![KENZO [Series Big Boy]](https://asset.asean.biz.id/kenzo--series-big-boy-.webp)
Mereka sudah bersiap-siap untuk pulang, theresa dan ibunya siap-siap pulang ke rumah Kenzo.
Kenzo mengambil kursi roda untuk ibunya theresa.
“Hati-hati ibu.”
“Pelan-pelan saja.”
Tadinya theresa yang mau membantu ibu turun, membantu memapah ibu turun. Tapi amrita melarangnya. Theresa kan sedang hamil muda, takut kenapa-napa sama kehamilannya.
Jadi amrita dan Kenzo yang membantu.
“biar aku sama Brian yang dorong kursi roda ibu, kak. Kakak gandeng kak there aja. Kasihan, pasti capek jaga ibu terus di rumah sakit,” kata amrita kepada Kenzo.
Kenzo yang tadinya mau mendorong kursi roda ibu, akhirnya tak jadi. Dia berdiri di samping theresa dan merangkul theresa.
Ke empatnya jalan bersama keluar ruangan itu dan menuju ke lift. Dokter hanya mengantar sampai di depan pintu lift itu. Dokter melambaikan tangan.
“ditunggu, kelahiran bayinya. Nanti Tante mau lihat, kabari ya Ita, kalau kakak kamu sok sombong gak mau mengabari Tante dokter,” kata dokter itu kepada amrita.
“Siap Tante dokter.”
Pintu lift pun tertutup. Ke empatnya ada di dalam lift. Brian dengan Amrita menjaga kursi roda ibu. Kenzo terpaksa merangkul pinggang theresa sejak tadi. Keduanya kadang tak sengaja saling menatap dengan canggung.
Sampai akhirnya pintu lift itu terbuka. Mereka keluar bersama. Di depan sudah ada mobil dan supir Kenzo.
“Masuk dulu, duduk di belakang sama ibu,” kata Kenzo kepada theresa. Dia membantu membuatkan pintu mobil untuk calon istrinya itu.
Theresa masuk dan duduk diam di dalam mobil. Baru kali ini dia diperlakukan sangat baik. Dia tak pernah menyangka akan hidup seperti ini.
Setelah Kenzo membantu theresa masuk ke mobil. Giliran dia membantu ibu masuk ke mobil. Dengan Brian yang ikut membantunya.
Brian memilih duduk di belakang. Amrita duduk di sampingnua ibu, di tengah ada ibu, di sebelahnya ibu ada theresa. Kenzo memilih untuk duduk di belakang mereka bertiga.
“Jalan pak, ke rumah. Tapi pelan-pelan aja ya pak jalannya, cari jalan yang bagus, kalau bisa gak macet,” kata Kenzo dari belakang.
“baik tuan.”
Brian ke rumah sakit gak pakai mobil. Dia naik taxi karena mobil dia sedang di bengkel. Kenzo melarang amrita untuk membawa mobil sendiri. Terakhir party dengan teman-temannya dan mabuk, tak ingat pulang. Sejak itu Kenzo membatasi gerak-gerik amrita.
__ADS_1
Supir menjalankan mobilnya dengan sangat hati-hati.
“kak, mampir ke tempat aku suka beli jus kak. Aku mau ganti pinta kak there, kan aku minum setengah.” Amrita ingat itu.
“Gak usah dik. Gak apa-apa,” theresa menggeleng.
Tapi perutnya malah bunyi lagi. Semua menatap theresa. Ibunya tertawa. Amrita juga.
“Apa tuh, bunyi lagi perutnya. Masak lapar lagi kak?” tanya amrita menahan tawa. Dia menyentuh perut Theresa dengan hati-hati karena di tengah ada ibu.
“Bayinya doyan makan, lebih baik sih dari pada kamu muntah-muntah, gak bisa makan,” ujar ibu theresa juga ikutan akhirnya.
Theresa bingung mau menjawab apa. Tadi juga dibawakan makanannya. Tapi itu hanya salad buah dan masih kurang untuk theresa yang bisa makan nasi bungkus dua, sekali makan.
“hemm, maaf ya.” Kata theresa kepada semua yang menatapnya.
Brian hanya tersenyum menatap kakak iparnya itu. Kenzo yang tak habis pikir. Hamil saja tidak. Kenapa bisa seperti itu.
