Keputusan Terbesar Zivanya

Keputusan Terbesar Zivanya
Bab 13. Uji Coba


__ADS_3

Pakaian yang dikenakan wanita itu membuat Zivanya terus beristighfar dalam hati. Tubuhnya terasa lemas dan bergemetar. Bahkan kedua telapak tangannya pun telah basah oleh keringat. Ia gugup dan sulit sekali berkata-kata. Sebisa mungkin ia menguatkan diri supaya tidak pingsan di tempat.


Dengan pandangan kosong, Zivanya terus melihat ke arah wanita itu tanpa berkedip.


"Kenapa wajahmu sangat pucat? Kamu gak lagi sakit kan?"


Seketika Zivanya terkesiap ketika wanita itu bertanya padanya dan tidak sadar sejak kapan pintu ruangan tertutup serta wanita itu sudah berada di depannya. "Oh gak. Saya gak apa-apa."


Pria yang sejak tadi duduk pun kemudian beranjak dan berjalan menghampiri kedua wanita itu.


"Queen, tolong ajarkan dia tugas apa saja yang harus dia lakukan selama jadi pembantu pribadi saya. Besok pagi, saya tidak ingin dia melakukan kesalahan. Ajarkan dia sampai benar-benar bisa!" perintah pria itu dengan penuh penekanan, kemudian pergi dari ruangan itu.


Zivanya merasa lega ketika pria itu telah pergi. Namun setelah itu tugas yang cukup berat baginya pun menanti.


"Baiklah, saya tidak ingin membuang waktu ... Nama kamu siapa?" tanya wanita itu terdengar ketus.


"Zivanya."


"Oke Zivanya. Kenalin saya Queenara, wanita yang sudah tiga tahun terakhir ini menjadi pembantu pribadinya Bos ... " ucap wanita itu sebagai kata pengantar sebelum menjelaskan. Disana Zivanya hanya diam dan menganggukkan kepala sebagai tanda paham.


Queen melangkahkan kakinya dan melipat kedua tangan di belakang. Wanita itu mulai menjelaskan secara detail mulai dari pekerjaan wajib hingga beberapa hal yang tidak boleh dilakukannya selama bekerja dalam rumah itu.


...----------------...


Keesokan paginya, Zivanya bangun tepat pukul empat pagi. Ia segera mandi lalu melaksanakan sholat Shubuh terlebih dahulu. Tepat di pukul lima kurang lima belas menit, Zivanya keluar dari kamar menggunakan pakaian yang dibawanya dari rumah. Ya, hanya pakaian rumahan yang biasa ia pakai.


Namun ketika baru saja membuka pintu, sebuah dres dengan dada terbuka dan panjangnya hanya kira-kira beberapa centi di atas lutut, melayang tepat di depan wajahnya.


"Hhhaah!" Zivanya terkejut sambil membulatkan matanya.


Lalu Queen muncul memegang hanger pada dress itu.

__ADS_1


"Kamu telat lima belas menit. Seharusnya kamu sudah keluar dari kamar setengah lima pagi. Sekarang sudah mau jam lima," ucapnya menggertak Zivanya. Meskipun suaranya tertahan namun tatapan matanya begitu mematikan.


"Maaf, tadi saya sholat Shubuh terlebih dahulu," jawab Zivanya menundukkan pandangannya.


"Ingat ya, Bos itu tidak ada kata toleransi untuk hal apapun. Sekarang mungkin kamu dimaafkan, tapi besok saat kamu benar-benar bekerja semua harus tepat waktu ... dan kamu jarus memakai pakaian seperti ini selama bekerja. Berikut dengan heels-nya." Queen memperlihatkan yang melekat di tubuhnya.


Zivanya tentu terperangah. Baru kali ini ia akan tampil memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat menggoda kaum adam. Apalagi jika sampai ke luar rumah. Ia takut teman-temannya akan mengenalinya dengan tampilan seperti itu.


"Apa harus memakai pakaian seperti itu?" tanya Zivanya masih belum siap memakainya.


Lantas pertanyaan gadis itu mengundang amarah bagi Queenara. Wanita itu membulatkan matanya seakan ingin keluar dari kelopak mata.


"Kamu mau aman kerja di sini gak? Kalau sampai kamu gak mau pakai pakaian seperti ini, siap-siap saja kamu harus urusin kandang singa yang ada di halaman belakang rumah ini!" ujar Queen membuat Zivanya bergidig ngeri.


"Memangnya beneran ada?" tanya gadis itu. Lalu Queen berdecak kesal.


