Keputusan Terbesar Zivanya

Keputusan Terbesar Zivanya
Bab 18. Tanggung Jawab


__ADS_3

"Hanya satu trilliun rupiah?" tanya Arion memastikan.


Mendengar pertanyaan Arion yang seakan menganggap remeh, Aries menatapnya dengan senyum menyeringai. "Bukan rupiah, tapi US dollar."


"Apa? Itu gak mungkin. Lagi pula memangnya berapa banyak harta kekayaanmu sehingga bisa memberi pinjaman pada ayahnya Zivanya?" tanya Arion semakin meremehkan kakaknya.


Niat yang tadinya ingin pergi ke kamar seketika diurungkan. Sebab Aries perlu memberikan adiknya yang dirasa tidak sebanding dengannya itu sebuah penjelasan. Tujuannya apalagi kalau bukan membuat Arion berhenti mengusik kehidupannya.


"Asal kalian tahu, ayahnya Zivanya ini sudah mengagalkan tanderku yang sebesar satu trilliun itu. Itu artinya dia harus mengganti rugi. Terlebih banyak sekali pinjaman yang telah dia lakukan terhadap perusahaanku. Paham?" jelas Aries dengan tegas ketika sudah berada tepat di depan sang adik.


"Tunggu." Zivanya seketika ingat sesuatu. "Kalau aku yang dijadikan jaminan oleh ayah itu aku? Lantas dimana ayahku sekarang?" tanya gadis itu muncul dari balik punggung Arion, menatap Aries dengan sorot yang begitu penasaran.


"Aku gak tahu. Dia sangat licik, sehingga bisa terlepas dari pengawasan para orang suruhanku." Aries mencondongkan wajahnya ke wajah Arion. "Sampai saat ini statusnya pun buronan oleh pihak berwajib," sambungnya seraya menunjuk Zivanya.


"Aku akan segera dapatkan uang itu dan membawa Zivanya pergi dari rumah ini!" kata Arion terdengar sangat yakin. Namun sang kakak hanya mengangkat kedua alisnya. Sebab Aries tidak yakin kalau adiknya itu bisa mendapatkan uang sebanyak itu.


"Silahkan kalau kamu mampu, Arion," sahut Aries dengan santainya, lalu hendak berbalik badan tapi seketika diurungkan. Jarinya kemudian menunjuk tepat di depan wajah Arion. "Ku peringatkan sekali lagi, jangan pernah masuk ke rumahku lagi tanpa seizinku. Sekarang silahkan angkat kaki dari sini!"

__ADS_1


"Gak! Aku gak mau pergi dari sini!" kata Arion tetap bersikukuh.


"Arion ... " lirih Zivanya. Ketika Arion menoleh ke arahnya dengan tatapan datar dan dingin, ia menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu gak mau pergi, aku akan bilang sama daddy karena kamu kabur dari negara tempatmu diasingkan. Dengan begitu, sampai kapanpun kamu gak akan pernah bisa bersama dengan gadis itu." Aries memberi ancaman yang membuat Arion bergidig ngeri. Sebab hanya dengan sang ayah, dia akan takut.


"Okey, okey. Aku akan pergi. Tapi ingat jangan bilang apapun sama daddy. Kalau sampai setelah ini daddy tahu, aku akan membuat perhitungan denganmu!" timpal Arion akhirnya angkat tangan. Namun tidak lupa ia pun mengancam balik kakaknya. Hadirnya Zivanya di sana seolah memberi keberanian dalam dirinya.


"Dasar anak kecil! Silahkan saja. Aku sama sekali gak takut sama kamu." Aries pun tak mau kalah.


Tangan Arion mengepal sambil memberi tatapan tajam pada Aries. Kemudian ia berbalik badan dan pergi dari rumah itu.


Disisi lain, Zivanya merasa sedih dengan kepergian Arion. Apalagi dirinya baru saja sembuh dari sakit. Akan tetapi, setelah kejadian yang menimpa Zivanya kemarin membuat hati Aries sedikit melunak.


"Bos ... " panggil Zivanya saat Aries sudah berdiri memunggunginya.


"Ada apa?" tanya pria itu hanya menoleh dengan ekor mata yang melirik ke arah Zivanya.

__ADS_1


"Dimana terakhir Bos dapat informasi tentang ayah saya?" Ada keraguan dalam hati Zivanya mengenai hal itu. Namun ia begitu sangat penasaran.


"Kamu gak perlu tahu. Tugasmu hanya penjadi pembantu pribadi saya di rumah ini. Dan satu hal lagi .... " Aries berbalik badan. "Besok akan ada seorang pelayan lagi yang akan membantumu di sini. Jadi tugasmu hanya melayani saya, itu saja."


Zivanya terperangah setelah mendengar penuturan Aries. Meskipun sikapnya sedingin es batu, namun teduhnya tidak bisa disembunyikan. Zivanya melihat jelas hal itu.


"Oh iya di lemari es--"


"Nanti malam ke ruang kerja saya." Aries memotong ucapan Zivanya seenaknya, tentunya gadis itu langsung menutup mulut rapat-rapat.


"Baik Bos."


Aries dengan cepat berbalik badan lalu bergegas pergi ke kamarnya. Sementara Zivanya pergi ke kamar yang ditempati olehnya.


Gadis itu membuka dua buah koper yang belum dibereskan ke dalam lemari pakaian. Berhubung ia masih dalam masa penyembuhan, dikarenakan tubuhnya sudah membaik akhirnya ia memasukkan pakaiannya itu ke dalam lemari tersebut.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2