![KENZO [Series Big Boy]](https://asset.asean.biz.id/kenzo--series-big-boy-.webp)
Theresa hampir saja jatuh dari tangga. Untung Kenzo dengan sigap menangkap tubuh Theresa. Theresa tak sengaja memeluk Kenzo dengan erat.
Mereka masih ada di tangga paling atas. Dia juga takut kalau jatuh dan mati. Lebih baik kalau langsung mati, kalau cacat, menyusahkan semua orang. Siapa yang akan merawat ibunya.
“KAKAK!”
Amrita yang panik dan refleks membentak kakaknya.
Jantung theresa berdebar kencang karena takut. Dia bahkan belum berani melepas pelukannya kepada Kenzo.
Amrita memukul bahu kakaknya itu. Kenzo melepaskan theresa perlahan. Tapi kedua tangannya masih memeluk pinggang theresa agar tidak jatuh lagi.
“Sorry sorry, gak sengaja.” Kata Kenzo kepada theresa. “kamu gak apa-apa?” tanya Kenzo lagi kepada theresa.
Yang ditanya hanya mengangguk gugup. Amrita yang marah. “gak lucu ya kak bercandaanya, keselny, pokoknya udahan marahnya sama kak there. Itu Cuma masalah mobil kak. Gimana nanti kak theresa tadi kalau sampai jatuh. Awas aja kakak kalau bikin kak there kenapa-napa.”
“Iya-iya maaf. Tadi gak sengaja. Emang aku narik ya kenceng banget?”
“Lumayan.”
“Ya udah, turun pelan-pelan.”
Amrita di belakang keduanya. Kenzo menggandeng theresa. Kali ini dengan perlahan. Sangat pelan bahkan. Amrita yang tak henti cerewet kepada keduanya.
“Awas kak Kenzo, yang bener gandeng kak there.”
“awas aja kayak tadi lagi.”
Kenzo diam saja. Dia menuntun theresa dengan hati-hati. Sampai mereka ada di lantai bawah.
“hah, turun tangga aja kayak naik rollercoaster.”
Amrita yang menghembus nafas lega. Brian menghampiri dia. Dia mengusap pundak amrita untuk Menenangkannya.
“Tenang sayang, kakak kan gak kenapa-napa.”
“iya sih gak kenapa-napa tadi. Tapi akk kenzo tuh, awas aja!”
Amrita meraih tangan theresa. Dia menggandeng theresa ke ruang makan.
“Duduk kak, masih syok gak? Aku tuangin minum.”
Amrita menuangkan minum untuk Theresa. There pun meminum air putih itu perlahan. Kenzo duduk di samping Theresa.
“aku mau liat ibu, dik,” kata Theresa kepada amrita.
“Iya kak.”
__ADS_1
Tinggal Brian dan Kenzo di sana. Kenzo menatap Brian. Memberi kode Brian, menunjuk amrita yang jalan ke kamar ibu.
“cewek kamu galak banget sih.” Ujar Kenzo kepada Brian.
“Iya kak. Emang.” Brian hanya mengangguk.
Keduanya masuk ke kamar ibu. Ibu Bangun karena tadi mendengar teriakan amrita. Ibu menatap keduanya khawatir.
“Tadi kenapa?” ibu duduk bersandar di punggung ranjang.
“hemm, itu ibu. Gak apa-apa. Ada tikus.” Theresa menjawab lebih dulu.
“Iya ibu, jadi heboh.” Ujar amrita, ikut menimpali.
“ibu mau mandi atau mau makan? Atau minum, atau butuh sesuatu?” tanya amrita mencoba Mengalihkan pembicara.
“Susternya datang. Biarin suster yang bantu ibu mandi.” Kenzo ke kamar ibu. Dia sengaja mendatangkan suster khusus untuk ibu.
“Aku juga mau bantu ibu mandi,” kata theresa menoleh menatap Kenzo.
“gak usah kak, kakak kan lagi hamil, nanti kalau bantu ibu, berat, maaf ya ibu,” amrita melarang theresa. Dia menoleh meminta maaf kepada ibu.
“iya, nak. Udah biarin, ada suster.” Ibu juga tak mau theresa kenapa-napa.
“lagian susternya dua kok, sengaja, biar enak buat bantu ibu kalau mau apa-apa. Kamu diem aja!”
Kenzo menunjuk theresa. Rasanya seperti memperingati dan marah. Tapi itu manis sekali.
“Ibu, aku mau ke depan. Pacar aku nunggu, duluan ya.” Amrita langsung kabur ke depan.
