Keputusan Terbesar Zivanya

Keputusan Terbesar Zivanya
Bab 25. Minta Ganti Sekertaris


__ADS_3

Seorang wanita mampu mengetahui kode akses masuk ke dalam rumah crazy rich milik Aries. Ia melihat pintu lemari es yang sedang terbuka, tapi tidak menemukan orang lain di sana. Ia pun melangkahkan kakinya sangat hati-hati.


Tanpa disadari olehnya, Zivanya yang saat itu justru menyadari kehadirannya langsung berdiri dari posisinya yang sejak tadi duduk di lantai tertutupi oleh meja dapur.


Wanita itu berjalan memunggungi Zivanya.


"Hei, siapa kamu?" teriak gadis itu sangat lantang.


Seketika langkah wanita itupun terhenti kemudian berbalik badan.


"Olive? Kenapa kamu bisa masuk rumah ini?" tanya Zivanya mengerutkan alisnya, merasa heran.


Wajah Olive langsung terangkat. Raut kesombongan pun langsung tampak di wajahnya.


"Kenapa kamu berlagak seperti nyonya? Lebih baik kamu diam dan gak usah banyak bertanya!" sentak Olive sangat angkuh. "Lebih baik kamu buatkan aku minum, terus antar ke kamar Pak Aries, oke?" perintahnya. Tanpa menunggu jawaban dari Zivanya, wanita itu langsung bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar Aries.


"Tunggu!" panggil Zivanya merasa tidak terima diperbudak oleh orang macam Olive yang memiliki kesopanan setipis lembar tisu.


"Apa lagi sih?" Olive memutar malas bola matanya lalu menoleh.


"Bos memang bilang kalau acara malam ini akan datang denganmu. Tetapi ... " Zivanya menelisik Olive melihat dari ujung kepala hingga kaki. "Dia sama sekali gak bilang kalau kamu harus menunggu di kamarnya," pungkasnya.


Olive pun geram, ia mengambil langkah mundur untuk menghampiri Zivanya yang masih berdiri ditempat yang sama sejak tadi. "Berani ya kamu!" Jari telunjuknya ingin mendorong kepala Zivanya, namun sayangngnya hal itu masih dapat di tahan oleh Zivanya sendiri.


"Saya tahu hanya seorang pembantu di rumah ini, dan ... Saya gak akan ngizinin siapa pun masuk ke kamar Bos tanpa izin darinya sebelum kamu datang atau pas kamu datang. Paham kan? Saya hanya profesionalitas saja di sini, gak pakai hati kok," kata Zivanya terdengar tegas.


Olive semakin meradang. Kehadiran Zivanya bagai membunuh harapan yang seharusnya bisa lebih dekat dengan Aries. Hawa panas yang sudah dirasakannya sampai ketelinga, tangannya melayang ke udara dan siap untuk mendarat keras di pipi Zivanya. Namun siapa sangka? Ada sebuah tangan yang mampu menahannya.


Zivanya yang tadinya sudah memejamkam mata, perlahan membuka matanya lebar-lebar. Ia tidak menyangka kalau saat ini Aries sudah ada di sana.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam rumah ini Olive?" tanyanya seraya mengempaskan tangan wanita itu cukup kasar. Tatapannya sangat menusuk bak seorang pembunuh. Aries sangat merasa tidak suka. Olive pun akhirnya paham kenapa Zivanya sampai bersikap seperti tadi padanya.


"Bukankah kita mau ke acara yang sama malam ini Pak?" Sayangnya, Olive tetaplah Olive. Wanita itu tidak akan merasa bersalah meskipun ia salah.


"Iya, tapi saya sudah bilang sewaktu di kantor bukan? Kalau kamu akan saya jemput di dekat rumahmu! Sekarang, darimana kamu bisa dapat kode akses masuk ke dalam rumah saya?" tanya Aries kemudian.


"Kenapa kalian mengatakan hal yang sama?" Olive bertanya balik sambil menatap kedua orang yang ada bersamanya saling bergantian.


"Maksudnya?" Aries belum paham.

__ADS_1


"Soalnya tadi pas saya masuk, aman-aman saja tuh gak nekan tombol apapun. Memangnya sulit banget ya masuk ke rumah ini? Kok saya enggak? Apa mungkin faktor keberuntungan?" jelas Olive.


Reflek, Aries berpikir ulang mengingat kejadian sebelumnya. Ternyata dalam ingatannya ia tidak ingat untuk mengunci pintunya. Mungkin karena ia begitu marah pada Zivanya yang sudah mengulur waktu sangat lama setelah berbelanja tadi. Alhasil memang benar juga, itulah faktor keberuntungan bagi Olive.


