KEMBALI (JATUH CINTA)

KEMBALI (JATUH CINTA)
Meminta


__ADS_3

Aku berjalan menuju toko. Masih disana, Irwan, laki-laki tak tau malu itu. Sudah membuat suasana yang semula baik-baik saja menjadi kacau. Lalu membuat suasana yang sudah kacau makin menjadi kacau.


Bahkan menatapnya saja aku sudah muak. Apalagi berbicara dengannya.


Bertahun-tahun, mencoba lepas dari bayanganya. Kini datang tanpa rasa bersalah. Merusak apa yang sudah ku bangun dari awal.


Membuatku semakin benci dan benci.


Benci karena ia meninggalkanku, lalu benci karena ia membuat kesalahpahaman antara aku dan Efrian.


"in", cegatnya ketika aku sudah dekat dengannya.


Aku tahu, di belakang sana masih ada mobil Efrian. Tentu saja Efrian masih memerhatikanku dari jauh. Tak mungkin aku mengobrol dengannya disini.


Sikap acuhku, membuat Irwan langsung menarik tanganku. ku kibaskan hingga terlepas dari genggamannya.


"kalau kau mau bicara denganku datang ke gazebo kebun bunga jam 6 sore! Sekarang pergi!"


Setelah mengatakan itu, Alena datang dan juga menyuruh nya untuk pergi. Kakiku lemas, seakan semua darah naik ke kepala. Menahan amarah yang harusnya kuluapkan saja.


Menahan rasa takut, karena tahu di awasi oleh Efrian.


Sampai detik ini, yang masih ku bingungkan. Efrian, tak jua membuat keputusan. Apakah hubungan ini. Apa hanya sekadar mamanya yang butuh aku atau dia pun sama. Aku yang juga tak mengerti mengapa terus menerus mau dan suka digantung olehnya. Perasaan yang terus mengalir tanpa muara. Entah tanpa muara atau belum menemukan muaranya.


...***...


"hey, you okay In?", tanya Erwin. Mungkin karena ia melihat wajah ku yang memerah atau tanpa ekspresi


"dia dari tadi sudah disini. memaksa menunggumu padahal sudah ku suruh pergi", jelasnya


Tak lama Alena datang membawakanku segelas air mineral.


"maaf ya In, aku baru aja sampai setelah mengantrkan bunga-bunga", sahut Alena dengan penuh sesal. "lain kali kalau aku liat dia pasti ku usir In", tambahnya lagi.


Air mata yang ku bendung, pecah. Membanjiri keadaan yang sulit kulewati.


"win, al, sumpah, aku bingung banget!! Efrian, gakpunya kepastian, aku gaktau tempat itu ia sediakan atau tidak. selama ini dia diam. diam juga cemburu setelah Irwan datang. Dia gak bilang cemburu tapi sikapnya berubah. aku gak bisa lewatin ini al. Irwan datang merusak semuanya. semua yang ku perban dengan susah payah di koyaknya lagi", Kucurahkan semua perasaanku pada mereka berdua.


Aku mau mereka mengerti, aku tak sekuat yang mereka lihat. Aku tak sebahagia yang mereka lihat. Aku yang rapuh menjadi makin rapuh.


Ditengah derasnya kucuran air mata. Suara bel pintu berbunyi. Aku segera menyeka air mata yang bersisa di pipiku.


"eh maaf, maaf", kata orang itu


"nona kenapa?", tanyanya kemudian


Budi, tumben sekali, datang kesini bukan tanggal 14.


"gak apa, mas Budi mau pesan apa?", sahut Alena langsung.

__ADS_1


"seperti biasa tapi 2 ya", jawabnya. tumben sekali, tapi itu bukan urusanku.


"nona indira, bisa bicara sebentar?", tanyanya padaku.


Aku mengangguk dan mempersilakannya untuk duduk di bangku taman belakang toko. Aku paham, ia pasti ingin menghibur ku. Budi, orang ini yang begitu sayang dengan istrinya. Selalu bercanda dan membuat riang pagi hari tanggal 14 ku.


"kenapa In?", tanyanya.


"tak apa", jawabku singkat


"i know i know siapa tau bisa membantu", katanya lagi. Kedengaran sangat kepo tapi juga perduli


"mas, kalau kita sedang memperjuangkan satu hal yang baru, tiba-tiba ada hal lain dari masa lalu yang muncul. kita sadar, kita ada di masa sekarang, sekalipun hal lalu itu muncul lagi, kita pasti tau kan harus memilih yang mana", jelasku


"tergantung in", jawabnya.


Tergantung apanya? Aku sungguh tak paham dengan kata itu. Apakah Budi, ingin aku mempertimbangkan kehadiran Irwan.


"semua orang punya masa lalu. mana yang ingin dia pilih itu terganung sini", sambil menunjuk dadanya. "berat kemana, masa lalu selalu punya ruang di dalam hati seseorang karna ia pernah singgah. masa sekarang? apakah sudah punya ruang atau baru punya pintu yang terbuka? tanya lagi pada dirimu sendiri in. ruang itu sudah kau siapkan atau belum?", jelasnya


Aku masih agak sedikit tidak paham. Kusipitkan mataku sembari mengernyitkan dahi ke arahnya.


