KEMBALI (JATUH CINTA)

KEMBALI (JATUH CINTA)
PERGI


__ADS_3

''are you okay?", tanya Efrian yang juga sedang menepuk-nepuk pelan pipiku.


Aku mengangguk lemah. Kulihat Irwan masih tertunduk dan entah merasa bersalah atau tidak. Kini aku merasa semakin tidak suka dan tak ingin ia ada disini.


"cukup ya Irwan. Terakhir kali kamu mengkhianatiku, mengatakan bahwa kamu tidak bisa LDR. Tapi ternyata kamu pergi ke Derawan sama Nia. Nia. Irwan, bahkan sampai sekarang kamu tidak menjelaskan itu. Awalnya aku harap kamu datang lagi untuk menjelaskan apa yang kamu lakukan saat kamu tinggalin aku lagi".


Isak tangisku menghiasi kalimat demi kalimat itu. Efrian yang masih setia memegangi dan mengusap-usap punggungku.


"kau datang lagi, hanya minta maaf dan kemudian membujukku untuk membali? Hey, Buka matamu. Berulang kali aku memberikanmu kesempatan. Berulang kali juga kamu sia-siakan kesempatan itu. Meninggalkanku demi perempuan lain yang ternyata hanya main-main saja denganmu. Setelah kau ditinggalkan olehnya, lalu kau kembali mencariku dan memohon. BULLSHIT!! Aku sudah punya Efrian dan kami mau menikah. Cukup kemarin kau membuat ruang kesalahpahaman antara aku dan Ef. Sekarang aku sudah menghapusmu dari memori, masalalu dan sejarah perjalanan hidupku"


"ayo Ef", ajakku pada Efrian. Kami meninggalkan ruang tamu rumah dan orang itu sendirian. Aku mengajak Efrian, kesamping rumah, dimana ada banyak mawar hitam yang baru dipanen sore tadi.


Kulihat Irwan keluar dari rumahku dan pergi menjauh. Isak tangisku kembali pecah di pelukan Efrian. Dia yang dengan sabar dan penuh kehangatan menenangkanku.


...***...


^^^"morning", dengan senyuman manis ia menyapaku dipagi yang cerah.^^^


Aku terkejut melihat Efrian yang kini sibuk meluruskan tangannya. Melakukan peregangan. Pegal rupanya. Baru juga aku sadar, tangan itu yang menjadi bantal tidurku tadi malam. Untuk kedua kalinya, aku tertidur bersama Ef. Tapi kali ini di satu kasur yang sama dengan perasaan yang nyaman.


"sepertinya ada yang harus tanggung jawab ke mama!", katanya yang kini berdiri membuka gorden jendela. Membuat matahari masuk keruangan dan meneranginya.


"tanggung jawab apa?", tanyaku bingung


"tanggung jawab karena kau sudah berani meniduri anak lelaki satu-satunya milik mama", canda Ef dengan tengilnya.


Bisa-bisqnyq ia bercanda setelah kepedihan dan uneg-uneg yang keluar malam tadi dengan penuh emosi.


"hari ini sibuk?", tanyanya serius dan sudah duduk dihadapanku.


Aku menggeleng, tanda tidak punya kesibukan apapun.


"aku banyak kerjaan di kantor. mama minta temenin belanja dan mengurus taman bunganya. Kalau tidak keberatan...."


"OK", jawabku tanpa menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.


"5 menit, aku mandi dulu, kau kedapur saja cari roti atau sereal untuk sarapan. karena aku pasti tidak punya waktu membuatkanmu sarapan", sambungku.

__ADS_1


Ia tertawa dan meninggalkanku untuk bersiap.


Pagiku sangat menyenangkan. Sebelum berangkat, aku menyempatkan untuk menyapa Alena dan Erwin di toko.


"asik, pagi banget nih?", kata Alena ketika melihatku dan Ef yang berjalan dibelakangku.


"sejak semalam kali Al", sahut Erwin.


Alena membelalakkan matanya, tanda ia terkejut. sedangkan Erwin yang merasa salah bicara dan ku pelototi langsung menyibukkan dirinya. aku masih memasang muka dengan penuh tanda tanya untuk Erwin


"ehm itu, jadi tadi malam aku lewat sini. gak sengaja. terus aku lihat ada mobil mas Efrian parkir di depan", jelas Erwin.


