Al jangan kebanyakan baca noveltoon, kebawa kan halunya". sambungku.
"beneran In, namannya Ef, panggil Eef juga boleh", sahut Alena yang kini benar-benar terlihat gila.
Aku berdiam diri sambil menatap Alena yang kini sibuk melap pintu kaca yang sebenarnya sudah ia lap tadi.
"erwin", panggilku
"iya In", sahutnya. Memang sejak awal aku sudah menyuruhnya untuk memanggil ku cukup dengan nama saja. Selain, karena seumuran, aku juga ingin terlihat akrab dengan pegawai ku. Selain Alena, karena memang ia juga teman terbaikku.
Erwin mengangguk dan pergi ke Alena. Memintanya untuk melajari merangkai buket bunga. Sebelumnya aku sudah mengatakan tugas utamanya adalah mengelola sosial media pada pagi dan sore wajib upload keadaan toko dan harus selalu upload bunga-bunga yang baru dipanen dari kebun dan berikan beberapa promosi untuk pelanggan yang memesan melalui sosmed. Erwin cepat mengerti untungnya.
...***...
Erwin dan Alena sudah selesai dengan pelajaran mereka. Aku pun kembali memberikan kursi kassa itu untuk diduduki oleh Alena, si empunya kursi dan meminta Erwin mengikuti ku.
"kau kenal dengan lelaki yang tadi membeli bunga, yang kau layani di luar?", tanyaku penasaran
"tidak Al, ia hanya memintaku untuk membantunya memilihkan bunga untuk seseorang katanya", jawab Erwin
"kau terlihat akrab", aku masih penasaran
"mungkin hanya kelihatannya saja In", jawabnya lagi kali ini terdengar sedikit gugup. Aku hanya mengangguk dan memulai kesibukanku yaitu menyemai beberapa bunga lagi untuk mengganti tanaman yang sudah mulai tidak produktif di kebun. "kalau begitu aku masuk ya In, aku masih harus mengecek sosmed siapa tau ada yang pesan disana", katanya yang terlihat -sangat terlihat- menghindariku.
Aku semakin yakin, ada yang disembunyikan Erwin. Melihat dari tingkahnya yang aneh saat ku tanya tentang lelaki itu. Ef, namanya Ef kata Alena.
...***...
Hari ini aku sengaja menyuruh Alena dan Erwin pulang duluan. Aku masih ingin menikmati toko ini. Lagi pula, aku hanya perlu berjalan 20 langkah untuk sampai ke teras rumahku.
Malam semakin dingin, walaupun pintu toko sudah ku kunci. Menghirup udara segar dan wangi dari bunga-bunga yang ada disini. Tidak salah, bunga menjadi lambang cinta. Menciumnya saja sudah berasa jatuh cinta. Apalagi diberikan oleh orang yang benar-benar mencintai kita.
__ADS_1
Menghayal apa sih In, kau saja belum pernah jatuh cinta. Bisa-bisanya berhayal diberi bunga oleh orang spesial. Celetukku dalam hati. Sambil tertawa tipis, aku berdiri, keluar lewat pintu belakang dan berjalan menuju rumahku.
Betapa terkejutnya, saat kulihat Erwin berdiri di depan pintu rumahku.
"win", kataku dari belakang
"In, maaf, ku pikir kau ada di dalam, dari tadi aku ketok", katanya
Kemudian aku membuka pintu rumahku. "masuk win", kataku mengajaknya masuk
Erwin pun masuk dan ku persilakan untuk duduk di sofa yang memang disediakan untuk tamu.
"ada apa?", tanyaku
"ini In", katanya sambil menyodorkan 1 bungkusan. "makanan untukmu, kulihat dari beberapa hari aku kerja, kau jarang makan", sambungnya.
Bungkusan itu kusambut dengan senang. Walaupun, sebenarnya aku tidak lapar. Tidak ada salahnya menghargai pemberian orang lain.
Baru ini, ada seseorang yang baru saja kenal denganku, sudah sangat memerhatikan ku.
"makasih", balasku setelah menerima bungkusan itu.
"kau suka daisy dan mawar hitam?", tanya. Mungkin melihat beberapa vas bunga di buffet dekat sofa berisikan bunga daisy cantik yang menghiasi mawar hitam sebagai tokoh utamanya.
Aku mengangguk sembari memberikan minum padanya. Teh putih andalanku saat ada tamu. Memang disiapkan di meja dekat ruang tamu agar tidak jauh mengambilnya.
"coba, pasti suka", kataku menyodorkan minuman itu.
"tidak biasanya, perempuan suka mawar hitam", katanya lagi dengan penasaran
"tumbuhnya susah Win, sama seperti wanita, Susah dimengerti", kataku menjelaskan sedikit alasannya. " lagi pula cocok kan, Hitam dan Putih, mawar dan daisy, saling melengkapi", jelasku
Erwin mengangguk lalu meletakkan cangkir ditangannya ke meja. "tidak ada di toko?", katanya
"setiap panen selalu ku taruh dirumah. selain karna panennya susah dan lama, harganya mahal. siapa yang mau beli? kecuali ada yang pesan win, ku siapkan, tapi harganya sedikit lebih mahal", jelasku.
"oh aku mengerti, kalau begitu aku pulang In, sudah malam. aku hanya ingin mengantarkan makanan saja tadi, malah mengobrol", erwin beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruang tamu rumahku.
Setelah mengantarkan Erwin keluar. Aku mengecek apakah yang ada di dalam bungkus makanan itu. Lagi dan lagi, Erwin membuatku terkejut.
'cheese cake' makanan kesukaanku.
bagaimana ia tahu?
Langsung saja aku duduk, menikmati makanan itu sampai habis setengahnya. Aku begitu kalap sampai lupa kalau aku sudah kenyang.
...***...
__ADS_1