
"ciye", ejek Alena
"ternyata dia yang telepon? Bunga buat siapa sih?", lanjutnya
Suaranya kurang jelas, karena mulutnya penuh dengan cookies dari Ef.
"mas yang bawain, dimakan-dimakan, silahkan!", sambungnya lagi kali ini tertuju pada Erwin yang benar-benar baru datang.
"mas.. Frian?", tanyanya.
"benar"
Aneh, kenapa Erwin bisa langsung menebak kalau itu dari Efrian. Ia juga menyebutnya 'Frian', dimana panggilan itu hanya untuk orang terdekat Efrian saja.
"kok kamu tau itu dari Ef?",tanyaku penasaran
Erwin, lagi dan lagi, selalu terkejut kalau mendapat pertanyaan tentang Efrian. Ada apa dengan Erwin? Apa Erwin tidak suka dengan Ef atau...
"em. tadi waktu di jalan aku liat mas Efrian beli cookies deket rumahku. sebenarnya hanya melihat mobilnya saja, bukan orangnya", jelas Erwin.
Hmm.. Masuk akal sih, karena dekat rumah Erwin memang banyak toko-toko.
Oke, keresahan dalam hatiku sudah mulai terkontrol. Tertinggal satu perasaan terhadap Efrian. Mari kita mulai kehidupan baru. Kita mulai jalani dengan Efrian. Kita coba.
"In"
"iya, mas Frian", sahutku. Sebenarnya latah karena kaget. Spontan saja yang keluar adalah kalimat itu.
Sebenarnya dalam fikiranku memang banyak problem. Efrian adalah salah satu yang paling menyita. Hebat sekali dia. Sampai bisa membuatku kecanduan memikirkannya.
"eh maaf Al", sergapku sebelum Alena menyerocos dengan mulut lebarnya. Aku lihat ia menggelengkan kepalanya kiri dan kanan lalu melempar tawa kecil.
Dalam hati Alena pasti sedang mengejekku. Aku yang akhirnya menjilat ludah sendiri. Ya, karena aku yang awalnya sangat tidak suka dengan Frian. Sekarang jadi memikirkannya berlebihan.
"jangan gitu natapnya In", katanya yang rupanya sadar sedang ku perhatikan. "lagian, kau itu terlalu gengsi untuk mengakui kalau kau juga ada perasaan", ungkapnya
Apa benar, aku terlalu gengsi mengakui perasaan ini. Bisa jadi ini bukan perasaan tapi hanya iba atau empati, simpati karena keadaan.
Anehnya, aku yang ketika berada disampingnya, merasakan satu hal yang pernah hilang, kosong dan kini terisi karena kehadirannya. Bahkan selama aku bersama Irwan pun, kekosongan itu tidak juga terisi.
"Al", panggilku pada sahabatku itu.
"Kenapa In?", tanyanya
__ADS_1
"kalau aku dengan Ef, gimana Al?", tanyaku meminta pendapatnya yang kadang di luar pemikiranku.
"yaaaaa gak apa In. Jalani saja yang membuatmu nyaman", jawabnya.
Itu dia, hal yang membuat nyaman. Tanpa kusadari, aku lumayan nyaman berada didekat Efrian.
...***...
Beberapa hari ini, aku memerhatikan Erwin yang sempat berlagak aneh. Seakan ia tahu semua cerita tentangku, lewat Alena yang kadang suka bablas. Kadang juga tentang Efrian. Bahkan, aku memerhatikan Erwin yang menunjukkan ekspresi tak suka dengan kehadiran Irwan.
"Al, hari ini nginap dirumah ya!", pintaku pada gadis yang tengah sibuk dengan hitungan pembukuan dihadapannya.
Menurutku, mungkin bisa dapat beberapa informasi tentang Erwin yang memang dekat dengan Alena.
Kring ... Tanda ada seseorang yang membuka pintu toko.
"hallo nona...nona..", sapa si periang itu.
Siapa lagi kalau bukan mas budi. Tanggal 14, tanggal yang tidak pernah absen di kalender mas Budi.
"mau pilih sendiri atau saya yang pilih?", tanyaku
Ia tidak menjawab, namun langsung berjalan maju berkeliling mengambil tangkai demi tangkai bunga Favoritnya. Ups, favorit istrinya.
"masih galau In?", tanyanya saat memberikan bunga itu.