"jadi gini in, masa lalu itu pernah singgah di hatimu. ibaratnya ini vas bunga. waktu awal kamu beli vas ini. kosong, gak ada air gak ada bunga", katanya sambil mengangkat vas yang tadinya berdiri kokoh diatas meja. "lalu kau isi air, kau taruh bunga, setiap 2 hari atau 3 hari sekali kau ganti bunga yang baru air yang baru. apakah sisa air yg lalu bersih? atau masih menempel sedikit di dinding vas? atau ada bagian dari bunga yang tersisa dalam vas? kita gak tau In. tapi pasti ada. bedanya. vas bunga ini bisa kamu cuci bersih pakai sabun, bilas pakai air, bahkan bisa dikeringkan. tapi hati? enggak In. sebersih-bersihnya kamu mencuci. sekuat tenaga kau menghilangkan bekas lukanya itu akan selalu ada. bahkan bukan hanya bekas luka tapi bekas suka nya pun pasti ada"


Aku masih mencoba mencerna kalimatnya. Ia menatapku dan mengembalikan vas yang ia pegang ke tempat semula.


"kau cari benar-benar In, apakah ada ruang dihatimu yang kamu siapkan untuk yang baru dan apakah ada ruang tersembunyi di hatimu yang pernah jadi tempat persinggahan masa lalumu", kembali ia mengingatkanku


"pilih mana yang membuatmu bahagia!", singkat jawaban itu yang aku tunggu.


Jawaban yang meyakinkan aku, menuntun ku untuk memilih mana yang harus di pilih.


"mas, ini bunganya!!", kata Erwin membawa 2 buket bunga di tangannya.


Mas Budi mengeluarkan dua lembar uang 50.000an dan memberikannya pada Erwin. Namun kularang.


"bawa aja mas, itung itung bonus, gakpernah kasih bonus sama mas budi", kataku


Ia tertawa dan membawa bunga serta uangnya satu lembar. Selembarnya lagi sekarang ia berikan padaku.


"yasudah kalau gitu, ini buat beli coklat, supaya tak galau lagi nona!", katanya dan pergi meninggalkan ku.


"ehm win, tutup 15 menit lagi ya, hari ini kalian istirahat saja", jelasku kemudian berjalan menuju rumah yang berada tak jauh dari toko bunga.


...***...


Jam dinding menunjukkan pukul 6.


Kulihat toko sudah tutup dan sepi.

__ADS_1


Suara bunyi kayu yang khas. Pasti dari pintu depan.


"in", katanya sudah berdiri didepan ku. Sesaat setelah aku membukakan pintu untuknya.


"a. a. ada apa?", tanyaku gugup. Bagaimana tidak, bukan ia yang aku tunggu. Apa yang akan terjadi kalau ia memergoki Irwan datang kesini menemuiku.


Kau salah waktu Efrian.


Benar saja. Belum terjawab pertanyaanku. Irwan kini ada tepat dibelakang Efrian.


Efrian menoleh ke arahnya dan bergantian ke arahku.


"aaku jelasin nanti, masuk dulu", aku memerintahnya sekaligus menarik tangannya. Tak mau kejadian kejar-kejaran itu terjadi lagi. Kali ini lebih dulu ku amankan ia.


"aku harus ngomong sama Irwan, kau bisa menunggu ku disini kan?", tanyaku.


Efrian hanya menatap Irwan dengan amarah, tanpa menjawab sepatah katapun. Aku kemudian berjalan menuju Irwan dan mempersilakannya ke arah kebun bungaku.


Baru saja melangkah, Efrian menarik tangan ku kencanh hingga aku terhempas ke dadanya dan segela di peluknya.


"bicara disini saja!", katanya kemudian


Aku menatap Irwan, dari tatapannya ia mengiyakan permintaan Efrian. mu


Kami duduk tegang di sofa. Padahal sudah ku minta untuk buatkan sofa yang empuk sangat. Namun, keseganan ini membuatnya keras seperti duduk di atas kayu ulin.


Kami bertiga saling tatap, bergantian. Namun, tatapan Efrian lah yang paling menakutkan. Sampai aku tak sanggup untuk lebih lama lagi menatapnya.


"hanya diam?", tanyanya kemudian. Membuyarkan semua keheningan sejak 30 menit yang lalu.


"maaf, mau minum apa?", tanyaku mencairkan suasana.


Efrian lalu menatapku sinis. Seperti ingin menerkamku. Kurasa ia berfikir aku menunda-nunda waktu. Acuh akan itu, aku berjalan menuju minibar rumahku untuk mengambil barang segelas dua gelas air minum. Pastinya untuk disuguhkan.


"kau, langsung saja!", tegas Efrian kini kepada Irwan.


Irwan kemudian menatapku tajam. Aku membalas, bergantian dengan melihat Efrian yang sudah mulai naik pitam.


"i...i...in", ucapnya, setelah bibirnya tekatup begitu lama. Walaupun terbata, namun ia menyebutkan namaku.


"a.a.a aku, minta maaf, atas, yang, atas semua yang terjadi", ungkapnya.


Aku hanya bisa diam. Karena tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan.


"aku, aku... aku tau aku yang ninggalin kamu, aku yang pergi, gak perduli bagaimana kamu, aku sadar, mungkin selama ini kamu mencoba untuk menyembuhkan lukamu sendiri tapi kali ini aku datang lagi. Bukan hanya sekedar ingin meminta maaf, tapi aku...."


"katakan cepat, bertele-tele", potong Efrian yang benar-benar sudah memuncak.


"aku ingin memintamu, kembali dan menjadi pasangan ku sampai aku gak mampu menjagamu lagi"

__ADS_1


-


__ADS_2