
"Frian pulang", suara itu terdengar oleh kami yang memang sudah menunggunya di ruang keluarga untuk sekedar minum teh.
"Sini duduk", sambil menepuk sofa di sampingnya. Mama Ef mempersilakan putranya duduk.
"kau banyak punya kesamaan dengan Indi. Ternyata dia juga suka teh dibanding kopi. Ia suka teh putih, ia suka mawar dan bunga lainnya", terang mama Ef yang tengah mencereweri anaknya yang baru pulang kerja.
Aku hanya tertawa kecil, melihat kehangatan ibu dan anak dihadapanku.
"mama, Frian lebih dulu kenal dengan Indi. Frian sudah tau itu ma", sahutnya. membuatku terkejut. Bahkan selama ini aku tidak pernah mengatakan menyukai apa saja pada lelaki ini.
Aku terus memandangi mereka yang terus bercanda hangat.
"aku mandi dulu ya, setelah itu kita makan dulu lalau aku akan antar kau pulang", katanya padaku dan berlalu meninggalkanku.
"ia mas", jawabku. Walaupun aku tahu, mungkin ia tidak mendengarnya. Tak apa kata 'mas' itu juga keluar secara spontan dari bibirku.
......***......
"Tante, Indi pulang dulu ya. Nanti Indi kesini lagi", kataku setelah bersalaman.
Kami masuk kedalam mobil dan mulai meninggalkan pekarangan rumah itu. Sebenarnya jarak rumahku dan Ef tidak begitu jauh. Sekitar 7-10 menit saja.
"Ef....", panggilku
"mas...", sahutnya kemudian menatapku dengan senyumnya yang membuat jantungan.
"iyaaaa. mas. dengar rupanya"
"yaps", jawabnya
"kebiasaan denger tante selalu panggil mas Frian", jelasku dan pastinya membela diri agar tak malu.
Ia terlihat senyum-senyum dibalik kemudinya.
"tak apa. biasakan saja. bukannya sebentar lagi mau menikah dengan mas Frian?", ejeknya. Ternyata ia juga ingin membahas perkataanku tadi malam, saat ingin mengusir Irwan.
"ih, apaan sih Ef"
"Jujur saja In, jadi kau mau kita menikah? lagipula kaukan harus bertanggungjawab", katanya yang membuat wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus.
Aku sengaja tidak menjawab pertanyaanya. Selain karena tidak ingin membahas hal itu juga karena ia pasti akan terus mengejekku.
Sesampainya dirumah, aku melihat toko masih ramai. Padahal waktu tutup sudah sejak 30 menit yang lalu.
Efrian mengikutiku berjalan menuju arah toko. Kulihat ia membalik tag closed di pintu
"pantas saja", katanya.
"sibuk banget mas, jadi lupa", sahut Erwin
__ADS_1
"ada yang bisa kubantu?", tanyanya.
Aku menggeleng dan menyuruhnya untuk duduk disampingku yang sudah duduk dibalik meja kassa. Ia pun menurut dan duduk disana.
Alena dan Erwin yang bertugas membuatkan buket untuk pelanggan. satu demi satu pelanggan sudah ditangani. Dibantu Ef, aku merasa lebih ringan.
"makan bareng?", tanyaku pada Erwin dan Alena. Mereka menyetujui. Walaupun tadi sudah makan dirumah Ef, tapi aku yakin dua karyawanku ini belum makan sejak tadi. Walaupun hanya pizza yang di antar kerumah, tapi itu sudah cukup untuk mereka makan dengan lahap.
Aku dan Efrian hanya jadi penonton saja melihat dua orang ini balapan menghabiskan pizza yang ku pesan.
"aku pulang ya, kasian mama dirumah sendiri", kata Ef yang memang harus pulang dan istirahat.
Aku mengangguk lalu berdiri, bersiap mengantarnya hingga depan pintu.
"Hati-hati mas", kata Alena dan Erwin bersamaan.
Diteras Efrian berdiri dihadapanku. Diam, menatap mataku penuh makna.
"Indira", katanya menyebut namaku lembut.
"um", jawabku
"jadi, gimana tentang pertanggung jawabanmu?", tanyanya
"kau serius tentang itu?", jawabku dengan pertanyaan pula. Karena ku fikir ia hanya bercanda.
"kalau kau serius akan serius juga", jawabnya.
