KENZO [Series Big Boy]

KENZO [Series Big Boy]
Part 13. Persiapan pernikahan


__ADS_3

“Bukan tapi, bukan maksud saya seperti itu tuan. Kan bisa dengan inseminasi buatan.”


Kenzo menepis tangan theresa yang menahan dirinya. Dia terkejut dengan ide theresa itu.


“Jangan pernah bahas seperti ini di sini, kalau Ita dengar Bagaimana. Turun saja, diam saja dan tetap lakukan apa perintah saya.”


Kenzo jalan lebih dulu. Theresa pun diam. Dia ikut jalan di belakang Kenzo. Di bawah, Kenzo melihat ada adiknya dan sang pacar. Mereka sedang saling menyuapi. Kenzo tak mau Ita curiga. Dia menunggu theresa. Dia mengulurkan tangan kepada theresa.


“ada apa?”


Theresa bingung mengapa Kenzo. Kenzo menunjuk ke bawah.


“Ada Ita, nanti dia curiga lagi.”


“Oh iya.”


Theresa pun meraih tangan Kenzo. Dia menggenggam tangan Kenzo erat. Berjalan menuruni tangga secara perlahan.


“tapi akting kamu bagus juga,” kata Kenzo kepada theresa.


Theresa diam saja. Dalam hatinya, dia sangat tersiksa setiap kali harus bohong dengan Kenzo.


“Kak, hati-hati.”


Benar saja, Ita menoleh dan melihat theresa turun tangga. Theresa mengangguk kepada ita. Hingga keduanya sampai di lantai satu rumah Kenzo. Di ruang makan.


Kenzo duduk di kursinya. Theresa malah jalan ke kamar ibu. Kenzo menahan tangan theresa.


“Mau kemana?”


“Ke kamar ibu, mau lihat ibu bentar.”


Kenzo akhirnya ikut theresa ke kamar ibu. Kenzo menelpon susternya ibu. Tak lama susternya ibu datang. Mereka membantu ibu yang sudah bangun untuk mandi dan ganti baju.


Setelah itu baru sarapan bersama. Theresa mengambilkan makanan untuk ibu lebih dulu.


“Suami dulu, sa.” Ujar ibu kepada theresa.


“iya ibu, maaf. Ini sudah terlanjur, besok-besok there janji, suami dulu.”


Dia tetap mengambilkan makanan untuk ibunya. Setelah itu baru Kenzo. Juga menuangkan minuman untuk kenzo.


“mau teh, kopi, atau air putih saja?” tanya theresa kepada Kenzo.


Bibi datang, setiap pagi Kenzo meminum kopi. Bibi membawakannya.


“ini non kopinya tuan.” Kata bibi kepada theresa.


“Oh iya Bi. Makasih.”

__ADS_1


“hati-hati kak, panas gak tuh?” Ita yang khawatir melihat theresa mengambil gelas kopi yang sepertinya masih panas.


“iya, bisa kok. Gak apa-apa dik.” Kata theresa kepada Ita.


Setelah itu theresa ikut duduk di sebelah Kenzo. Dia mengambil sarapannya dan ikut sarapan di sana.


***


“Nanti, ada orang w.o ke sini. Aku pamit dulu.” Kenzo sudah menghabiskan sarapan dia. Dia pamit kepada theresa dan yang lainnya.


“kakak ke kampus kamu juga. Gak ada kata maaf buat dosen kayak gitu.” Kenzo menunjuk Ita. Ita baru mau protes. Dia diam saja.


“Daa sayang.” Kenzo mencium kening theresa begitu saja. Sampai membuat theresa membeku. Rasanya seperti sungguhan menjadi istri Kenzo. Andai benar. Tapi mungkin Kenzo yang tak suka dengan dia.


“aku antar sampai depan,” kata theresa, baru mau beranjak dari duduknya. Tapi Kenzo melarang.


“gak usah. Nanti kamu kecapean. Di sini aja, ke depan doang kan. Nanti siangan, kalau meeting selesai aku pulang. Nanti kabari aja kamu pilih gaun yang mana sama dekor apa. Nanti kirim foto ke Kaka ya, ta. Sekalian mau urus gedong soalnya. Di dalam gedung kan? Apa mau outdoor?”


“dalam aja kak. Cari yang aman buat kak there yang lagi hamil kan.” Ita yang menjawab.


Theresa tak masalah. Mau dimana pun pernikahan dia. Dia suka semua dekorasi yang semalam dia lihat.