“Mau makan dimana? Atau antar ibu pulang dulu saja, kasihan juga ibu kan kalau lama di mobil, gak bisa istirahat?” tanya Kenzo kepada semuanya.
“Iya, pulang aja dulu. Biar ibu bisa istirahat.” Ujar theresa menatap Kenzo yang duduk di belakang.
Kenzo membantu ibu theresa turun lebih dulu. Setelah itu theresa. Dia mengulurkan tangannya untuk pegangan theresa yang mau turun.
Bruk!
Theresa lupa, kalau dia sedang berperan sebagai wanita hamil. Dia tak sengaja melompat, itu pun hanya melompat kecil ketika turun mobil.
“There, kamu itu turunnya, hati-hati.” Ibunya marah-marah. Brian dan amrita sudah mendorongnya kursi roda ibunya untuk masuk ke rumah. Tak sengaja mendengar itu.
“iya kak, kakak kok gitu sih turunnya. Pelan-pelan kak.” Amrita juga dengan. Sandal theresa yang sampai mengeluarkan bunyi ketika dia turun.
Dia segera menghampiri sang calon kakak iparnya itu, “kakak ih. Jangan gitu lagi ahh. Dulu mungkin kakak bebas, mau lompat apa lari, tapi kan ini ada adik bayi di perut kakak. Keponakan Tante ok kan di dalam?”
Amrita mengusap perut theresa lagi, dia merasa bersalah kepada amrita.
“Maaf ya Tante.”
Theresa seakan menyampaikan pesan dari keponakannya amrita yang tak pernah ada itu.
__ADS_1
“Emm, manis banget. Karena manis banget, pakai mewakili panggil Tante juga, aku maafin, aku gak marah sama kakak ipar aku ini yang gemesin, cantik, tapi jangan diulangi lagi ya?”
Armita sampai mencubit pipi theresa, yang dicubit mengangguk dengan sangat imut.
Kenzo baru kali ini melihat adiknya semanis ini dengan wanita. Kalau dulu, biasanya kalau tidak cocok, amrita akan langsung bilang, no! Big no!
Sekali no, ya no.
Amrita menggandeng theresa masuk. Kenzo membantu Brian untuk mendorong kursi roda ibu. Mengangkat sedikit karena naik ke teras depan rumah.
Setelah itu kembali di dorong dan masuk ke rumah. Ada pembantu di sana, ada dua, yang satu seperti ibu bagi mereka, wanita paruh baya yang pandai masak, satunya pembantu tambahan untuk membantu bibi melakukan pekerjaan rumah karena bibi sudah cukup tua. Dia lebih muda. Usianya sama seperti theresa.
“mbak, ini bawa baju kotor ibu ke belakang ya, tolong dicucikan.”
Amrita menunjuk ke dalam mobil. Ada beberapa. Sama ada milik theresa juga yang ganti baju di sana dan tak sempat dibawah pulang.
“Iya non.”
Pembantu muda itu menunduk ikut saja. Tapi matanya menatap tak suka kedatangan theresa.
‘padahal non amrita kan juga sudah dekat dengan saya, harusnya saya yang jadi nyonya di sini, tahu-tahu masuk ke rumah ini saja sebagai nyonya. Ihh, menyebalkan!’
Dia mengomel dalam hati. Dia masuk dengan membawa baju kotor.
“selamat datang nona, nyonya, saya pembantu disini sudah sejak beberapa tahun lalu. Semoga betah di sini.”
“Sama-sama bibi.” Kata theresa dan ibunya. Mereka ikut mengangguk dan senyum senang menatap bibi.
Keduanya pun masuk. Kenzo menunjukkan kamar ibunya theresa yang sudah disiapkan di bawah. Ada di lantai satu rumah itu.
Mereka sekarang berkumpul di kamar ibunya Theresa. Ibuhya Therese duduk bersandar di punggung ranjang.
Perut theresa malah bunyi lagi. Semua jadi menatap theresa. Amrita tertawa karena itu.
“Ya ampun, sampai lupa, bayinya laper sama mamanya,” kata amrita tersenyum memeluk Theresa.
“Hihi, maaf ya. Jadi ngetepotin semuanya,” theresa hanya bisa tersenyum tak enak, terlebih kepada amrita.
Amrita mengangguk paham.
__ADS_1