KENZO [Series Big Boy]

KENZO [Series Big Boy]
Part 19. Berpisah


__ADS_3

Theresa sangat kehilangan ibunya. Terlebih lagi Ita yang membenci dia. Karena dia sudah berbohong kepada Ita.


Ketika dia siuman di dalam hotel, theresa keluar begitu saja. Dia turun dengan lift. Tapi tak ada yang memperhatikan dia, untungnya.


Sampai theresa keluar. Dia mencari angkot. Tak ada yang bisa dia gunakan untuk bertahan hidup, ahh, theresa ingat, ada Cincin pernikahan dan ponselnya.


Dia menjual keduanya dan naik angkot. Dia memilih pergi ke luar kota. Naik bus meninggalkan kota yang penuh kenangan ini.


“Ibu, nanti there balik ke makan ibu, Sesekali jenguk ibu ya. Tapi there butuh waktu kembali ke sini. Maafin There ibu. Ibu, salah gak kalau there sayang sama Kenzo dan Ita. Tapi sepertinya Ita sangat kecewa.”


Dia bicara sendiri di dalam bus menuju ke luar kota. Sesampainya ditermina, Theresa langsung turun dan membayar ongkosnya.


Theresa sampai Paginya. Dia mampir ke salah satu warung, sarapan dan bertanya, apa ada kost di sekitar sana.


Kebetulan ada di dekat sana. Ibu warung itu bahkan mengantar theresa. Kebetulan dia kenal pemilik kostnya.


“bu, ini untuk satu bulan ke depan dulu ya.”


Theresa menemui ibu kostnya. Dia pun tinggal disana sejak itu. Theresa tak bisa tinggal diam. Dia keliling untuk mencari kerja.


Theresa mendapatkan kerja di salah satu restoran. Dia menjadi seorang pelayan di sana.


Dia berangkat jam sepuluh siang dan pulang jam sepuluh malam. Bergantian dengan teman-temannya yang lain.


***


Dua bulan lebih Ita dan Kenzo mencari theresa. Tapi mereka sama sekali tak menemukannya. Tak ada kabar apa pun dari theresa.


Ita mencoba bertahan hidup, kalau makan pun harus dipaksa Kenzo atau tidak Brian.


“Sayang, makan. Kakak masih nyuruh orang juga untuk mencari kak there. Kalau kamu gak makan, mkak Kenzo berhenti nyari kak there gimana?”


Kalau kuliah pun Ita lebih banyak melamun. Dia yang periang jadi lebih banyak murung, Ita yabg Crewet hilang, bahkan hampir dua bulan, jarang sekali terdengar suara ita. Kalau ditanya hanya akan menjawab dengan singkat.


Iya, apa, hemm.


Seperti itu. Kenzo baru pulang kantor. Sejak siang Ita tak mau makan. Kenzo nengusap kepala adiknya.


“mau maka diluar? Atau mau kakak yang masak lagi?”


Ita malah pergi ke kamar ibu dan theresa. Dia mengambil baju theresa dan memeluknya.


“kak there, kangen. Maafin Ita, Ita jahat bikin kak there kehilangan ibu. Ita jahat harusnya dengerin cerita kak there dulu. Kak there dimana?”


Kenzo dan Brian melihat ke kamar. Kenzo yang mendekati Ita. Dia menarik Ita ke dalam pelukannya. Kenzo memeluk Ita sambil berdiri. Dia mencium puncak kepala adiknya.


“Kakak yang salah. Tadinya kak theresa gak tahu kalau kakak suruh pura-pura hamil, dik.”


“Tapi kakak janji, gak akan berhenti nyari kak there. Kakak juga sayang sama kak there dik.”

__ADS_1


“kakak minta maaf ke kamu juga ya, kakak yang bikin kamu begini.”


Ita menangis dipelukan Kenzo.


***


Theresa kira dia kecapean bisa pendarahan dan semacamnya. Tapi setelah ditunggu satu bulan, hingga ini dua bulan. Dia melihat tanggalan di tempat kostnya.


“Kok aku belum datang bulan, udah dua bulan ini? Apa jadi?”


Theresa tak yakin. Hari ini dia libur. There ke apotik tak jauh dari sana.


“Mbak, tespeck tiga.”


Theresa membeli tespeck. Dia kembali ke rumahm. Membaca petunjuknya dan melakukan apa yang ada di petunjuk.


“Tuhan, tolong jangan lakukan ini.”