"Sudah sudah, gak penting juga. Lebih baik. Sekarang kamu tunggu saya di ruang tamu!" perintah Aries pada Olive. Lalu matanya melihat ke arah Zivanya. "Buatkan minum untuknya." Pria itu kemudian pergi dari hadapan mereka.


"Ini semua gara-gara kamu! Menyebalkan!" gerutu Olive menyalahi Zivanya. Ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya menuju ruang tamu. Sementara Zivanya membuatkan minuman untuknya.


.


.


.


.


Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun suasana pesta di salah satu restauran ternama itu belum kunjung usai. Para tamu yang hadir sudah runtuh satu per satu karena terlalu mabuk berat.


Berbeda dengan Aries. Pria itu masih saja menyesap minumannya sedikit demi sedikit sambil memperhatikan mereka yang menari seperti terkena angin ****** beliung sampai tertembak oleh senapan panah. Ambruk dan tak sadarkan diri.


Begitu pula dengan Olive, wanita itu juga sudah tak sadarkan diri sejak lama. Sedangkan Aries hanya tersenyum miring menatap sekertarisnya.


Aries kemudian mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.


"Dim, tolong buat lowongan pekerjaan sebagai sekertaris saya sekarang dan pindahkan Olive ke kantor cabang sebagai staff kantor." Pria itu menghubungi manager HRD.


"Memangnya Olive kenapa Pak? Kerjanya gak bagus?" tanya Dimas memastikan kalau perpindahan wanita itu masuk di akal.


"Iya. Saya gak tega memecatnya karena katanya dia itu tulang punggung keluarga. Anggap saja ini sebuah teguran untuknya."


"Lalu dia mau dipindahkan ke cabang mana Pak?"


"Di dekat kampung orang tuanya saja. Itu jauh lebih baik."


"Baik Pak. Ada lagi yang mau disampaikan?"


"Carikan sekertaris laki-laki untuk saya!"


"O ... ke Pak." Dimas merasa terkejut. Karena selama ini atasannya itu selalu meminta sekertaris dengan syarat utama wanita dan seksi.

__ADS_1


"Kenapa respon kamu begitu?" tanya Aries merasa tersindiri.


"Gak apa-apa Pak. Nanti akan saya carikan."


"Ya sudah itu saja."


Aries memutuskan sambungan teleponnya, yang kedua ia pun menghubungi sopir untuk mengantarkannya pulang. Sebab semakin lama berada di dalam pesta itu, ia semakin tidak nyaman.


.


.


.


.


Aries sengaja meminta sopirnya untuk memulangkan Olive terlebih dahulu, kemudian dirinya. Sebelum langsung menuju rumah, Aries mampir ke salah satu restauran Jepang favorite-nya untuk membeli beberapa porsi. Setelah di dapat, barulah ia pulang ke rumah.


Ternyata kondisi rumah sudah sepi. Pembantu yang harusnya hari ini tiba, ternyata mengalami masalah di perusahaan penyalur. Demi mengganti rugi, pihak mereka berjanji akan mengirimkannya besok pagi.


Zivanya yang sudah terlelap di kamarnya, harus terbangun karena Aries mengetuk pintu kamarnya tersebut. Gadis itu segera mengambil kerudung yang sebelumnya ia simpan di sebuah standing hanger, lalu barulah membuka pintunya.


"Eh, Bos. Baru pulang ya? Maaf ya saya ketiduran," kata Zivanya sambil keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya lagi.


"Bisa temani saya makan malam?" tanya Aries. Sontak mata Zivanya terarah ke sebuah jam dinding yang terpasang di ruang keluarga.


"Bos yakin mau makan jam segini? Ini sudah hampir larut," jawab Zivanya merasa ragu. Karena biasanya ia tidak pernah melihat Aries makan sampai terlalu malam seperti ini.


"Tadi saya gak sempat makan di tempat acara. Jadi saya beli saja makanan sewaktu di jalan," ujar Aries.


Zivanya pun merasa tidak enak hati. Akhirnya ia menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


"Kalau gitu Bos ganti baju saja dulu, nanti makanannya biar saya siapkan," kata Zivanya.


"Baiklah, terima kasih." Aries kemudian berbalik badam dan pergi dari hadapan gadis itu.


Mendengar kata ucapan terima kasih, Zivanya bahagia. Itu artinya, Aries tidak marah lagi seperti tadi sore. Ia bergegas menuju dapur. Saat melihat bingkisan yang ada di atas meja, Zivanya pun sudah bisa menebaknya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2