KEMBALI (JATUH CINTA)

KEMBALI (JATUH CINTA)
Akhirnya, datang lagi!


__ADS_3

"iya tunggu sebenta.....", aku setengah berlari dari kamar menuju pintu utama setelah mendengar bunyi klakson mobil yang sangat nyaring didepan rumah ku.


Namun, langkah ku terhenti tepat di ambang pintu rumah. Melihat ke mobil yang terparkir di halaman dan itu bukan Efrian. Mataku masih mencari tau siapa yang ada didalam. Tak lama pemilik nya keluar dan menunjukkan wajahnya. Irwan? Dia Irwan?


Dengan cepat aku membalikkan badanku. Ingin segera masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Rupanya, langkah ku kurang cepat. Lelaki itu sudah ada tepat di belakang ku dan menahan daun pintu yang ingin ku tutup tadi.


"In, ini aku", katanya


Aku masih tidak ingin membalikkan badanku. Menyembunyikan wajahku darinya. Benar-benar tidak ingin melihat wajahnya.


"In", katanya lagi, kali ini sambil memutar bahuku sehingga mau tidak mau aku membalikkan badan menghadapnya tapi tetap dengan wajah yang tidak ingin ku perlihatkan.


"In, aku datang", katanya lagi. Seolah bibirnya tidak bisa tenang kalau diam.


"a.. a.. aku", sahutku. Belum selesai aku mengatakan hal yang ingin ku katakan. Sudah saja Irwan dengan lancar memelukku dengan erat.


Aku yang masih terkejut hanya bisa mematung di dalam dekapannya. Sampai, aku melihat lelaki yang berdiri tepat di belakang Irwan sedang melihat pertunjukkan tidak menyenangkan jika dilihat langsung. Mata kamu bertemu, aku dapat membaca kekecewaan disana. Entah mengapa, perasaan ini, hati ini, tidak ingin membuatnya kecewa.


"aku tidak mengenalmu", kataku sambil mendorong dadanya dariku.


"Irwan In, aku Irwan, bohong kalau kau tidak mengenalku!", jawabnya menyakinkanku.


Jelas aku sudah berbohong, aku bahkan sangat ingat wajah orang yang membuat ku tidak bisa makan berhari-hari karena kehilangannya.


Kakiku berlari mengejar Efrian yang sudah duluan berlari setelah melihat adegan pelukan yang menjijikan itu. Tapi, Irwan terus mengejarku dan berhasil menarik tanganku.


"bohong kalau kau tidak ingat aku In!", katanya dengan lantang.


"iya aku berbohong, tapi sejak saat itu, aku memang sudah tidak mengingatmu lagi. dalam hidupku, kau bahkan sudah mati dan dikremasi. hanya tersisa debu yang sudah mulai mengendap dan tidak bisa dibersihkan lagi", jawabku sambil melepaskan tangannya.


Aku berharap, dengan kata-kataku itu, Irwan mengerti, aku tidak ingin di ganggu nya lagi.


Sembari aku berlari mengejar Efrian yang sebenarnya sudah tidak terlihat lagi. Irwan pun berlalu dari rumahku.


...***...


Aku sudah sampai rumah sakit dan berjalan dengan cepat menuju ruang rawat inap mamanya Efrian. Sesampainya di sana, aku tidak mendapati mama Efrian dan bahkan tempat tidur dan semua ruangan sudah bersih.


Aku keluar dan menuju resepsionis, menanyakan tentang mama Efrian mengapa tidak ada di kamarnya.


Informasi dari suster bahwa mama nya Efrian baru saja keluar bersama dengan Efrian.

__ADS_1


Dengan langkah setengah lemas, aku berusaha sampai dirumah Efrian.


"loh In, kok disini?", sergah lelaki itu dihadapan mamanya.


"suruh masuk dulu mas", kata namanya kemudian


Aku pun masuk dan duduk di ruang tamu rumah itu. Bersama dengan Efrian dan mamanya. Lama bertatapan, tak ada sepatah katapun mampu ku ucapkan. Bingung harus mulai dari mana.


"mama mau istirahat dulu, sambil nunggu bibi datang tolong bikin minum sendiri ya In", kata mamanya dengan lembut. Kemudian berdiri dan meninggalkan kami. Dengan sigap Efrian menyusul untuk mengantarkan mamanya ke kamarnya.


Sembari menunggu Efrian kembali, aku berusaha menyusun kata-kata. Untuk menjelaskan tapi jangan sampai terlihat bahwa itu adalah sebuah pembelaan. Suara ayunan kaki mendekatiku. Dengan 1 ketukan, langkah itu berhenti tepat saat aku mendongakkan kepalaku ke arahnya.


Ciut rasanya, nyali yang ku kumpulkan sedari tadi, tetiba sirna.


