
Heran melihatku berdiri seperti patung. Lelaki itu menepuk pundakku, setelah kembali dari meletakkan piring kotor ditempatnya.
"ada apa?", suaranya yang berat itu membuatku sedikit terkejut. Aku jalan menuju meja makan besar yang dihiasi vas bunga keramik cantik itu.
"kau dapat dari mana?", tanyaku menunjuk bunga mawar hitam yang kokoh berdiri disana
"dari toko bungamu, katamu kemarin kau tidak mempunyai mawar hitam. tapi waktu datang, mawar hitam itu ada bersama buket bunga yang kau rangkai", jawabnya.
Ku fikir, selama ini dia membeli bunga untuk seseorang. Rupanya, untuk menghiasi rumahnya. Kalau begitu, untuk apa di rangkai segala.
"mau ku antar pulang atau ku pesankan taksi saja?", katanya lagi
"a, a, aku pulang sendiri saja, aku bisa memesan taksi sendiri", setelah menjawab nya aku pergi entah kemana, aku bahkan tak tahu seluk beluk rumah ini. bagaimana ini, dimana pintu utamanya. kataku dalam hati.
"kau hanya perlu lurus saja dan kekanan kau akan menemukan pintu utamanya", jelasnya dari belakangku.
Aku mengikuti yang katanya tadi. Sampai di teras yang cukup luas itu. Aku mencari-cari handphoneku di dalam tas tapi tidak ku temukan.
Tak lama berselang, ada mobil hitam berhenti tepat di depanku.
"kau mencari ini kan?", katanya mengangkat benda kecil ditangan kanannya dan itu adalah handphone ku. Akupun lagi-lagi terkejut. Ingin marah rasanya. Kalau memang ia punya masalah denganku, bukan berarti ia bisa seenaknya menyentuh barang pribadi milikku.
"cepat naik, aku akan mengantarmu pulang, handphone mu mati, sepertinya kehabisan daya",
Mau tak mau ak mengikuti perintahnya. Aku duduk di samping pengemudi dan menutup mulutku rapat-rapat.
"kau suka mawar hitam?", tanyanya menghancurkan keheningan diantara dua orang yang tidak sama sekali dikatakan dekat.
Aku mengangguk.
"mamaku juga", katanya lagi.
"oh begitu", kataku
"tapi segala jenis mawar ia suka, hanya mawar hitam paling berkesan", lanjutnya
__ADS_1
Aku membalasnya dengan senyuman.
"maaf", kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Apakah itu tulus? Tanpa memerdulikannya aku terus fokus pada jalanan. Gerah rasanya, lama-lama bersama dengan orang ini.
"beberapa hari lalu aku memarahi mu"
"baru sadar sekarang?", kataku yang akhirnya membuka mulut.
"ia, aku tidak sengaja, hanya sangat urgent waktu itu", sanggahnya
"ya ya ya, aku memakluminya dan lupakan saja. kalau bisa tidak usah lagi datang ke tokoku", jawabku yang kali ini berbalik ketus.
"tapi, hanya di toko mu aku mendapatkan mawar hitam"
"mawar hitam itu tidak di jual. pegawaiku hanya salah paham saja"
"tapi aku sangat butuh", jawabnya cepat
"tapi aku tidak menjualnya, itu hanya untuk koleksiku", jawabku lagi yang akhirnya menutup pembicaraan menegangkan itu.
...***...
"terimakasih", kataku kemudian
"tunggu", sambil menangkap tanganku ia menghentikan langkahku keluar dari dalam mobilnya. "bolehkah aku terus membeli bunga ditokomu?", tanyanya.
Melihat sikapnya yang berubah dibanding awal kami bertemu. Mungkin aku akan memberikan kesempatan untuknya. Lagi pula ia menjadi salah satu sumber keuanganku. Lumayan bertambah satu pelanggan tetap.
Aku mengangguk, menandakan bahwa aku mengijinkannya. Lalu aku beranjak dari dalam mobilnya dan masuk kedalam toko. Erwin dan Alena sudah ada disana rupanya.
