
"hai...", sapanya
"ha......i', jawabku sedikit terkejut
"sibuk?", tanyanya kemudian
"tidak!"
"mau tidak pergi denganku, sebentar saja?", tanyanya lagi
"kemana?"
"udah makan?", aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.
"rencananya mau ajak makan sih", katanya
"makan?", memastikan saja apa yang kudengar tadi tidak salah.
"iya.. itupun kalau kau mau, kalau tidak juga tak apa", jelasnya
Aku diam beberapa saat. Sebenarnya hanya ingin membuatnya cemas. Dan berhasil, sangat tergambar jelas di wajahnya.
"hm.. 5 menit", jawabku kemudian berlari menuju kamar dan mengganti pakaian tidurku.
Kalau boleh jujur, menerima tawarannya hanya karena iseng. Sendirian dirumah, ditinggal Alena yang berduaan dengan Erwin. Lagipula, kebetulan aku juga sedang lapar.
Malam ini aku memilih dress biru, ya hampir senada dengannya. Berdandan sedikit, karena kulihat ia lumayan rapi, daripada aku terlihat jomplang. Memakai tas berwarna putih dengan flatshoes yang ada wedgesnya sedikit.
Setelah keluar kamar, aku melihat Efrian tengah memerhatikanku dari atas hingga bawah.
"Sudah siap", suaraku memecahkan pandangannya.
__ADS_1
"oh.. iya..", jawabnya gugup, lalu mengambil beberapa barang miliknya diatas meja.
Aku berjalan dibelakangnya dan mengunci pintu rumah. Anehnya, Frian bersikap manis malam ini. Sampai-sampai ia membukakan pintu mobil untukku. Beberapa menit diperjalanan, kami sama-sama membeku.
"cantik", katanya tetiba. Aku paham ia memujiku. Namun, aku tidak ingin terlihat ke GR an. Jadi, aku diam saja sampai ia mengulanginya dan menyebutkan namaku.
"In, kamu cantik", sekali lagi dan kini ia menyebutkan namaku.
"makasih mas", sahutku malu-malu. Sudah tidak ada kata lain yang bisa keluar dari bibirku.
"sudah bisa manggil mas ya sekarang?", tanyanya
Aku bingung, sedang merasakan apa sekarang. Ada rasa senang, ada juga bingung ada juga malu. Akhirnya kami kembali membisu sepanjang jalan.
Lumayan terkejut ketika tempat yang kami datangi adalah resto yang lumayan mahal dan mewah.
"bukannya harus reservasi dulu ya?",
"Aman, milik temanku", wah enteng sekali, pantas saja ia memilih tempat ini Setelah mengatakan itu, ia segera turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
Kamipun berjalan menuju pintu masuk utama. Disambut oleh seseorang yang dari tadi sudah terlihat menunggu.
"Selamat malam, selamat datang pak Efrian", katanya dan mengarahkan kami masuk menuju tempat kami duduk.
Sudah berjalan melewati meja demi meja, tidak juga aku menemukan meja kosong yang harusnya disediakan untuk kami. Hingga kami berhenti tepat didepan pintu VIP dan dibuka oleh pelayan itu. Apa yang kulihat?
Meja yang sudah di dekorasi sedemikian rupa indahnya. Didominasi dengan warna putih gold dan bunga mawar putih yang ada dimana-mana. Tapi, ada satu sudut yang mencuri perhatianku. Ada satu buket bunga yang sangat familiar dimataku. Setelah kudekati, benar, tidak salah lagi. Buket bunga itu adalah Buket bunga yang Frian beli di tokoku sore tadi. Tanpa sengaja aku tersenyum sendiri. Bahagia mendapatkan perlakuan seperti ini dari seseorang, yang memang belum pernah kudapatkan.
"duduk?", tanyanya membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya dan duduk dikursi yang sudah ditariknya untukku
__ADS_1
"ini?", tanyaku sambil menunjuk buket yang ada di hadapanku.
"aneh ya, tukang bunga yang punya kebun bunga malah dikasih bunga?", tanyanya putus asa.
"ahahaha, aku suka mas, apalagi kalau belinya di tokoku dan di hadapanku", jawabku ingin mematahkan keputusasaannya.
"sengaja"
Aku hanya menatapnya dan menaikkan alisku sebelah. Kulihat ia yang mulai panik melihat ekspresiku.
"agar kau berfikir macam-macam.. tapi, rupanya aku berhasil"
Aku menarik nafasku panjang .. "iyaaaaa, itu benar", cemburu dan overthingking adalah jalan ninjaku.
"makan?", tanyanya tanpa perdulikan jawabanku tadi. Langkahnya untuk tidak melanjutkan pembahasan tadi adalah yang terbaik.
Dengan lahap, kami menghabiskan makanan yang rupanya juga makanan kesukaan kami, lagi. Begitulah, untuk yang kesekian kali, ada hal yang sama diantara kami.
Setelah selesai makan, Frian mengajakku untuk mengelilingi restauran yang katanya Efrian memiliki sebagian saham tempat ini. Kami memilih kehalaman belakang resto yang tersambung dengan area kolam renang. Aku sangat mengenali tempat ini. Bagaimana tidak, tempat ini yang sering dijadikan venue pernikahan semi outdoor.
"kau pasti tahu tempat ini sering dijadikan tempat untuk acara pernikahan?", tanyanya.
Aku mengangguk disampingnya.
"Dulu waktu kecil aku sering bilang, kalau aku ingin menikah ditempat terbuka dengan tamu yang tidak banyak hanya teman-teman saja. kalau bisa dipinggir danau atau kolam", sambil mengajakku duduk di kursi taman. Mendengar kalimatnya, aku jadi teringat pernyataan teman kecilku yang juga punya keinginan yang sama. Bahkan sangat sama sampai sedetail itu kesamaannya. Karena temanku punya keinginan seperti itu, membuat aku juga punya keinginan yang sama.
"kalau kau, ingin pernikahan yang seperti apa?", tanyanya.
Dibawah redupnya lampu taman, keheningan malam yang menyapa dan hembusan lembut angin, aku mengingat kembali seperti apa keinginanku. Tapi, di ingatanku hanya ada kata demi kata dari teman kecilku itu.
Jujur, aku tidak tahu ingin menjawab apa. Aku tidak ingin memberikan harapan yang tak pasti kepadanya, seandainya aku mengatakan punya keinginan yang sama.
__ADS_1
"Jujur, belum tahu sih mas, belum kepikiran", itulah jawabanku akhirnya.
Ia menatapku sejenak lalu mengangguk dan kini menggenggam tanganku mengajakku beranjak dari tempat itu.