Kenzo mengangguk. Dia keluar dari rumah. Di depan sudah ada supir yang Kenzo mint untuk mengantar dia. Dia sedang malah menyetir. Terlebih emosi karena soal dosennya Ita.


“ke kampus dulu pak.” Kata Kenzo kepada supirnya.


Kenzo melihat ponselnya. Dia menghubungi pihak kampus. Mengirim pesan kepada dekan kampusnya Ita.


Tak lama Kenzo sampai di sana. Dosen itu sudah ada di ruangan dekan. Dekan tak menyangka sikap dosen itu.


“apa anda punya buktinya?” tanya dosen itu kepada Kenzo. “anda jangan main tuduh ya. Ita yang kurang ajar. Dia yang duluan kurang ajar kepada saya.”


“ck.” Kenzo mencibik di depan dosen itu. Dia mengumpulkan banyak bukti. Banyak anak-anak kampus yang dipaksa dan dilecehkan oleh dosen itu.


Polisi bahkan sampai datang dan menangkap dosen itu. Dosen itu menatap Kenzo dengan kesal.


“Awas anda ya!”


Dia menatap kenzo dengan tayaoan mengancam. Selesai dari sana, Kenzo ke kantornya. Dia pamit kepada dekat itu.


Beberapa yang ada di luar, para mahasiswi yang melihat dosen itu ditangkap, mereka menghampiri Kenzo.


“kak, makasih ya.”


“bilang ke Ita juga.”


“iya.”


Kenzo menjabat tangan mereka yang dahulu mau berjabat tangan dengan Kenzo. Hampir sepanjang jalan menuju ke parkiran. Dia bingung sendiri. Separah itu dosennya. Kenapa tak ada yang berani melapor.

__ADS_1


Kenzo sudah di mobil. Dia meminta supir untuk ke kantornya kali ini.


“Halo, iya. Tunggu sebentar lagi, saya akan segera sampai.” Kenzo mendapatkan telepon. Sekertarisnya yang menelpon.


“pak, cepatan dikit bisa gak pak?” kata Kenzo kepada supirnya. Dia sedikit terlambat karena ke kampus Ita dulu.


***


Sementara di sisi lain, orang w.o-nya datang ke rumah. Bel rumah berbunyi.


Ting tong ...


Bibi yang membukakan pintu. Mereka sedang ada di ruang tengah. There dan Ita sedang menonton tv bersama. Mereka nonton Barbie. There yang minta.


Kalau Ita minta nonton film pembunuhan. There yang tidak mau. Dia jijik dan tidak tega. Tapi Ita malah menganggap itu, mungkin Bawana bayi. Jadi dia mengalah.


“Kayaknya cewek nih keponakan aku.” Dia malah mengusap perut theresa.


“non, ini ada tamu.” Bibi membawa masuk tamunya.


“oh iya, duduk kak.” Kata Ita mempersilakan orangnya.


Ada ibu theresa juga di sana. Dia ingin ikut melihat. Mereka menunjukkan contoh-contoh gaun baru.


“Anak saya lagi hamil muda. Material bajunya jangan yang berat ya.” Kata ibu kepada orang desainnya. Dari butiknya.


“Iya ibu. Tuan Kenzo sudah bilang kok.”


Tak lama orang untuk dekor tempatnya datang. Sekalian dibantu Ita, there pun memilihnya. Dia hanya mau didominasy warna putih.


Cukup lama mereka meeting di rumah. Sampai jam makan siang tiba. Hingga Kenzo juga sudah selesai meeting. Dia baru pulang.


“halo semuanya. Belum selesai?” Sapa Kenzo kepada semua di sana.


Brian di sana sejak tadi. Tapi dia memilih menyingkir. Dia lebih suka main game saja.


“Iya kak, kak therenya bingung pilih yang mana.” Kata Ita kepada Kenzo.


“hai sayang.” Kenzo menghampiri theresa. Dia mencium kening dan pipi theresa. Tapi sebenay Kenzo membisikkan sesuatu kepada Theresa.


“Jangan ribet. Jangan lama-lama.” Kata Kenzo kepada theresa. Theresa mengangguk.


“ini saja. Bagus.”


Theresa akhirnya memilih satu. Setelahnya mereka pamit pergi. Theresa menghampiri Kenzo.


“Mau makan siang? Aku suapin ya?” theresa membantu Kenzo yang mau melepaskan jasnya.


Kenzo menatap theresa dengan kaget dan bingung.

__ADS_1


__ADS_2