"Terserah deh mau percaya atau enggak. Terserah juga kalau kamu tetap mau pakai pakaian seperti itu. Siap-siap saja menjadi santapan lezat para singa," sarkas Queen sambil melemparkan pakaian yang dipegangnya itu ke wajah Zivanya.


"Ingat, kamu harus mempraktekkan yang kemarin aku ajarkan. Jangan sampai ada kesalahan jika kamu masih ingin hidup!" pungkas Queen lalu berbalik badan dan pergi dari hadapan Zivanya.


Gadis itu menghela napasnya lalu menaruh pakaian yang dilemparkan oleh Queen tadi ke dalam lemari yang ada di kamarnya. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membuatkan bosnya itu sarapan.


Sesampainya di dapur, Zivanya sama sekali tidak melihat siapapun.


"Sepi banget. Queen pergi kemana lagi?" gumamnya lalu membuka lemari es dan mengambil beberapa bahan untuk membuat sandwich.


"Queem bilang masaknya harus pakai cinta. Tapi bagaimana? Selama ini aku gak pernah masak. Aku ikutin cara Queen aja deh." Zivanya mulai meracik sandwich sesuai resep dari yang Queen ajarkan kemarin.


Beberapa menit kemudian, sarapan pun telah selesai. Keringat yang ada di kening pun tanpa terasa sudah bercucuran sejak tadi. Zivanya langsung membereskan peralatan masak dan membuang sampah pada tempatnya. Tak lupq juga mengelap keringatnya dengan tisu yang ada di dapur.


"Tisunya orang kaya tebal juga ya ternyata. Sampai gak sobek loh habis dipakai buat lap keringat. Keren, beda banget sama beli di warung yang harganya dua ribuan," kata Zivanya bermonolog lalu membuang tisu bekas pakainya ke dalam tempat sampah.

__ADS_1


Gadis itu tidak tahu kalau tisu tersebut khusus untuk membersihkan minyak serta kotoran bekas masak yang berceceran di area dapur. Hmm, Zivanya kalau bosnya sampai tahu, kira-kira reaksinya bagaimana ya?


Sepiring sandwich buatannya itu ia taruh ke atas meja makan berikut dengan buah potong serta segelas air putih.


"Sekarang saatnya bangungin pak bos deh!" serunya setelah membuka apron dan mengembalikan ke tempatnya. Ia berjalan menuju lantai dua yang memang khusus ruang kerja dan kamar pemilik rumah tersebut.


Saat tiba di depan pintu kamar, Zivanya mengetuk pintunya terlebih dahulu. Setelah dirasa tidak ada jawaban, ia masuk ke dalam menggunakan kartu akses yang diberikan oleh Queen. Sebab kata wanita itu, kalau setelah diketuk tidak ada jawaban, langsung masuk saja ke dalam. Zivanya pun mempraktekkannya.


Siapa sangka? ketika gadis itu baru saja menutup pintu, ia terkejut melihat pria yang ada di depannya itu hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya serta masih ada buliran air yang mengalir di area dada bidang, perut sixpack serta lengan berotot pria itu. Zivanya terperangah dan sulit mengedipkan matanya.


"Ya Allah, godaan apa lagi ini?" ucapnya dalam hati lalu berbalik badan.


"Maaf Bos, saya gak bermaksud lancang. Silahkan Bos pakai bajunya dulu, saya tunggu di sini," kata gadis itu merasa gelisah.


"Enak saja kamu! Pakaian saya saja belum kamu siapkan. Sudah jam berapa ini? Kenapa lelet sekali?!" gertak pria itu membuat Zivanya tersentak kaget, bahkan detak jantung gadis itu seperti ingin lepas dari tempatnya.


"Maaf Bos, saya--"


"Sudah gak usah banyak bicara. Cepat siapkan pakaian saya!" perintah pria itu sambil berkacak pinggang.


"Iya Bos, siap!" Zivanya berjalan dengan posisi menyamping. Ia tidak ingin melihat tubuh pria itu yang masih berte lanjang dada. Sebab hal itu baru pertama kalinya ia alami.


Gadis itu mempersiapkan pakaian kerja milik bosnya dengan gerakan cepat. Tidak sampai lima menit, pakaian sudah siap.


"Silahkan Bos," kata Zivanya setelah keluar dari ruang ganti pakaian sambil menudukkan pandangannya.


Tanpa berkata apapun, pria itu masuk ke dalam ruangan itu dan segera memakai pakaiannya. Sementara Zivanya langsung membereskan kamar sembari menunggu pria itu selesai.


Beberapa menit kemudian, pria itu berteriak dari dalam ruang ganti.


"Zivanya!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2