KENZO [Series Big Boy]

KENZO [Series Big Boy]
Part 7. Dosen cabul


__ADS_3

“Dik, kan dosen cabul. Ya biarin aja di pecat. Biar jadi pelajaran juga ke dosen itu. Kamu masalah gini gak cerita sih ke kakak?”


Kenzo mau mendekati amrita. Tapi amrita malah sembunyi di balik badan theresa. Kalau sudah dibentak, dia itu takut.


“biarin ita tenang dulu. Lagian kamu kenapa sih, main banting pintu, main buang minuman Ita. Ada ibu aku juga disini. Saja keluar aja dulu, kalau mau pulang-pulang aja dulu. Ita sama aku.”


Theresa menahan Kenzo yang mau mendekati amrita lagi. Dia sudah merasakan amrita sangat ketakutan. Sampai tangannya shekking. Badannya bergetar.


“ibu maaf ya, ibu gak apa-apa kan? Tadi kaget ya karena aku?” Kenzo melirik ibu theresa.


“Dikit, gak apa-apa kok. Jantuhg masih aman. Kamu tenangin emosi kamu dulu saja Kenzo.” Ujar ibu Theresa kepada Kenzo.


“aku urus administrasinya ibu. Pulang sore ini kan kata dokter?” tanya Kenzo kepada Theresa. Dia mengangguk.


Kenzo keluar dari sana, tapi dia berbalik lagi. “kakak telepon kampus, kakak ceritakan semuanya. Biar dipecat dosennya.”


“Kak.”


Amrita mau menyusul Kenzo. Tapi ditahan theresa.


“dik, itu bener kok keputusan kakak kamu. Mungkin saja bukan Cuma kamu kan yang hampir dilecehkan dosen itu. Biarin diurus kakak kamu ya.”


Kenzo diam menatap theresa yang bisa menasehati adiknya dengan baik. Amrita mengangguk.


“aku mau minta maaf gak cerita selama ini ke kakak. Dosennya punya istri dan anak masih kecil kak, aku gak tega. Aku fikir, dengan Brian yang datang dan mengancam cukup. Tapi aku masih takut ketemu dosennya.”


Theresa yang menahan tangan Kenzo yang mau pergi. Kenzo berbalik dan menatap sang adik juga tangan there yang menggenggam tangannya. Ini kali pertama bagi Kenzo. Mengizinkan wanita lain untuk menyentuh dia. Biasanya hanya amrita.


Amrita mendekati kakaknya dan memeluk sang kakak.


“Kakak yang minta maaf ke kamu ya karena tadi, karena bentak kamu, bikin kamu takut, nangis, dan jusnya. Nanti kakak ganti.”


Kenzo memeluk erat sang adik. Mencium puncak kepalanya.


“Iya kak. Gak apa-apa.”


“ya sudah, kakak mau ke administrasi dulu. Urusan kampus kakak urus besok gak masalah kan?”


“iya.”


Kenzo melepaskan pelukannya kepada sang adik. Dia menatap theresa.


“Titip iya ya sayang, jagain. Itu, jusnya boleh buat ita dulu gak? Dia suka banget jus apel.”


Kenzo menunjuk jus apelnya Theresa. Dia mengangguk.


“iya-iya boleh kok.”

__ADS_1


“Aku ke luar dulu, mau urus administrasinya sama kepulangan ibu.”


Kenzo mengusap pipi theresa. Walau pun Cuma pura-pura. Tapi theresa melakukannya dengan senang hati. Dia malah jadi ikut terbawa perasaan.


Kenzo kwluar. Brian tetap di sana. Dia juga ikute menangkan amrita. Theresa memberikan minumannya.


“Ini dik, minum dulu aja. Kakak bisa minum susu hamil.”


“kakak minum dulu, baru aku.”


Amrita malah meminta theresa minum lebih dulu. Theresa pun melakukannya, dia meminum setengah dan setengah untuk amrita.


“Enak, rasanya fresh.”


“iya kan kak. Itu langganan aku. Enak banget, gak pakai gula tambahan lagi. Aman dan sehat pokoknya.”


“iya.”


Keduanya kembali duduk. Ibu theresa senang sekali melihat anaknya yang dulu harus hidup susah. Kini ada Kenzo dan amrita.


“aku beliin deh, dua lagi apa? Atau mau sekalian di jalan pulang aja?” kata Brian kepada amrita.


“Gak usah sayang. Nanti aja, kan bentar lagi ibu juga pulang.”


Brian mengangguk. Ketiganya menunggu Kenzo menyelesaikan administrasinya.


“Thank you dok, atas bantuan dan semuanya juga selama ini.”