"Erwin, kau harus mengaku, kau selama ini jadi mata-mata?", todong Alena.


Jelas sekali, terlihat wajah gugup Erwin. Terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Alena. Ia masih diam seribu bahasa. Seketika hening, kami semua menunggu jawaban Erwin. Sampai suara Efrian membubarkan semuanya.


"Nanti aku telat berangkat ke kantor Indira", sambil melangkah keluar ia menggandeng tanganku dan kami meninggalkan Erwin sert Alena di sana.


...***...


Diperjalanan kerumah Efrian, aku masih kepikiran tentang Erwin yang tahu kalau Ef semalam ada dirumahku.


Aku melihat wajah Efrian terkejut ketika kutanya seperti itu. Memang ia tak langsung menjawab. Aku butuh waktu beberapa detik untuk mendengar jawabannya.


"ya mungkin... ya...", jawaban Ef terdengar gugup. Aku bingung kenapa ia harus bingung dan gugup, atau ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


"mungkin barangnya ketinggalan di toko atau memang ia tak sengaja lewat. kan jalan depan rumahmu boleh dilewati orang banyak termasuk Erwin, mungkiiiiiin", jelasnya.


Aku mencerna kemungkinan yang utarakan Ef. Tak berapa lama, kami sudah sampai dirumahnya. Mamanya sudah menunggu di depan pintu rumah. Seperti tamu penting saja di sambut seperti.


"Kemana saja, tidak pulang semalaman?", tanya mama Ef pada putra tercintanya itu.


"tidur di apart ma, sudah kemalaman kalau harus pulang, lembur dan lelah", jawaban bohong yang dikatakan Ef.


Jelas saja, mana mungkin dia punya keberanian untuk bilang kalau menginap dirumah seorang gadis semalaman satu kasur pula. Tanpa sengaja aku melemparkan tawa kecil disana.


"oh iya ma, Frian udah jemput Indi, nanti Frian masih banyak kerjaan di kantor, jadi Indinl saja yang menemani mama belanja?", tanyanya meminta perserujuan mama tercinta. Tentu saja langsung di iyakan oleh mama.

__ADS_1


...***...


"Efrian sudah cerita apa saja In?", tanya mama Ef saat kami sedang menyiram dan memangkas ranting mawar yang sudah kering.


"maaf, tentang apa tante?"


Jujur, aku benar tidak paham dengan maksud pertanyaan mama Efrian.


"apa saja", jawabnya


"ah,itu, sebenarnya tidak banyak tante. sekedar penyakit tante, bunga yang tante suka, ia kerja apa, sekedar itu saja", jelasku


Mamanya hanya mengangguk dan lanjut merawat tanaman mawar miliknya.


"Tante selalu gak sabar, menunggu mawar hitam ini mekar", serunya.


"sama Indi juga, selalu suka menunggu mawar hitam ini mekar, bahagianya berbeda dengan yang lain", sahutku


"Tante boleh tanya?"


"dengan senang hati, Indi akan jawab tante"


"Indi sejak kapan suka mawar hitam?", tanya nya.


Aku selalu tidak bisa menjelaskan, sejak kapan. Yang tersimpan di memoriku hanya seorang anak kecil laki-laki yang memberikan setangkai mawar hitam. Kemudian berjanji harus bertemu lagi di tempat yang sama esok harinya.


Setelah aku menunggu cukup lama, anak itu tidak pernah menepati janjinya untuk bertemu lagi. Kami tidak pernah berkenalan, tapi kami cukup sering bertemu sebel ia hilang, pergi dan tak pernah kembali.


"sejak kecil tan, karena dulu susah dapat di toko bunga, akhirnya minta tolong mama untuk menanam pohon mawar hitam di halaman rumah", jelasku.


"oh begitu"


Aku mengangguk tanda membenarkan.


"sepertinya sebentar lagi mas Frian pulang kerja", kata mama Ef yang lebih dulu mencuci tangan.


Aku masih diam dan termenung, mengingat anak kecil laki-laki itu. aku masih sangat ingin bertemu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2