![KENZO [Series Big Boy]](https://asset.asean.biz.id/kenzo--series-big-boy-.webp)
Theresa di ruangan dokternya. Kenzo juga di ruangan dokternya. Dokter Kenzo mengambil sampel milik Kenzo. Memilih yang terbaik dan memberikannya kepada dokternya theresa.
“Baring ya sa. Tahan dikit, sakit, kaget aja sih paling.” Kata dokter kepada theresa.
Yang diajak bicara hanya mengangguk. Theresa sejak tadi sudah menahan gugup. Dia berbaring, menarik nafas panjang dan dokter ada di bawah theresa. Menyuntikkan sampel nikik Kenzo ke miliki theresa.
Theresa sempat meringis menahan sakit. Sampai beberapa detik ke depan dan akhirnya proses itu selesai.
“sakit gak sa?” tanya dokter yang melepas sarung tangan yang dia kenakan.
“Dikit tadi Tante.”
Dokter membantu theresa untuk duduk. Di depan sudah ada Kenzo dan dokternya. Mereka juga sedang menunggu theresa menyelesaikan proses itu.
“Pelan-pelan aja jalannya.” Kata dokter menggandeng theresa.
“Iya tante.”
“hati-hati.”
Kenzo mengulurkan tangan kepada theresa. Dia membantu theresa duduk. Tante dokter memberikan obat kepada theresa, vitamin dan juga, susu pembuahan.
“Yang di rumah, susunya diganti ini ya ztuan Kenzo. Tapi diam-diam gantinya. Ganti isinya aja. Takut ketahuan Ita, ngamuk dia dibohongi. Semoga cepat jadi.” Kata Tante dokter kepada Kenzo.
Kenzo mengangguk. Dia dan theresa pamit pergi. Ketika Kenzo mau pergi, theresa menahan tangan Kenzo. Dia menahan perutnya yang keram. Dokter sudah bilang, beberapa menit setelah inseminasi, bisa saja theresa keram perut.
“Kenapa?” tanya Kenzo menunduk menatap theresa.
“tunggu dulu tuan Kenzo. Kayaknya perut nona theresa mulai keram deh. Sepuluh atau lima belas menit mungkin hilang. Wajar kok.”
Kenzo mengangguk mendengar kata Tante dokter. Dia kembali di kursinya dan menunggu theresa baik-baik saja.
“ken, nanti jangan sampai theresa kecapean ya. Soalnya inseminasi lebih rawan dari pada Kalian tidur bareng gitu.”
Dokter keluar untuk meminta teh hangat kepada suster. Tak lama dia kembali dengan teh hangatnya. Dokter meminta theresa meminumnya dan menjelaskan beberapa hal kepada kenzo.
“iya Tan.”
“ini minum sedikit sayang.”
Theresa meminum tehnya perlahan. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya theresa memutuskan untuk pulang.
“Sudah lebih baik, yuk kalau mau pulang.” Lirih Theresa kepada Kenzo.
“yakin?” Kenzo yang masih khawatir.
“iya.” Theresa mengangguk yakin.
“Tante, om, kita pulang ya.” Ujar Kenzo kepada keduanya.
__ADS_1
“Iya hati-hati.”
Mereka mengantar keduanya sampai naik lift dan liftnya turun ke lobi rumah sakit. Kenzo menggandeng theresa hingga ke parkiran dan masuk ke mobil.
“Masih sakit?” tanya Kenzo menatap theresa yang sedang memakai sabuk pengamannya.
“gak. Tapi keran dikit sih. Gak apa-apa kok.” Ujar theresa kelada Kenzo.
“Kita ke apotik bentar ya, mau nebus resep yang baru. Gak apa-apa kan? Atau mau aku antar pulang dulu ke rumah, nanti aku ke apotik Sendiri.”
“ikut aja, sekalian. Dari pada bolak-balik.”
“Ya sudah.”
Kenzo menjalankan mobilnya. Sesekali dia melirik theresa. Baru kali ini Kenzo merasa khawatir dan prorek ke wanita lain selain adiknya.
Tak lama dia sampai. Kenzo mau turun. Theresa menahan tangan Kenzo.
“Kenapa?”
“boleh minta jajan? Pengen coklat donuts tiba-tiba.”
“oh, ok. Nanti aku cari di dalam. Ada lagi?”
Theresa menggeleng. Kenzo masuk ke apotik. Dia menebus resepnya dan kembali ke mobil.
“ini bukan?”
“Iya, makasih.”
