![KENZO [Series Big Boy]](https://asset.asean.biz.id/kenzo--series-big-boy-.webp)
“demam,”
Ibu dan Ita yang mendengar itu langsung ke kamar. Ibu memeriksa kening theresa.
“Iya demam, kok bisa sih. Telepon dokter coba Kenzo, ibu khawatir sama there, dia juga gak bisa dikasih sembarang obat kan karena lagi hamil,” ujar ibu kepada Kenzo.
Kenzo mengangguk. Dia mencoba menelpon dokternya theresa. Tapi kata sang dokter, itu efek tadi saja, inseminasi buatan. Tidak apa-apa. Tapi Kenzo bingung mau bilang apa ke ibu.
“Ibu bentar ya, aku ke depan. Sinyal di sini jelek,” kata Kenzo kepada ibu.
“iya,” ibu mengangguk percaya saja.
Kenzo keluar. Dia bicara di luar agar tidak didengar oleh Ita dan ibu. Brian malah yang mendengar itu. Dia tak sengaja lewat, karena mau ambil sesuatu di dalam mobil.
“tan, ke sini aja ya. Aku gak tahu ngomongnya gimana, pura-pura aja periksa theresa dan bilang kenapa gitu, entah alasan apa gitu, dari kada aku jelasin, bingung juga, masak bilang inseminasi buatan, nanti ketahuan dong theresa Cuma pura-pura hamil.”
Kenzo mematikan ponselnya setelah selesai telepon. Dia menoleh ke belakang. Tapi malah melihat Brian di sana.
“brian, kamu sejak kapan ada di sini?” tanya Kenzo kaget.
“kak, kak there Cuma pura-pura...”
Kenzo langsung meminta Brian untuk diam. Dia menarik Brian ke rumah samping dan menjelaskan semuanya.
“Jangan cerita ke Ita ya, nanti dia sedih. Kita lagi usaha kok, kak there baru inseminasi buatan, biar hamil, jadi jangan cerita ya.”
“kak there kenapa? Gak bisa hamil atau susah hamil?”
“Iya.”
Kenzo bilangnya seperti itu saja. Brian mengangguk. Keduanya masuk kembali ke rumah.
Tak lama dokter datang. Dokter yang biasa memeriksa Theresa juga.
“gimana dok?” tanya ibu yang sangat khawatir.
“Gak apa-apa ibu, jangan biarin there makan banyak ice cream atau yang dingin-dingin ya,” kata dokter menatap semuanya. Terutama Kenzo, dia memberi kode kepada Kenzo.
Itu hanya alasan saja. Karena tak bisa diberi obat sembarang, dokter hanya menyarankan banyak minum air putih, yang hangat-hangat dan jangan kecapean. Setelah itu dokter pamit pulang. Kenzo mengantar sampai ke depan rumah.
“tante, makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
Dokter itu pun kembali masuk ke mobilnya dan pergi dari rumah Kenzo.
***
Kenzo meminta theresa istirahat total sampai dengan hari pernikahan keduanya.
Satu Minggu berlalu. Hari ini adalah hari dimana keduanya akan secara remsi menikah. Resmi menikah dalam pandangan negara. Tapi ada kontrak tersendiri di antara keduanya.
__ADS_1
Setelah bayi itu lahir, atau kalau nanti theresa hamil dan sudah melahirkan, Kenzo mau mereka bercerai.
Theresa terpaksa menyetujui itu dan tanda tangan itu.
Semua tamu undangan sudah datang dan berkumpul di tempat acara.
Theresa sangat cantik dengan gaun putihnya yang simple tapi elegan. Ibu dan Ita yang menggandeng theresa. Ada Brian juga disana.
Mereka membawa theresa kehadapan Kenzo. Kenzo mengulurkan tangannya menggandeng tangen theresa.
Di depan semua orang, keduanya mengucap janji pernikahan.
“saya, Kenzo, meminta engkau, Theresa, untuk menjadi istri saya, dalam suka mau pun dulu, dalam susah mau pun senang, dalam sehat mau pun sakit, hingga maut yang hanya bisa memisahkan kita.”
“saya, theresa, menerima engkau, Kenzo, untuk menjadi suami saya, dalam suka mau pun duka, dalam sehat mau pun sakit, sampai maut memisahkan kita.”
Keduanya resmi menjadi suami istri. Banyak tepuk tangan yang menyertai keduanya setelah keduanya lancar mengucapkan janji pernikahan.