Aku berlalu begitu saja. Ingin segera masuk kerumah dan bebersih. Setelah ini, aku langsung ke Kebun untuk menemani paman Ateng memetik bunga yang siap dikirim.
...***...
"non", kata paman ateng setelah melihatku sudah memegang gunting potong
__ADS_1
"maaf paman, jadi panen sendiri, aku tadi sedang sibuk dengan teman", sahutku.
Paman Ateng ini adalah pegawai satu-satunya di kebunku. Aku tidak membutuhkan pegawai lagi karena aku juga turun tangan untuk memelihara kebun bunga yang tidak terlalu besar ini paling hanya 2 borong saja. Kelebihannya, karena jenis bunga yang ku tanam lumayan banyak. Makanya aku bisa mengekspor bunga-bunga ini selain di jual di tokoku sendiri.
Dari aku kecil, memang cita-citaku punya kebun bunga dan kebun teh. Tapi, sampai sekarang yang kecapaian hanya kebun bunga saja. Untungnya dari beberapa jenis bunga disini, setengahnya bisa di buat menjadi bunga kering untuk di seduh. Salah satunya Chamomile dan Telang, teh bunga andalanku kalau sedang stress atau tidak bisa tidur.
Pecinta teh memang. Akulah orangnya. Beberapa jenis teh tersedia dirumahku. Pagi, Siang, Sore dan Malam. Waktu-waktu minum teh hampir tak terlewatkan. Kecuali beberapa hari kebelakang.
...***...
"kau, kemarin merangkaikan bunga mawar hitam untuknya?", tanyaku pada Alena yang tengah sibuk merangkai bunga pesanan orang.
"kau kan yang menulisnya, aku hanya mengikuti yang ada di tulisanmu, kau sih kemarin seperti orang kesurupan", jawabnya cuek
Berarti aku yang lupa merubahnya menjadi mawar merah. Untuk apa juga, laki-laki menghiasi rumahnya dengan bunga. Aneh! Yang lebih aneh lagi, aku sekarang memikirkannya.
Kembali pada kejadian semalam, ia bersikap baik dan lembut padaku. Seperti berbeda orang. Membuatku terpukau, begitu perhatiannya hingga memanggilkan dokter dan memanggangkan roti untukku.
"selamat datang apa ada yang bisa kami bantu", kataku sambil menatap orang itu.
"aku perlu 1 buket bunga dengan peony saja isinya", katanya seperti orang yang tengah dikejar hantu saja.
"akan ku buatkan", lalu aku berjalan mengambil 5 batang bunga peony indah berwarna pink dengan dauh daunnya sehingga membuat indah buketnya nanti. Dengan cekatan, kurang dari 5 menit buket itu sudah rapi ditanganku dan kuberikan padanya.
Setelah membayar, ia langsung pergi tanpa sepatah katapun. Tumben sekali fikirku. Biasanya ia selalu banyak omong dan yah EMOSI. Tapi, itu benar-benar bukan urusanku.
...***...
Malam ini, dingin sekali.
Aku ingin makan yang hangat-hangat. Kedai pentol bakar tujuanku kali ini. Tidak jauh dari rumah, sehingga berjalan kaki saja aku sudah sampai. Memesan menu yang biasanya ku santap, baso bihun, ter enak. Setelah pesananku itu datang, langsung kulahap sampai habis tak bersisa.
Dijalan pulang, aku mendapati mobil hitam terparkir di depan rumahku. Familiar sekali dengan mobil itu, karena aku sendiri pernah berada didalamnya. Tidak salah, Ef, mobil laki-laki itu. Terparkir dengan lampu rem masih menyala.
Dengan cepat aku berjalan mendekatinya. Kaca hitam mobil ini sangat sulit kutembus apalagi dikegelapan malam. Aku masih mengelilingi mobil ini memastikan bahwa orang di dalamnya baik-baik saja. Namun, apa yang kutemui? Efrian, Ef, Eef entah siapakah dia. Duduk di balik kemudi dengan kepala berada di atas stir. Ku Pikir dia sibuk tapi saat ku buka pintu mobil yang tidak terkunci itu, kudapati Ef sedang memanggil-manggil namaku.
__ADS_1
...***...