"In, aku bayarnya bulan depan boleh?", tanynya sedikit memohon
Ingin tertawa rasanya. "Boleh mas Budi", jawabku sambil tertawa.
"bawa aja mas Budi. Indira lagi panen bunga dihati, jadi sedang bagus moodnya", timpal Alena dari balik meja kassa.
Mas Budi kompak tertawa dengan Alena. Padahal alasanku bukan itu. Melainkan ucapan terimakasih untuk mas Budi yang membantuku berfikir, juga karena ia selalu beli bunga disini.
Tak lama, setelah mas Budi pergi. Terlihat mobil Frian yang baru saja parkir dihalaman rumahku. Ia terlihat turun dan berjalan menuju toko.
"hay", sambutku.
Ia sudam melihat dan lalu mengabaikanku begitu saja. Kulihat ia mendatangi Alena dan minta dibuatkan satu buket bunga. Entah untuk siapam Siapa yang perduli, kan aku juga bukan siapa-siapa. Apalah artinya aku.
Setelah membayar ia membawa buket bung itu dan sedikit berbincang dengan Alena. Aku tak bisa mendengar apa yang ia bicarakan. Pastinya hal yang menyenangkan, terlihat dari ekspresinya.
"makasih", katahya saat melewatiku
__ADS_1
"ya, sama-sama", dengan ketus aku membalas ucapannya.
"In, kita gak lembur kan?", tanya Alena tiba-tiba.
"In, aku sedang ada urusan. Jadi tidak bisa lembur kalau seandainya harus lembur", tambah Erwin.
Wah kompak sekali dua manusia ini.
"Ih, apaan sih, gak ada yang minta lembur guya. Lagipula aku ingin girls time dengan Alena malam ini", jawabku
Alena dan Erwin saling lihat satu sama lain. Dengan wajah cemas Alena mencoba berbicara "Ehm, itu, In, aku nginap dirumahmu, tapiiii, aku ada urusan dulu ya. setelah itu aku kerumahmu, janji, sumpah",
Kini, secara bergantian aku menatap Alena dan Erwin. Kecurigaanku semakin menjadi, jangan-jngan Alena dan Erwin sedang dekat.
"Kalian ingin pergi bersama?Jujur!", tanyaku
"Engg.....", sahut Erwin yang langsung dihentikan Alena dengan tangannya yang mendarat tepat di bibir Erwin.
"iya... hehe... maaf ya In, aku dan Erwin memang berniat gak mau ngasih tau siapapun. Tapi berhubung kau teman dekatku, Jadi aku kasih tau aja deh, kalau aku memang sedang dekat dengan Erwin", jelasnya.
"iyaaa kaaaan win?", sambungnya sambil mengguncang tangan Erwin demi mendapatkan validasi.
"i..i..iyaa In", jawabnya gugup
"haha... ya sudahlah, tapi janji ya Al, nginep sirumahku", peringatku sekali lagi.
...***...
Setelah menutup toko, Alena menumpang mandi dirumahku dan Erwin masih dengan santainya menunggu diruang tamu. Sedang aku sibuk dengan bahan makanan untuk memasak.
"eh.. eh... In", teriak Alena mengejutkanku. "jangan masak... aaaku dan Erwin tak akan lama, kau kubelikan makan diluar saja ya...", lanjutnya
"ih, apaan sih Al. aku lagi pengen masak", jawabku kesal sekaligus bingung melihat tingkahnya
"pokoknya jangan masak, kalau kau masak, aku tidak jadi menginap disini, aku ingin cerita banyak dan meminta pendapatnya.
"oke fine", jawabku meninggalkan meja dapur
"kalian ingin kemana sih?", tanyaku pada Erwin yang tepat disampingku
"kemana aja In, sebentar kok, gak lama!''
Akupun mengangguk dan mulai sibuk dengan gadget di tanganku. Melihat apa yang terjadi di dunia luar perbungaan. Maklum penjual bunga, hanya tahu jenis bunga, kebun bunga, dan melayani pelanggan yang membeli bunga. Tak berapa lama, Alena pamit dan meninggalkan ku sendiri disini.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar. Aku melangkah kearahnya dan mengintip melalui jendela. Kulihat mobil Frian terparkir. Sudah pasti ia yang datang dan mengetok pintu. Segera aku menuju arah pintu untuk membukanya.
"hai..", sapanya