"kalau begitu, bagaimana dengan mas?", tanyanya lagi
"panggil mas?", tanyaku pastikan
Ia mengangguk. Kini tatapannya makin tajam, dalam dan penuh harapan. Ia mulai maju selangkah lebih dekat. Kemudian meraih tanganku, ia masih menunggu jawabanku yang tak kunjung keluar dari mulut.
"aku berharap yang ini kau mau ya In, kalau yang tadi, kamu boleh pertimbangkan dulu. mungkin kau terkejut dan aku juga ceroboh, mengatakannya tidak diwaktu yang tepat", bibirnya memberikan senyum tipis dan lirih. Matanya masih penuh pengharapan. Tangannya masih menggenggam erat dan kini ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningku. Ada beberapa detik aku merasakan dan menerima kehangatan itu.
"In, aku dan Erwin pulang dulu ya", kata Alena yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu, tentu saja dengan Erwin lalu menyaksikan adegan tadi.
"win.. kita itu... katanya.. anu.. ehm eee.. eeee", kata Alena kemudian kembali mendorong Erwin masuk.
"oooh, katanya masih lapar win", tegas Alena dari dalam. padahal aku tahu kini mereka sudah berada dibalik jendela. Tepatnya di balik Gorden. Mencoba mengintip kami. Sayangnya Efrian menyadari hal itu dan kini ia benar-benar pamit pulang.
...***...
Malam ini kepalaku dipenuhi oleh kata-kata Ef. Mereka selalu keliling di kepala. Pertanggung jawaban. Bukankah saat itu tidak ada yang terjadi?
Karena aku hanya kelelahan akibat menangis bukan karena mabuk. Jadi, aku ingat kejadian waktu itu.
'aku sudah sampai rumah ya In, jangan lupa bebersih banyak kena debu', isi pesan singkat yang dikirimnya padaku.
__ADS_1
'ok siap'
'mas', balasku kemudian.
Lagipula Erwin dan Alena juga memanggilnya mas. Menurutku pun menyetujui permintaannya bisa aku wujudkan dengan mudah
...***...
"pagi In", sapa Alena yang baru saja datang.
"kau dengan Ef", ia kemudian mendekatkan jari telunjuk dan tengah nya.
Aku tertawa lepas. Lucu sangat lucu. Kalau sampai aku harus jadian dengan Efrian.
"halah", kata Alena "jangan gitu In, nanti malah suka loh!", tegas Alena. Tapi, aku masih belum yakin. Hatiku masih terselip tidak. Tiba-tiba, ada sebuah telepon masuk.
"iya, ada apa mas?", tanyaku pada orang di ujung sana
"oh bisa mas, 30 menit? Bisa sih mas, ambil sendiri kan? oke"
Setelah itu aku menutup teleponnya sedang orang di ujung sana masih sempat mengatakan 'nanti sekalian aku bawain cemilan ya', kalimat itu yang terakhir kudengar.
"siapa In?", tanya Alena
"siapkan 2 buket bunga, apa saja yang terbaik menurutmu Al", tanpa menghiraukan pertanyaannya aku meminta ia untuk membuatkan buketnya.
"oh iya, 30 menit lagi di ambil", lanjutku. kemudian ku tinggal ia ke kebun bunga belakang toko.
"ah, gini doang mah 5 menit juga selesai", sahutnya yang sudah mulai memilih bunga apa yang akan di rangkainya.
Aku mulai luluh dan terus memikirkan orang ini. Orang yang selalu membuatku jantungan. Apa aku harus menerima, bertanggung jawab? Ah, perasaan ini? Bingung tapi juga senang.
"Indi, Ef datang", panggil Alena dari dalam toko.
Aku yang sengaja menghindarinya, pura-pura sibuk dan tidak mendengar teriakan Alena. Dan sengaja sibuk dengan tangkai-tangkai bunga di belakang.
"In, dibawain cookies", teriak Alena lagi. Aku masih pura-pura tidak mendengar dan sibuk dengan urusanku. Sampai aku mendengar suara seseorang menyapaku.
"masnya dateng malah di cuekkin", katanya
Dengan sigap dan cakap aku menutup mulutnya. Karena Alena pasti sedang menguping. Kebiasaan.
"udah ayo aku antar, bunganya udah kan?", tanyaku
"mas...", jawabnya sambil jalan dengan sedikit dorongan dari ku.
"iya iya mas", kataku
"apa?", tanyanya lagi dengan wajah tengilnya.
__ADS_1
"mas...", sahutku "MAS FRIAN", lebih tegas dan lengkap.
"haha, oke bye In, ohiya jangab lupa dimakan!", serunya. Menyebalkan. Bukan. GEMAS.