KENZO [Series Big Boy]

KENZO [Series Big Boy]
Part 15. Inseminasi buatan


__ADS_3

Hari ini jadwal theresa dan Kenzo adalah ke dokter kandungan. Untuk melakukan inseminasi buatan. Setidaknya theresa lega, dia berusaha membalas kebaikan dan ketulusan Ita.


Ita juga tidur dengan dia malam ini, di kamar ibunya. Seperti biasa Theresa bangun lebih awal. Dia mandi lebih dulu. Dia sengaja ke dapur dan memasak sendiri untuk Ita.


Bibi yang tak enak melihat itu. Bibi mencoba menghentikan theresa, yang bibi kira juga hamil beneran.


“Non, gak usah. Sini bibi saja yang masak sarapannya.” Kata bibi kepada theresa.


“Gak apa-apa bi. Saya pengen masak buat Kenzo sana Ita. Ya Bi, bibi bantuin aja.”


Bibi pun akhirnya ikut membantu saja. Theresa yang memasak pagi ini dan menyiapkan semuanya di meja makan. Bibi membantu sedikit-sedikit saja.


Kenzo di kamarnya. Dia sudah bangun dan mandi. Dia mengecek jadwal kantornya hari ini dan juga jadwal ke rumah sakit.


Dia turun untuk mengingatkan theresa. Tapi ternyara sudah bangun.


“ini, semua yang siapin kamu?” tanya Kenzo kepada Theresa.


Dia mengangguk, “gak apa-apa kan?” tanya theresa kepada Kenzo. Dia mengangguk. Kenzo duduk di tempatnya.


“Ita mana?” tanya Kenzo yang tak melihat sang adik.


“Di sini kak.” Ita bangun. Dia keluar dari kamar ibunya there. Dengan mengucek matanya dan berjalan ke meja makan.


“Tapi aku mau mandi dulu aja kak, baru sarapan. Nanti aku ke kampus ya kak.” Kata Ita kepada Kenzo.


Ita naik ke kamarnya. Theresa mengambilalih makanan untuk Kenzo. Setelahnya ke kamar ibu untuk melihat kondisi ibu.


Ibu sudah lebih baik. Jaang rak memakai kursi roda. Ibu bahkan sudah bangun dan berdiri.


“Ibu, hati-hati.”


Theresa yang baru masuk panik karena melihat ibunya sudah mau olahraga. Seperti merentangkan tangannya.


“Gak apa-apa. Kata susternya saja diperbanyak olahraga ringan gitu.” Kata ibu kepada anaknya itu.


Kedua suster ibunya juga datang. Suster mengajak ibu untuk olahraga di luar. Matahari pagi sangat baik. Theresa ikut ke depan.


“Gak usah. Itu suami kamu, makan sendirian. Kasihan.” Kata ibu kepada theresa.


“gak apa-apa ibu. There juga butuh matahari pagi yang bagus kan. Nanti juga bentar lagi aku selesai makan kok.”


“Tuh kan.”


Theresa malah menatap ibunya dengan puas. Karena Kenzo membela dia kali ini. Ibunya mengangguk saja.


“Ya sudah, yang dibelain suaminya. Yuk bumil mau jemur di depan.”


Ibunya menggandeng theresa ke depan. Mereka sama-sama jalan-jalan dan jemuran di depan. Dengan matahari jam tujuh pagi.

__ADS_1


Uta sudah selesai mandi dan turun kembali ke meja makan. Tapi dia tak melihat kakak iparnya.


“kak, kak there dimana?” tanya amrita kepada Kenzo.


“di depan. Jalan-jalan di depan sama ibu, sama jemuran.”


“Oh.”


Ita pun diam dan mengambil sarapan dia. Dia memakannya.


“Siapa yang masak kak?” tanya Ita kepada Kenzo.


“kata bibi kak there.”


“Enak banget masakannya. Tumben, kok rasanya beda yang kayak biasa bibi masak.”


Kenzo hanya diam saja. Kenzo juga makan dengan lahap. Ita malah menunjukkan jempol kepada dia.


“aoa itu?” tanya Kenzo bingung.


“Pinter cari calon istrinya. Aku suka, top pokoknya.”


Kenzo diam saja. Di deoa. Theresa dan ibu bertemu dengan Brian yang baru datang. Dia membawa mobilnya. Mobil Brian sudah keluar dari bengkel.


“Kak, ibu, pagi.” Brian turun dari mobil dan menyapa keduanya.


