
Arion terkejut sekaligus takut bukan kepalang. Seketika langkah kakinya mundur ke belakang. "Ka-kamu siapa sebenarnya?"
Melihat Arion yang terus mundur, Zivanya pun maju menghampiri pria itu. Hingga sebuah dinding membuat Arion menghentikan langkahnya.
"Tolong jangan mendekat!" teriak pria itu dengan tubuh yang mulai bergemetar. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat makhluk halus seperti yang ada di depannya saat ini. Wajah pucat pasi, pisau yang masih tertancap di perut dengan lumuran darah yang membuat pakaian Zivanya sebelumnya bersih menjadi kotor.
"Kamu sudah lihat 'kan Arion? Ini aku. Zivanya Larasati yang kemarin kita sempat ketemu di pusat perbelanjaan. Kamu yang dulu pernah ngasih uang seratus juta padaku hanya sebuah kencan yang tanpa aku menyerahkan tubuhku padamu. Ini aku, Arion." Zivanya mulai menangis. Terlebih dengan nasibnya seperti ini. Sementara Arion masih terdiam memperhatikannya dari jarak yang tak jauh.
"Aku dan kakakmu berada dalam masalah. Tadi pagi, aku ditusuk oleh orang saat sedang berada di ruang ganti kamar kakakmu." Zivanya mencoba memberitahu.
"Apa? Bagaimana bisa?" tukas Arion tatapannya tampak tidak percaya.
"Aku gak tahu itu siapa karena setelah itu aku gak sadar lagi. Tetapi ... Gak lama habis itu, aku bangun. Terus aku sudah seperti ini," lirih gadis itu dengan raut wajah sedihnya.
"Lantas kemana sekarang pelakunya Zivanya?" tanya Arion. Pria itu mulai percaya kalau orang yang sedang dilihat serta berbicaranya saat ini adalah Zivanya.
"Mereka menaruh tubuhku di dalam lemari yang ada di kamar kakakmu. Sedangkan kakakmu sendiri dibawa ke sebuah ruangan dekat dengan ruang CCTV ... dan mereka sekarang sedang mengincarmu," sambung Zivanya berharap hati Arion tergerak untuk membantunya. Namun lagi-lagi pria itu bergeming lagi. "Aku mohon bantu aku dan juga kakakmu. Selamatkan kami, terlebih aku merasa ... waktuku gak banyak lagi," pungkasnya.
"Tadi kamu bilang mereka, siapa mereka itu?" tanya Arion yang akhirnya angkat bicara.
"Mereka itu ... ayahku dan Queen, mantan pelayan pribadi Aries ... " Arion membulatkan matanya dan Zivanya melanjutkan ucapannya lagi. "Tadi aku sempat dengar perbincangan mereka ... kalau mereka ingin menguasai kekayaan yang dimiliki oleh keluargamu, prasangka ku sih seperti ada sesuatu hal yang lebih besar dari hanya sekadar mengambil harta," jelas Zivanya.
"Sekarang aku harus apa?" Arion malah bertanya pada gadis itu, ia juga bingung harus bagaimana.
"Lebih baik sekarang ikut aku ke rumah kakakmu. Jangan lupa minta bantuan pada orang lain ataupun orang tuamu sendiri. Sebab, mereka sedang benar-benar mengincarmu, Arion," usul gadis itu.
"Baiklah sebentar." Arion mengambil ponsel yang ada di kamarnya. Ia kemudian mengirimkan pesan pada orang kepercayaanya. Setelah itu ia pun keluar dari kamar.
"Arion tunggu!" cegah Zivanya.
"Ada apa Zivanya?" tanya Arion sesaat setelah menghentikan langkahnya yang sudah berada di dekat pintu.
"Bukankah lebih baik sarungmu itu diganti dengan celana?"
Seketika mata Arion menatap ke bawah. Canggung dan malu, itulah yang ia rasakan. "Iya juga ya," katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu tunggu disini, aku akan segera kembali!" pintanya lalu pergi ke kamarnya lagi.
__ADS_1
.
.
.
.
Detik terus bergulir bersama dengan darah yang terus keluar dari dalam perut Zivanya. Rasa sakit yang sempat di rasanya, kini seolah mati.
Arion akhirnya tiba di rumah kakaknya. Pria itu sengaja menyamar supaya tidak mudah dikenali. Tentunya ada Zivanya yang menjadi mata-mata Arion di rumah itu.
Arion menunggu di depan gerbang rumah yang sedikit terbuka. Ia menunggu Zivanya memastikan ke sekeliling rumah. Setelah dirasa aman, gadis itu kembali.