“Sana keluar. Aku mau liatin ibu mandi. Mau ngawasin ibu.”
Kenzo diusir sama theresa. Tapi dia keluar tanpa perlawanan. Theresa diam melihat ibunya dibantu mandi oleh ke dua susternya.
“ibu, aku bantu ya,” Theresa baru mau masuk ke kamar mandi, mau ikut membantu.
“eh, gak ada. Diam, berdiri disitu aja bumil!” Tapi malah dimarahi ibunya.
There jadinya diam saja di sana. Dia hanya melihat. Sampai Kedua suster itu selesai membantu ibunya mandi. Theresa yang mengambilkan baju. Dia juga kaget, ada baju ibu-ibu di sini. Siapa yang mengisi?
Tapi dia diam dan memberikannya saja kepada ibu. Membantu ibu memakaikannya.
“Jangan nungging, jangan berlutut, jangan nunduk gitu,” theresa mau membantu ibu memakaikan celana. Tapi tak dibolehkan.
“kamu Itu, susah banget dibilangin dari dulu. Dulu kamu gak hamil, gak bawa cucu ibu, sekarang kamu lagi hamil, ther. Harus nurut pokoknya, ibu gak mau cucu ibu kenapa-napa.”
“Jadi Cuma cucunya yang dikhawatirkan?”
__ADS_1
Theresa tak jadi membantu memakaikan ibu celana. Suster yang membantu. Sampai selesai. Suster juga mendorong kursi roda ibu ke meja makan.
Di sana sudah ada Brian dengan amrita, lalu Kenzo. Amrita sedang menyuapi Brian.
“ibu, sudah selesai mandi? Tunggu, aku minta bibi bawa makanan yang khusus buat ibu, gak boleh banyak pengawet sama penyedap kata Tante.”
Dia langsung lari ke dapur. Theresa sangat bersyukur mendapatkan adik ipar seperti amrita. Dia ingin membalas Budi.
Hanya satu yang ada di otak dia, dia harus hamil beneran dan memberikan keponakan yang sesungguhnya untuk amrita. Tapi bagaimana caranya. Doa menatap Kenzo.
Kenzo tak sengaja menatapnya balik. Theresa langsung memalingkan muka.
“Oh iya, yang di kamar, yang ngisi baju-baju buat ibu, siapa?” tanya theresa, penasaran.
“ita.” Kata Kenzo.
“aku, apanya? Bukan aku, aku Cuma beli baju buat kakak, kata kak Kenzo, sekalian buat ibu, kak Kenzo yang ngisi. Dulu juga waktu sama mama, kak Kenzo suka beliin baju buat mama, pinter kak Kenzo milihnya. Itu, itu juga yan pilih kak kenzo sih.”
Amrita datang dan membenarkan ucapan Kenzo. Kenzo diam. Dia menunduk malu. Dia belum kerja sama dengan amrita lagi.
Tuh anak suka ember mulutnya.
Ibu senyum menatap theresa. Dia merasa senang sekali, anaknya tidak salah pilih.
Ini makan. Buat ibu, jangan ambil yang lain ya ibu. Aku gak bolehin. Pelit soalnya aku.” Kata amrita sambil bercanda dan juga tertawa.
Dia kembali duduk di samping Brian. Kenzo belum makan, dia baru mau mengambil makan. Theresa juga mau mengambil makan. Makan sore, karena semuanya tak sempat makan siang. Jadi sore saja.
Malam nanti mungkin kalau lapar akan makan masing-masing.
“makan ibu.” Kata amrita kepada ibu. Ibu mengangguk. Tapi ibu menyenggol lengan theresa.
“Kenapa ibu?” tanya theresa, dikira ibu butuh sesuatu.
“Itu, kamu itu loh. Sudah mau jadi istri, ambilin. Kenzo juga sudah pilihin kamu baju, baju hamilnya bagus, lucu.”
“Oh iya ibu.”
Theresa pun mendekati Kenzo dan mengambilkan makanan untuk Kenzo.
“Mau makan apa? Nasinya seberapa?” tanya theresa kepada Kenzo.
Kenzo menunjuk apa yang dia mau. Rasanya aneh, senang, banyak kupu-kupu di dalam dirinya. Tapi juga merasa geli, asing. Tapi mau.
“Ini.”
Theresa menaruh piringnya di depan Kenzo.
__ADS_1
“Mau minum apa? Mau aku tuangin air putih?” Tanya Therese dengan gugup.
Kenzo mengangguk.