“pagi pacarnya Ita.” Sapa ibu dan theresa.


Brian mengangguk. Dia masuk menghampiri Ita. Ita melambaikan tangan menyapa Brian yang baru datang.


“Sayang, sudah sarapan belum?” tanya Ita keoada Brian. Dia menarik tangan Brian, memaksa Brian untuk duduk di samping dia.


“Belum, sengaja.” Kata Brian kepada Ita.


“Aku ambilin ya, kak there yang masak. Beda dengan masakan bibi, coba deh rasain.”


Ita mengambilkan dengan semangat. Dia menaruhnya di depan Brian.


“gak mau suapin sayang?” tanya Brian kepada Ita. Brian ini sudah tak takut dengan Kenzo.


Walau pun wajah Kenzo garang, tapi Kenzo sangat sayang dengan adiknya. Asal Brian baik dengan ita, Brian tak takut dengan kakaknya itu.


“ta, kakak mau berangkat. Mau cek up ke dokter sama kak there. Kamu di kampus jangan jauh-jauh dari Brian. Brian, nitip ya.”


“siap kak.”


Kenzo pamit. Dia mengusap kepala sang adik. Tapi Ita menatap kakaknya itu dengan kesal. Sudah dibilang jangan rusak rambutnya. Tapi masih saja.


Theresa masih di depan dengan ibu. Menuntun ibu dan jalan-jalan kecil di depan rumah. Dibawah sinar matahari pagi. Kenzo menghampiri theresa.

__ADS_1


“yuk sayang, kan sudah ada janji sama dokter.” Kata Kenzo berbisik di telinga theresa, dia merangkul pinggang theresa.


Setiap kali Kenzo melakukan itu, theresa kaget dan gugup sekali. “iya.” Theresa mengangguk.


“Ibu, theresa tinggal bentar ya. Suster, tolong jagain ibu dengan baik ya sus.” Ujar Theresa kepada dua suster itu.


“Baik nona. Sudah tugas kami.” Mereka mengangguk kepada theresa.


“Siap-siap dulu. Aku panasin mobil dulu.” Kata Kenzo kepada Theresa.


“Iya.” Theresa mengangguk. “ibu, aku ambil tas bentar ya. Aku tinggal ya ibu.” Pamit theresa kepada ibunya.


“iya sayang. Hati-hati. Jalannya gak usah cepet-cepet. Apa lagi lari. Inget ada bayinya diperut kamu.” Ibu mengusap perut theresa.


“iya ibu.”


Theresa masuk ke dalam dan Mengambil tasnya. Dia juga melihat Briana juga Ita. Theresa menyapa keduanya.


“Kak, mau ke dokter?” tanya Ita ke Theresa.


“iya. Brian, nitip. Jangan jauh-jauh dari Ita tapi jangan macem-macem juga sama Ita kamu.”


“siap kak.”


Theresa mencium pipi Ita. Begitu juga dengan Ita. Theresa ke depan. Ibu juga sudah di sana. Di dekat mobil Kenzo.


“bu, pamit dulu.”


Kenzo pamit kepada ibu. Theresa juga, dia mencium tangan ibunya. Kenzo membukakan pintu untuk theresa. Mereka melambaikan tangan kepada ibu dari dalam mobil.


Kenzo menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah. Mereka ke rumah sakit.


Hanya butuh satu jam kurang untuk mereka sampai. Hingga motor Kenzo sudah ada di area perkiraan rumah sakit.


Kenzo turun begitu juga dengan theresa. Mereka langsung menuju ke ruangan dokternya.


“Tante.”


Kenzo kenal banyak dokter disana.


“om.”


Yang perempuan untuk dokternya there, yang laki-Laki untuk Kenzo.


“Gak mau secara alami? Lagian kan kalian juga mau menikah.” Kata dokter laki-laki itu kepada Kenzo.


“om, ini kan Cuma pernikahan perjanjian.” Dokter wanita iu menyindir Kenzo.


Kenzo mengangguk. Memang dia mau mengatakan itu.

__ADS_1


“ikut saya sayang kamu, Kenzo biar ikut om. Semua dokter disini, itu om dan tantenya Kenzo, tuan pemilik rumah sakit ya? Jadi kamu jangan sungkan sama kita.”


Theresa hanya mengangguk saja. Dokter wanita itu menggandeng theresa masuk ke ruangan dia. Sementara Kenzo ke ruangan dokter laki-laki.


__ADS_2