Dia menunggu beberapa menit. Dengan takut dia melihat hasilnya satu persatu. Tapi ketiganya menunjukkan dua garis biru.


Dia positif?


“aku hamil? Anak Kenzo? Gak mungkin.”


Theresa masih tak yakin. Dia memilih ke dokter. Akhir-akhir ini juga kalau pagi dia suka mual. Dia kira karena sifh malam di resto jadi masuk angin. Tapi dia baru sadar kalau dia belum datang bulan.


Dia berbaring dan bidan itu melakukan USG kepada theresa. Theresa menatap layar USGnya dengan khawatir.


Dia masih berharap alatnya salah. Entah bagaimana.


“Bagaimana dok?” tanya theresa kepada sang bidan wanita itu.


“ini nona. Selamat ya, anda hamil. Usian kandungannya dua bulan. Ini sudah terlihat kantung rahimnya. Bahkan ada dua.”


“Maksudnya?”


“Anda hamil kembar.”


Theresa terdiam. Dia seakan tak percaya. Dokter memberikan resep obat, vitamin dan juga susu hamil.


Theresa bingung harus menebusnya atau?


“Dokter, apa dua bulan masih bisa digugurkan?” tanya theresa ketika akan pulang.


“nona, kenapa digugurkan semua bahagia memiliki anak.”


“Ayahnya tidak menginginkan bayi ini. Apa masih bisa?”


“apa nona tidak sayang dengan anak nona sendiri. Kembar lagi. Mereka pasti sangat lucu kalau lahir nanti. Memanggil nona mama, nona tak mau dipanggil mama? Mereka juga tidak berdosa, kenapa harus dibunuh?”

__ADS_1


“Ahh iya. Terima kasih.”


Theresa juga tak sejahat itu. Dia nemesan taxi dan ke apotik lagi. Sepanjang jalan ke rumah dia melamun.


Tangannya reflek mengusap perut rata dia. Apa harus digugurkan atau tidak. Bahkan perut buncit yang theresa pikir masuk angin, di dalamnya ternyata ada bayi-bayinya. Anak-anaknya.


Theresa sudah menembus susu hamilnya. Dia makan roti dan menuangkan susu hamilnya. Dia duduk di ruang tamu kost kecilnya. Dia menangis sambil makan dan minum.


“kalau tidak digugurkan, bagaimana masa depan mereka nanti?”


“kalau digugurkan, aku juga kesepian, setidaknya ada mereka yang akan menemani hidupku.”


“ibu-“


Theresa jadi ingat ibunya. Dia sudah lama tak datang ke makamnya. Theresa ingin ke sana.


***


Sorenya theresa langsung mencari bus dan ke luar kota. Ke kota itu lagi. Tapi ingat dengan semuanya. Dia memilih tak jadi naik bus.


Dia membiarkan busnya jalan meninggalkan dia.


Theresa duduk di terminal dan menangis di sana. Ditambah hujan deras.


“Ahh, setidaknya ada kalian yang bersama dengan mama, ok. Kalian tidak akan meninggalkan mama kan?”


“janji ya? Mama juga tak akan membuang kalian atau membunuh kalian, maaf sudah berpikir seperti itu.”


Theresa membeli patung dan pulang ke rumah. Ke kostannya.


***


Di rumah Kenzo. Dia sedang di ruang kerja di rumahnya. Dia melihat keluar jendela dan hujan teras. Kenzo ke kamar Ita.


Tapi Ita malah tidur di kamar ibu dan there lagi. Memeluk baju There lagi. Kenzo membenarkan selimut Ita.


“Mau sampai kapan kamu begini dik?” Kenzo mengusap kepala Ita yang sudah tidur pulas.


Kepala Kenzo sakit. Dia membuat kopi sendiri. Dia jadi ingat There yang membuatkan kopi. Kenzo tak sengaja melihat susu hamilnya. Susu pembuahannya There. Dia ingat sesuatu.


“halo Tante. Apa Theresa mungkin hamil anak aku?” tanya Kenzo di tengah malam.


“tidak tahu. Kalau tidak masalah ya harusnya berhasil.”


“apa tidak bisa dicari lewat rumah sakit atau klinik Tante? Dengan nama pasien yang sama, mungkin kalau dia hamil harusnya memeriksakan diri ke klinik atau dokter kan Tante?”


“tunggu. Tante bantu coba cari lewat dokter coba.”


Tante dokter mematikan sambungan teleponnya. Kenzo berharap itu berhasil.

__ADS_1


__ADS_2