"In, aku harus ke kantor. kalau boleh minta tolong, kau disini dulu sampai bibi datang. tapi kalau keberatan kau pulang sekarang juga tak apa", katanya dihadapanku namun tidak menatap ku sama sekali.


Ia menghindar, membuang pandangannya, menyibukkan bola matanya untuk menatap ke lain tempat. Padahal aku ada di hadapannya.


"aku mau bicara Ef", belum selesai aku mengeluarkan kalimatku, ia sudah berlalu dari hadapan ku.


...***...


"oh, eh iya, tante, maaf", kataku


"pindah ke kamar saja ya, mungkin mas frian pulangnya agak malam", sahutnya


"bibi mana tan?", tanyaku lagi


"ada di kamarnya, ini sudah malam bibi juga butuh istirahat, apalagi habis perjalanan jauh", sambungnya


Aku, sudah kehabisan tenaga menunggu Efrian kembali. Kuputuskan untuk pulang saja. Tapi, yang namanya orang tua, pasti tidak ingin anak gadis pergi malam-malam sendirian. Lantas saja, aku di larang oleh perempuan lembut ini untuk meninggalkan rumah. Kalaupun aku ingin pulang, aku harus menunggu Efrian untuk mengantarkan ku pulang. Aku pun berjalan menuju kamar yang sebelumnya memang pernah aku tiduri itu.


jam menunjukkan pukul 02.00, aku mendengar suara mobil yang baru saja terparkir digarasi rumah ini. aku menengok lewat jendela kamar. Benar saja Efrian pulang.


Segera, aku keluar dan minta tolong ingin di antar pulang olehnya. Tapi di tolak. Dengan alasan dia lelah. Begitu saja, dan dia meninggalkan ku mematung di tempat itu.


...***...


"itu bukan siapa-siapa", aku memulai pembicaraanku kepada Efrian yang sedari semalam sangat cuek terhadapku.


"siapa-siapa juga tak apa, urusanku juga bukan", sahutnya sambil membereskan pupuk tanaman yang sudah di antarkan dari tadi pagi sekali.

__ADS_1


"kau harusnya tidak pergi", jawabku lagi


"kau harusnya pergi denganku, tapi aku malah pergi sendiri, seperti nya mulai sekarang aku tidak boleh lagi main kerumahmu", jawabnya masih sibuk dengan karung pupuknya


"seharusnya aku pergi dengan mu, seandainya saja kau tidak meninggalkan ku", jawabku terus. Kali ini ia melihat ke arahku dan melepaskan karung pupuk itu lalu mendekat.


"kau harusnya tidak menerima pelukan nya di hadapanku", tegasnya sambil meninggalkan ku lagi dan lagi.


...***...


Suara handphone ku sangat berisik dan membangun kan ku.


'In, kau dimana?', tanyanya.


"dirumah Al, ada apa?"


'kemarin kau dimana?', tanyanya lagi


"rumah Efrian, mengantarkan mamanya keluar dari rumah sakit, ada apa al?",


'kau pasti terkejut, kemarin Irwan datang ketoko dan membeli bunga', jelasnya dengan sangat semangat.


Alena, orang yang mungkin tau segala hal yang berkaitan denganku, mustahil kalau ia tidak. kenal dengan Irwan. Orang yang membuatku akhirnya menjadi penjual bunga.


'hari ini kau ke toko ya aku ingin bercerita'


setelah itu telponnya kututup dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap.


Setelah memasuki toko, Alena langsung menyerangku. Menyerang dengan pertanyaan bagaimana perasaanku sekarang. Jujur, semenjak Irwan pergi, dunia ku sudah ku rubah. Aku sudah memulai yang baru, membuang semua ingatan tentang dia. Mencoba melangkah tanpa bayangannya. Menjadi perempuan kuat yang bisa melangkah terus walau tanpa dia.


Bertemu dengan Irwan, bukan hal menyenangkan. Bukan hal yang ku inginkan, tapi dia datang. Siapa yang mengundang? Tidak ada. Siapa yang merindukannya? Tidak ada. Tapi kenapa dia datang, disaat ada orang lain yang sedang kuperjuangkan. Siapa lagi kalau bukan Efrian.


"katanya kamu ingin sekali bertemu dengannya In", kata Alena


"dulu Al, tidak dengan sekarang!", jawabku. Sedari tadi aku melihat Erwin memerhatikan kami berdua dari meja dekor. Apa yang ingin Erwin tahu? percakapan kami kah? untuk apa, bahkan ia tidak kenal dengan Irwan.


"kau kenapa Win?" tanyaku gemas


"gak In, aku cuma ingin bilang kalau laki-laki itu. yang datang kemarin....", jawabannya membuatku hanya bisa terdiam.


...***...

__ADS_1


__ADS_2