"Arion!" bisik Zivanya berdiri tepat di belakangpria itu.
"Astaghfirullah, jangan mentang-mentang kamu lagi jadi hantu bisa ngagetin aku gitu aja dong Ziv," keluh Arion saat Zivanya tiba-tiba muncul dan membuat bulu kuduknya merinding disko.
"Maaf, maaf ... " Zivanya cengengesan.
"Di dalam aman, ayok masuk!" jawab Zivanya lalu berjalan lebih dulu dan Arion pun mengikuti dari belakang.
Sementara tak jauh dari kediaman Aries, para anggota kepolisian serta Javier menunggu perintah dari Arion. Namun sejauh Arion masuk ke dalam rumah, belum ada tanda-tanda ada orang lain di sana. Rumah itu tampak sepi bagai tak berpenghuni.
Hingga tepat hampir mendekat ke arah lorong anak tangga menuju tempat ruangan CCTV, Arion mendengar suara beberapa orang yang sedang bicara. Ia menghentikan langkahnya lalu diam di balik dinding. Sementara Zivanya turun ke bawah untuk memastikan siapa orang itu.
"Si alan kalian! Kenapa kalian ada di rumahku!" Arion bisa memastikan kalau itu adalah suara Aries, kakaknya.
Beberapa orang yang didengarnya tertawa terbahak.
"Anda gak bisa berbuat apa-apa Tuan Aries yang terhormat. Apalagi dalam keadaan terikat seperti ini. Sebentar lagi nasibmu akan sama seperti Zivanya, pembantumu itu!" bentar seorang pria, itulah yang didengar Arion. Sesaat, ia ingin sekali keluar dari persembunyian. Namun sepertinya orang yang ada di dalam sana sangat banyak.
Beberapa saat kemudian, Zivanya muncul.
"Bagaimana?" tanya Arion dengan suara berbisik.
__ADS_1
"Cepat beritahu semuanya untuk segera mengepung rumah ini. Mereka semua ada di dalam!" kata Zivanya dengan pandangan sesekali menoleh ke arah pintu itu. Arion mengangguk setuju. Ia mengeluarkan ponsel lalu mengirimkan kode melalui pesan.
Ditengah ketegangan, tiba-tiba pintu terbuka.
"Arion, cepat bersembunyi!" teriak Zivanya. Arion merasa terkejut lalu melihat ke sekeliling supaya bisa segera mendapat tempat persembunyian.
Alhasil, ia masuk ke dalam salah satu ruangan berukuran kecil yang biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan.
Brak! Karena terburu-buru, Arion sampai membuat pintu yang ditutupnya mengeluarkan suara. Zivanya sampai takut dua orang pria yang tak dikenalinya itu terkejut akan suara pintu akibat ulah Arion.
"Apa jangan-jangan ada orang? Ayok kita lihat!" ujar salah satu orang itu.
Sementara di dalam, Arion aman. Sebab dikalau dibuka pun orang yang melongoknya tidak akan melihatnya.
"Arion kamu bisa-bisa dalam masalah!" keluh Zivanya.
Beruntungnya kedua orang itu tidak menuju tempat persembunyian Arion. Lantas Zivanya pun melihat di halaman rumah sudah tersebar banyak anggota kepolisian dengan pakaian lengkap berikut senjata.
"Ya Allah, semoga orang itu gak ngeliat pengepungan di luar. Biar ketangkap semuanya," kata Zivanya berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
Beberapa menit setelah itu, kedua orang yang tadi keluar, melewati tempat persembunyian Arion begitu saja. Zivanya pun merasa lega. Gadis itu memastikan kalau mereka sudah masuk ke ruangan bawah tanah.
"Arion, semua sudah aman. Ayok keluar!" ajak Zivanya.
Disisi lain, gadis itu merasa nyawanya sudah benar-benar tidak banyak lagi. Namun demi menyelamatkan kedua bersaudara itu, ia hiraukan. Arion menuruti apa yang di arahkannya.
Ketika Arion baru saja keluar dari sana. Ia berpapasan dengan Javier bersama beberapa anggota.
"Tuan Muda, dimana ruangannya?"
"Di sana, ayok ikut denganku!"
Mereka melangkah dengan hati-hati saat menuruni anak tangga. Setelah itu semua berkumpul tepat di depan pintu. Arion mulai memberi aba-aba.
"Satu ... Dua ... Tiga!"
__ADS_1
Bersambung ....