Keduanya pun berciuman di depan semua orang.
“selamat ya kak,” Ita yang menghampiri keduanya yang baru saja turun dari altar pernikahan. Ita memeluk theresa.
“makasih dik.” There balik memeluk dan mencium pipi ita.
“Selamat ya kak,” Brian juga ikut memberikan selamat.
“ibu bahagia banget masih ada dan bisa lihat kamu menikah. Cantik banget anak ibu.” Giliran ibu yang memeluk theresa.
Theresa menangis memeluk ibunya. “jangan nangis dong ibu, masak dihati bahagia nangis sih ibu.” Theresa mengusap air mata ibunya.
Kenzo mengajak theresa untuk bertemu dengan bebetapa rekan kerja dan klien dia.
Selesai dari sana, mereka pulang ke rumah untuk istirahat. Keduanya sudah sepakat satu kamar, tidak saling menyentuh dan mengganggu privasi satu sama lain.
Kamarnya juga sudah dipindah ke bawah. Kenzo tak mau theresa kalau benar hamil nanti kecapean bolak-balik.
Selama satu Minggu sekali, theresa ke dokter untuk kontrol. Tapi hasilnya belum juga kelihatan. Apa inseminasi buatannya berhasil.
***
1 Minggu setelah pernikahan.
“Tuan, kalau tidak berhasil bagaimana?”
Keduanya ada di dalam mobil. Theresa takut itu. Mereka mau ke klinik untuk tes lagi.
“harus bisa, nanti kita cari cara lain.”
“kalau melakukannya langsung?”
Kenzo menatap theresa dengan tajam. Theresa langsung memalingkan muka.
__ADS_1
Tak lama mobil Kenzo sampai di rumah sakit. Keduanya langsung ke ruang kandungan.
Dokter memeriksa theresa. Kenzo duduk di ruangan dokter dan menunggu hasilnya.
“Ken, mau lihat gak. Sini.” Dokter malah memanggil kenzo.
“hah? Tapi Tante, gak usah lah. Aku percaya sama Tante.” Kenzo menolak. Dia sejak tadi menyibukkan diri memantau kerjaan kantor dari ponselnya.
“sini, biar percaya. Ini harusnya sih dua bulan lagi berhasil. Asal jangan kecapean aja istri kamu.”
Dokter malah menarik Kane ke ruang pemeriksaan. Kane tak bisa lagi menolaknya.
Dia diam ketika melihat theresa yang berbaring di ranjang pemeriksaan dengan perutnya yang kelihatan.
Theresa yang merasa malu. Dia mencoba menutupinya. Menurunkan kembali bajunya yang tadi disibakkan oleh Tante dokter.
“kok ditutup sih sayang. Emang gini, kan mau di USG.”
“ini lihat, Ken.”
Dokter malah kembali menyibakkan baju theresa di area perut. Kenzo menatap perut theresa secara tak sengaja. Dia malah jadi salah tingkah sendiri, kikuk dan malu.
“ini, harusnya jadi kok. Kamu gak pendarahan kan sayang?” tanya dokter kepada theresa.
Dia juga menunjuk hasil USGnya. Theresa menggeleng.
“Tunggu deh, beberapa Minggu lagi. Pasti sudah bisa melihat kantung rahimnya kalau berhasil. Kita lihat tujuh Minggu ke depan. Itu baru bisa kelihatan. Sabar.”
Kenzo mengangguk. Selesai mendengar penjelasan, dia langsung kabur keluar.
Dia duduk kembali di ruangan dokter. Theresa juga keluar dari ruang pemeriksaan.
“Susu pembuahannya masih diminum kan?”
Theresa duduk di samping Kenzo.
“iya Tante.”
“Iya, bagus. Minum saja kalau habis nanti minta Kenzo belikan lagi ya.”
“belum habis kok Tante, masih lumayan banyak.”
“ok ok.”
Selesai pemeriksaan, keduanya pun pamit. Tante dokter juga harus menerima pasien lain lagi.
Di jalan pulang, mereka malah saling diam dan Suasana jadi gugup di dalam mobil.
***
Ita sedang beres-beres dapur. Dia tak sengaja melihat ke tempat sampah. Dia menemukan bingkisan, susu pembuahan.
__ADS_1
“Kok, susu pembuahan?”
Ita memotretnya dan mencoba mencari di internet. Dia kaget membaca artikelnya.