Kenzo kembali duduk di kursinya. Sementara theresa sibuk membuka jajan itu dan memakan ya satu persatu.
Dia seperti anak kecil yang melihat coklat. Kenzo tersenyum melihat tingkah theresa yang sedang menikmati coklatnya.
Tak lama mereka sampai di rumah. Kenzo menyembunyikan bawaannya dari apotik lebih dulu. Dia menuntun theresa turun lebih dulu.
“Hati-hati.”
Dia jadi lebih banyak meminta theresa untuk hati-hati. Ibu sedang makan siang di temani dua susternya. Ita dan Brian belum pulang dari kampus.
“Kenapa sa?”
Ibu yang melihat theresa menghampirinya. Dia memgantu menggandeng sang anak.
“duduk dulu. Kenapa? Apa kata dokter?” tanya ibu kepada theresa.
“Gak apa-apa kok ibu. Tadi ini, keram dikit, tapi kata dokter wajar kok karena lagi hamil muda. Rahimnya sedang menyesuaikan.” Ujar theresa kepada ibunya.
“ibu, Titip theresa. Aku mau masukin barang dulu. Setelah ini aku harus ke kantor, gak apa-apa kan sayang aku tinggal?” tanya Kenzo kepada theresa.
__ADS_1
Dia mengangguk. “nanti istirahat aja di rumah. Inget kata Tante dokter, jangan kecapean. Oh, pagi ini dia masak banyak ibu. Mungkin karena itu, aku gak mau lihat atau denger kamu masak lagi, gak sedikit pun.” Ujar Kenzo memarahi theresa.
Tapi theresa malah senang dimarahi. Dia mengangguk dan tersenyum kepada Kenzo.
Kenzo keluar dan membawa barangnya masuk. Dia ke dapur dan bergegas memberikannya kepada bibi..
“Bibi, hanyiy susunya theresa ya. Jangan sampai ketahuan Ita dan ibunya juga Brian. Ini rahasia bibi sama aku dan theresa aja. Plis BI,” pinta Kenzo kepada bibi.
Bibi bingung melihatnya. Tapi Bibi diam saja dan mengangguk melakukannya. Kenzo kembali ke ruang makan.
“Da sayang, istirahat di kamar ibu dulu aja, kamar sebelahnya ibu nanti aku beresin dulu, aku minta bibi, baru kita pindah di kamar bawah. Biar gak bolak-balik naik ke atas kamunya.”
Kenzo mengecup kening theresa dan pergi. Theresa mengangguk saja.
“ibi seneng lihat sikap Kenzo ke kamu, sa. Kayak cinta banget sama kamu.”
“iya ibu. Aku beruntung. Aku juga sayang banget sama dia.”
“Masak sih, ekhemm. Sayang banget sama kakak aku, apa sayang aja?”
Adiknya pulang, Ita dan Brian. Ita baru masuk dan gak sengaja dengar. Di mendekati sang calon kakak ipar dan menggodanya.
“siang kak. Lagi makan siang ya, atau baru pulang dari rumah sakit, gimana periksanya?”
Ita duduk di samping theresa.
“baik Tante. Doain keponakannya sehat sampai lahir ya Tante?”
“iya dong. Pasti Tante doain.”
Ita mengusap perut there. Theresa juga berharap inseminasinya berhasil.
Dokter bilang, dalam jangka waktu dua bulan atau bahkan satu bulan kedepan dia harus kembali ke rumah sakit untuk periksa.
Besok adalah hari pernikahan keduanya. Theresa juga tak boleh capek.
“gimana kampus? Dosennya udah gak ada kan?” tanya theresa khawatir kepada ita.
“Aman kak, udah gak ada kok. Malah banyak yang berterima kasih. Sama itu kak, masak banyak yang tanya soal kak Kenzo, katanya mereka mau kenalan sama kakak aku. Ada yang bilang ganten, mau pdkt dll.”
Theresa diam saja. Dia merasa kesal. Apa ini yang dinamakan cemburu. Theresa mencoba mengalihkannya dengan tidur.
“Ibu, ita, aku capek. Aku mau tidur dulu ya. Aku mau istirahat.”
Dia ke kamar ibu. Ita membantu menuntun theresa. Theresa tidur sampai sore.
***
Sampai Kenzo pulang. Ibu dan Ita sudah mandi. Tapi theresa belum juga bangun.
__ADS_1
“Ibu, there demam apa?” tanya Kenzo ke kamar. Dia mengecek kening theresa yang tadinya mau dia bangunkan.
“demam?” ibu dan Ita ke kamar untuk melihat.