Kenzo ada di ruangan dokter setelah mengurus surat izin kepulangan ibunya Theresa.


“Sama-sama tuan. Anda juga banyak membantu orang yang susah dan tidak mampu. Semoga anda bisa membuka hati kepada nona theresa. Dia kelihatan wanita yang baik, pantas mendampingi Anda. Dia juga sangat lembut dan menyayangi Ita.”


“Saya mau ikut ke ruangan ibunya nona theresa, sekalian mau banyak bicara sedikit.”


Kenzo mengangguk. Dia dengan sang dokter berjalan bersama ke ruangan ibunya theresa. Tapi tentang ucapan sang dokter. Kalau dia dan theresa semoga menjadi pasangan sungguhan, theresa benar-benar hamil anak dia. Kenzo tak yakin.


Masih susah untuk dia membuka hati, terlebih membina keluarga.


Kenzo akan memikirkannya nanti.


Dia membuka pintu ruangan ibunya theresa. Mempersilakan sang dokter masuk lebih dulu.


“Selamat siang menjelang sore semuanya,” sapa dokter kepada semua di ruangan itu.


“Siang dokter.”


Theresa dan amrita berdiri menyambut sang dokter. Dokter berdiri di samping ibunya theresa. Ada suster juga yang ikut.

__ADS_1


“pemeriksaan terakhir kali sebelum pulang ya ibu.” Kata sang dokter kepada ibunya theresa.


“iya dokter.”


Dokter memeriksa ibu. Semua diam dengan wajah yang tegang. Semoga semuanya baik-baik saja.


Amrita berdiri di samping Brian. Brian merangkul amrita.


Kenzo dipaksa amrita untuk berdiri di samping theresa. Dia memeluk lengan sang kakak.


“kak, di rangkul gini kak, kak therenya,” ujar amrita kepada Kenzo.


Theresa dan Kenzo melirik amrita. Mereka saling menatap ragu, tapi akhirnya Kenzo melakukannya. Dia tak mau amrita curiga. Dia merangkul theresa.


Sampai dokter selesai memeriksa. Dokter malah senang melihatnya.


“ditanyain anak-anak, kak therenya mana, nanti kalau nikah, diundang anak-anak kau bisa nyonya Kenzo, boleh gak nih sama tuannya?” Ujar dokter menggoda theresa.


Theresa bingung. Dia menatap Kenzo. Semuanya juga terserah Kenzo.


“iya ibu dokter yang ceriwis, kita undang semuanya. Kalau perlu pesta di sini apa pernikahannya?”


“jangan, ganggu yang sakit. Awas kamu bikin gaduh rumah sakit. Mereka mau istirahat.”


Kenzo malah tertawa. Mereka sudah seperti ibu dan anak. Wanita paruh baya itu sudah seperti pengganti ibu Kenzo dan amrita.


“cie, akhirnya dapat kakak ipar nih. Gak ngerengek lagi kan?”


“iya Tante dokter.”


“semuana baik. Boleh pulang, jaga kesehatan dan makan.” Kata sang dokter kepada semuanya.


Semuanya senang mendengar itu. Terutama theresa. Dia meraih tangan ibunya. Menangis menatap ibunya.


“Jangan nangis, ibu hamil gak boleh nangis. Kalau kamu sedih, bayinya ikut sedih Ra.” Kata ibu theresa kepada anaknya itu.


“Ibu gak tahu gimana takutnya aku satu Minggu lalu, aku gak mau kehilangan ibu.” Ujar theresa dengan air mata yang tak bisa dia tahan.


“Kak, dipeluk kak there-nya. Dibantu diusap gitu loh air matanya. Dicium keningnya atau apa gitu, biar lebih tenang gitu. Ih, gak ada romantisnya sama calon istri, mana istrinya lagi hamil juga kak. Kan butuh perhatian lebih kak.” Ujar amrita memukul lengan kakaknya lagi.


“Kamu tuh, makin berani ya sama kakaknya. Dari tadi dibiarin, dorong kakak, pukul Kakak.” Ujar Kenzo melotot menatap amrita.


Amrita yang tadinya berdiri di Sampai Kenzo jadi pindah. Dia bersembunyi dibalik badan Brian.


“Bener, tuan Kenzo,” timpal sang dokter.


Kenzo pun terpaksa melakukannya. “sudah, jangan nangis lagi sayang. Gak baik buat adik bayiinya. Sekarang juga ibu sudah gak apa-apa kan, sudah sehat, boleh pulang,” Kenzo menarik there ke pelukan dia. Mengecup kening there dan mengusap air matanya. Dia juga mengusap perut there.

__ADS_1


Banyak kupu-kupu yang berterbangan di hati theresa.


__ADS_2