Keputusan Terbesar Zivanya

Keputusan Terbesar Zivanya
Bab 22. Sama Buruknya Dengan Sampah!


__ADS_3

"Bos, bisa bantu saya?" Kedua kaki Zivanya bergetar dan tidak kuat untuk berjalan.


Aries memutar badannya. "Kenapa kamu begitu norak sekali? Apa ini pengalaman pertamamu naik lift?" sarkas pria itu lalu mengempaskan napas kasar.


Reflek, nyali Zivanya menciut. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sebelum pintu lift tertutup kembali, Aries langsung mengulurkan tangannya.


"Cepatlah! Saya ada meeting pagi ini."


Zivanya meraih tangan Aries dan keluar dari dalam lift. Hembusan napas lega pun akhirnya mampu dikeluarkan olehnya.


"Terima kasih Bos."


Aries menarik tangannya kembali. "Sama-sama." Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat dirinya duduk bersama kursi kebesarannya.


Melihat Aries pergi, Zivanya pun menyusulnya.


Sampai ketika telah berada di dalam ruangan, seorang wanita cantik beranjak dari duduknya guna menyambut kedatangan atasannya.


"Selamat pagi, Bos," sapa wanita itu dengan lemah lembut. Pakaian yang dikenakannya pun tak ada bedanya dengan Queen. Terbuka, seksi dan terkesan sangat berani.


"Pagi." Pria itu menjawab acuh seraya berjalan ke arah kursinya tanpa ada raut wajah yang mengenakkan sama sekali.


"Pak, wanita ini siapa? Kelihatannya dia masih sangat muda sekali?" tanya wanita itu sambil menelisik Zivanya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


"Dia pelayan baru saya. Bagaimana meeting pagi ini apa bahannya sudah siap?" Aries langsung mengalihkan pembicaraannya ke pekerjaan.


"Apa Anda gak salah Pak? Kok punya pelayan malah seperti orang minta sumbangan buat bangun masjid," ujar wanita itu memberi tatapan menyeleneh terhadap Zivanya.


Hati Zivanya terasa mendidih mendengar dirinya diremehkan dengan orang seperti wanita itu. Emosinya terpancing untuk mengeluarkan kata-kata yang sudah mendongkol dalam hati.


"Hei. Anda kalau ngomong jangan lancang ya! Biarpun saya seorang pelayan tapi saya masih punya harga diri." Zivanya mendekat ke wanita itu. Jari telunjuknya berada tepat didepan dia. "Dan saya baru tahu, orang yang tampak berkelas seperti Anda memiliki mulut yang sama busuknya dengan sampah!" sarkasnya merasa puas.


"Si alan! Beraninya kamu menyebut mulutku sampah!" Tangan wanita itu melayang dan hendak memberi sebuah tamparan pada Zivanya. Namun ketika tangannya hampir mendekati pipi mulus gadis itu, sebuah tangan menahannya.


"Cukup Olive!" gertak Aries yang sempat segera beranjak dari kursi kebesarannya guna melerai kedua wanita yang ada di ruangannya itu. "Saya gak mau tahu, kalian harus saling minta maaf."


Wanita yang bernama Olive itu merupakan sekertaris Aries. Ia berdecak kesal sambil merapikan kembali pakaiannya. Setelah itu, gerakannya terhenti ketika tangan Zivanya terulur ke arahnya. Wajahnya kemudian terangkat.


Olive berdecak lalu memutar malas bola matanya. "Iya." Namun ia mengacuhkan uluran tangan Zivanya dan langsung menatap Aries sambil tersenyum. "Pak, kita harus ke ruang meeting sekarang. Saya rasa semuanya sudah menunggu."


Aries mengangguk. "Baiklah ... " Ia kemudian menoleh ke arah Zivanya. "Kamu tunggu disini sampai saya selesai meeting," pintanya.


"Baik Bos," jawab Zivanya lalu menundukkan wajahnya.


Setelah itu Aries pun pergi dari ruang kerjanya. Sementara Zivanya duduk di sofa sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Sepertinya Bos memang orang kaya. Nyatanya ruangannya saja luas dan mewah. Apa semua pemilik perusahaan memiliki ruangan seperti ini?" gumamnya merasa kagum dengan suasana di ruangan tersebut.

__ADS_1


Seketika ingatannya kembali pada Arion. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu memeriksa kontak Arion yang pernah ia simpan. Berhubung Aries tidak ada di ruangan, Zivanya mencoba menghubungi Arion. Namun tenyata nomor yang tersimpan dalam ponselnya itu sudah tidak aktif.


"Apa aku salah menolak ajakan Arion kemarin? Tapi aku cuma gak mau lepas dari tanggung jawab ini. Bagaimanapun aku harus segera bertemu sama ayah. Aku yakin ada sesuatu yang ayah sembunyikan lebih lagi," batin Zivanya bermonolog.


Setelah beberapa jam menunggu dengan rasa bosan yang kian memaksa mata untuk terpejam, pintu ruangan pun terbuka lebar. Zivanya yang hampir saja tertidur, seketika membuka matanya, merasa sangat terkejut.


"Astaghfirullah .... "


"Kamu kenapa? Tidur?" tanya Aries dengan sikap dinginnya sambil berjalan ke arah kursi kebesarannya.


"Enggak Bos." Zivanya seketika gugup. Apalagi saat melihat raut wajah Aries yang tampak menyimpan amarah.


"Sekarang, kamu bisa pergi ke supermarket dekat sini. Di depan lobby akan ada mobil yang akan mengantarmu ke sana. Dan setelah selesai, langsung pulang ke rumah, bereskan belanjaan lalu bersiap untuk ikut dengan saya," titah Aries.


"InsyaAllah," sahut Zivanya tersenyum simpul.


"Ya sudah segera berangkat sekarang! Amplop yang semalam saya kasih, dibawa 'kan?" tanya Aries.


"Dibawa Bos ... Kalau gitu saya permisi, assalamualaikum."


Zivanya menunduk hormat lalu berbalik badan dan pergi dari ruangan itu.


"Waalaikumsalam ...."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2