KEMBALI (JATUH CINTA)

KEMBALI (JATUH CINTA)
Dulu


__ADS_3

Aku terkejut mendengar pernyataan Irwan. Saat ini bukan hanya kakiku yang lemas, tapi seluruh tulangku, otot ku semuanya terasa tak berfungsi. Lunglai, tak punya tumpuan.


Mataku kosong, air mata mengalir.


Dengan cepat Efrian menangkapku sebelum terbentur ke lantai. Efrian membawaku duduk di sampingnya sambil dirangkulnya erat.


Aku masih melihat Irwan yang duduk lalu menunduk. Terlihat menyesali apa yang sudah berlalu.


Dulu aku menunggumu yang tak kunjung datang. Menunggumu patah hati dengan perempuan itu. Menunggumu kembali pulang kepadaku. Merengek, minta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.


Dulu sekali, saat aku masih bodoh. Saat aku belum membuka mataku untuk melihat begitu banyaknya laki-laki lain di dunia ini yang jauh lebih baik darimu. Sekarang dengan mudahnya kau memintaku untuk kembali.


Telapak tangan Efrian yang lumayan besar terasa mengusap punggungku. Memberikan rasa nyaman dan aman. Kudengar detak jantungnya berpacu dengan waktu. Kurasa nafasnya yang berat. Ia marah? Namun ia diam.


#Flashback


"*l*ucu ya, mau deh, suatu saat nanti, aku punya kebun bunga yang luas, dengan bunga yang banyak, aku bakal buat kamu jadi tukang kebun ganteng yang jadi daya tarik perempuan-perempuan yang datang ke kebun bunga aku. trus kamu tawarin mereka, jual nya mahal aja pasti di beli", kataku saat angin sore menemani kami berjalan menyusuri taman bunga yang lumayan luas ini.


"eksploitasi pasangan ya namanya!?", jawab Irwan yang kini tengah memelukku dari belakang.


Setelah itu kami tertawa bersama. Menghabiskan sore dengan langit biru dan matahari jingga yang siap berpamitan untuk pulang.


'selamat malam princess', pesan masuk yang isinya begitu menggelikan. Bukan, tapi romantis. Perempuan mana yang tidak suka, kalau dirinya di anggap princess oleh lelakinya.


'gak balas ya? Aku di depan nih!", katanya lagi lagi mengirimi pesan.


Sontak aku bangun dari kasur empukku. Membukakan pintu untuknya. Daaaaan, apa yang terjadi?


Ia berdandan rapi sekali. Seperti ingin ke pesta. Sangat jauh berbeda denganku, pajama ku, rambut acak-acakan dan pasti wajah lempeng tanpa riasan.


"*ah lamaaa, cepet ganti baju sana!", sambil mendorongku ia menyuruh mengganti pakaian. Sejujurnya aku masih belum paham. Tapi kuturuti saja kemauan nya.


Setelah berganti, aku keluar kamar dan menemuinya. Sorot matanya mengatakan sesuatu bermakna tapi bibir nya tak mampu berkata.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup jauh. Kami sampai di satu tempat. ini Villa, didepannya ada pagar kayu tinggi, dengan pintu masuk cukup untuk 2 orang. Setelah masuk, didepan pintu terdapat halaman yang tidak begitu luas, ada kolam renang dan gazebo besar di ujung sana.


Temaram cahaya malam itu. Bintang bersinar namun tak mampu menerangi pemandagan depanku.


sepanjang pinggir kolam ada lilin kecil yang apinya enggan mati walau tertiup angin.


Kulihat dari jauh. di Gazebo itu ada dua kursi dan sebuah meja yang terisi mawar putih hitam merah di atasnya. ada lilin berwarna merah muda dengan api menyala. Lalu sebotol white wine lengkap dengan gelasnya.


"waw", kataku lalu menggandengnya dan berjalan sedikit lebih cepat untuk bisa menggapai gazebo itu.


"ini semua??", aku menunjuk dan melihatnya. Ia mengangguk tanda bahwa ia yang menyiapkan ini semua untukku. Untuk kami.


Ia sangat tau aku suka mawar terlebih mawar hitam. Ia menyisipkannya di antaranya 2 warna mawar lainnya.


"in. mungkin candle light dinner terlihat begitu klise, jadul, tapi kalau ini romantis dan kamu suka, aku bisa buatkan setiap malam untukmu. In, dari sekian lama perjalanan kita. aku yang sebelumnya belum berani bilang kalau aku suka. malam ini akan aku nyatakan. kemarin aku sempat bersalah. meninggalkanmu tanpa status apa-apa. padahal cukup lama kita berjalan bersama, aku akui aku yang bodoh. tapi kali ini, aku gak ingin kebodohan itu terulang dan aku takkan melepaskanmu", kata-kata nya menyentuhku. Ia memberikan buket bunga itu. menandakan ia memberikan cintanya.


Keputusan ku adalah menerimanya. Karena itu yang ku tunggu sejak lama.


Kami menghabiskan 1/4 malam itu bersama. Bahagia dengan status yang bisa di pertanggung jawabkan.


Tiga hari, kemudian empat hari. Masih tak berkabar juga. Ia mulai mengingkari janjinya lagi.


Orang tuaku menanyakan kabarnya. Sudah lama tak bertamu kerumah. Biasanya membawa tawa dan cerita sehari-harinya.


Berkali-kali kuhubungi orang tuanya. Bukan mendapat jawaban malah mendapatkan pertanyaan 'apakah kalian berdua baik-baik saja?'.


Jarak yang begitu jauh membuat orang tuanya tidak selalu bisa mengawasi Irwan. Bisa dibilang ia tinggal sendiri. Sesuka hatinya mau kemana pun.


Aku tak punya jawaban lain selain bilang semua baik-baik saja.


Beberapa hari setelahnya. Kulihay teman Irwan yang juga teman ku memposting sebuah foto.


Ada Irwan di dalam foto itu.

__ADS_1


'hy leo', sapaku lewat sebuah pesan singkat di media sosial.


'eh hy, in, apa info?' tanyanya yang langsunh membalas.


'kebalik dong, harusnya aku yang tanya', balasku lagi.


Jemariku bergetar. Panas dingin rasanya. Karena bukan hanya Irwan yang ada di dalam foto itu. Tapi juga sekretaris pribadinya di perusahaan tempat ia bekerja.


Tak lama sebuah dering handphone berbunyi. Dari nomor yang tidak di kenal. Namun tetap ku angkat.


'in', kata orang di ujung sana.


'i..iya', jawabku gugup. Aku tau itu Leo.


'In, maaf, tapi aku gak bisa lama, kamu masih sama Irwan?', tanyanya.


aku menjawab iya. Tanpa ku tutupi memang aku masih merasa aku masih punya hubungan sama dia.


'In maaf, tapi, aku bukan bermaksud bikin kamu salah paham. tadi. itu aku. Irwan', terdengar gugup, Leo masih mencoba menjelaskan.


'gak apa Leo, jelasin aja!', tegasku yang kini sudah banjir air mata.


Leo, temanku sejak SMP walaupun kami beda kelas dan ia termasuk kakak kelasku. Aku lumayan dekat dengannya. Terlebih saat permasalah percintaan nya yang rumit karena di pisahkan oleh tembok agama. Membuat kami saling support satu sama lain.


'2 hari yang lalu Irwan ngajak aku ke Derawan, katanya sama kamu juga. aku langsung nge iya in karna aku juga lama gak ketemu kamu in. ternyata waktu sampai, aku malah bertemu Nia, sekretarisnya di kantor', jelasnya


Isak tangis yang sudah tak bisa ku tahan lagi.


Malam saat kami bersama. Aku mengajaknya liburan ke Derawan. pulau yang ingin aku datangi karena banyak penyu disana. juga air yang jernih, hal lain karena aku ingin melihat ubur-ubur tanpa sengat.


Bukannya pergi denganku. Ia memilih untuk pergi dengan Nia. orang lain.


'In, are u okay?'

__ADS_1


'iam okay kok, lanjut aja',


'aku gak enak sama kamu In. aku merasa ngekhianati kamu', terdengar suara sesal di ujung sana. Akupun tak mungkin menyalah kan Leo. Karena hal ini tak ada hubungannya dengan Leo. Ia hanya orang ketiga yang punya sahabat dan teman sekaligus.


__ADS_2