
Beberapa menit berlalu, Aries akhirnya menyelesaikan makan malamnya. Namun seperti biasa, Zivanya hanya menemani pria itu duduk dalam meja yang sama.
"Saya ke kamar dahulu, tolong bereskan ya!" perintah Aries acuh sambil beranjak dari tempat duduknya, tak lupa jari telunjuknya mengarah ke meja makan yang cukup berantakan.
"Iya Bos." Zivanya menganggukkan kepala lalu tersenyum menatap punggung Aries yang mulai menjauh sampai hilang dari pandangannya.
Setelah itu, ia menarik napas dalam-dalam kemudian beranjak dari tempat duduk. Kali ini tidak ada makanan yang tersisa sama sekali. Aries benar-benar menghabiskan makanan yang tadi ia beli. Mungkin saja karena sebelumnya Zivanya bilang kalau dirinya tidak menyukai makanan mentah seperti Bos-nya itu.
Beruntung sewaktu bersama Arion di pusat perbelanjaan tadi, ia sudah makan cukup banyak. Jadi ia sama sekali tidak tergoda dengan makanan mentah yang dibeli oleh Aries.
Setelah merapikan semuanya, Zivanya memilih pergi ke kamar untuk melanjutkan istirahatnya kembali. Sebab rasa kantuk yang sejak tadi ditahan olehnya pun mulai tidak bisa diajak kompromi. Matanya seakan mau jatuh, berikut dengan otot di tubuhnya yang mulai melemas.
Brak! Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Semakin lama, semakin terasa nyaman hingga tidak sadarkan diri karena sudah terlelap dalam tidurnya.
.
.
.
.
Tepat pukul tiga dini hari, Zivanya terbangun karena merasakan haus sampai tenggorokannya terasa kering. Dilihatnya gelas yang biasa ia taruh di atas meja, ternyata kosong. Mau tidak mau ia pun harus pergi ke dapur untuk mengisinya lagi.
"Aish! Aku sampai tidak ingat kalah belum mengisi air sebelum masuk kamar," gumamnya lalu menguap.
Dalam masih keadaan setengah sadar, Zivanya membawa gelas kosong itu keluar dari kamar. Tubuhnya masih mencari keseimbangan supaya tidak sampai terjatuh ketika sedang berjalan. Hingga ketika sudah berada di dapur, ia pun segera mengisi gelas tersebut dengan air putih. Inginnya setelah terisi, Zivanya akan langsung meminumnya.
Saat gelas sudah terisi penuh, tiba-tiba telinganya samar-samar mendengar suara ritihan wanita.
"Suara perempuan? Siapa ya? Perasaan perempuan di rumah ini hanya aku saja deh," katanya bermonolog. "Oh mungkin hanya halusinasi aku saja kali ya," sambungnya lalu berjalan mendekat ke meja dapur.
__ADS_1
"Aaahhhhhh ... Ries!"
Sontak ketika mendengar wanita itu mengerang sambil menyebut nama tuan-nya, tubuhnya seakan langsung dipaksa supaya kesadarannya cepat pulih. Zivanya langsung terdiam, ia yang tadinya akan menenggak air itu pun diurungkan. Gadis itu mencoba mempertajam lagi pendengarannya.
"Ampun Aaaah ... Aries ... Aaaah!"
"Astaghfirullah, suara siapa itu ya? Kenapa malam-malam gini ada suara aneh di rumah ini? Perasaan sewaktu aku masuk ke kamar, gak ada siapa-siapa deh!" gumamnya merasa merinding.
Zivanya menaruh gelas yang telah diisi air olehnya ke atas meja dapur. Rasa penasaran gadis itu mendorongnya mencari tahu darimana suara itu berasal. Tanpa sadar, langkahnya semakin dekat ke kamar Aries. Sesaat kemudian ia pun terkejut karena pintu kamar itu adalah kamar Bos-nya dan itu tidak tertutup dengan rapat.
Gadis itu merasa ragu untuk memastikannya. Akan tetapi suara aneh itu sangat terdengar jelas dari dalam kamar. Kedua telapak tangannya sudah berkeringat, rasa gugup pun mulai menyelimuti dirinya.
"Bismillah semoga bukan sebuah kekerasan," gumamnya dalam hati.
Perlahan Zivanya medorong gagang pintu dengan sangat hati-hati, dan ketika setelah terbuka hampir separuh lebar pintu, matanya terbelalak. Ia membulatkan mulut serta matanya bersamaan, sambil menarik napas dalam-dalam dengan kedua telapak tangan yang reflek menutup mulutnya itu.
"Astaghfirullahal'adzim!" ucap Zivanya dengan suara sangat pelan dan seketika bergetar, bahkan sampai keseluruh tubuhnya. Tidak ingin berlama-lama, ia mengembalikan posisi pintunya seperti semula lalu berbalik badan.
Tak pernah disangka olehnya. Aries yang dilihatnya sangat kaku pada wanita ternyata mampu berbuat hal yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Dikarenakan hal itu tidak wajar, mata Zivanya ternodai. Apalagi saat dilihatnya tadi, Aries sedang mengukung seorang wanita yang terus menyebut namanya dalam erangan kenikmatam surga duniawi.
Disisi lain Zivanya sangat menyayangkan perilaku Aries yang sangat diluar dugaannya, dan baginya sudah di luar batas. Gadis itu memilih kembali ke dapur lalu mengambil gelas yang berisi air dan kembali ke kamarnya.
Saat di dalam kamar, Zivanya duduk tertegun di pinggir tempat tidur. Dalam satu tegukan, segelas air itu habis tak tersisa. Setelah dirasa cukup tenang sambil terus menerus beristighfar dalam hati, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan bersiap menunggu adzan Shubuh tiba.
.
.
.
.
__ADS_1
Zivanya telah rapi mengenakan setelan kemeja motif salur dengan celana kulot berwarna senada, berikut juga kerudungnya yang menjuntai menutupi bagian dada serta punggungnya.
Tepat pukul setengah lima, gadis itu keluar dari kamarnya. Seperti biasa, kebiasaannya setiap pagi harus ia lakukan. Mengingat ia tidak ingin melihat kemarahan Aries kembali. Bagaimana pun Zivanya terus tetap pada tanggung jawabnya.
Langkah kakinya dengan pasti berjalan menuju kamar Bos-nya. Meskipun ada rasa gundah acap kali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, tapi tak apa. Zivanya akan bersikap biasa saja.
Ketika sudah berada di lantai tempat kamar itu berada. Matanya langsung tertuju ke arah pintu. Ternyata pintu yang sebelumnya dilihat olehnya terbuka, kini sudah tertutup sangat rapat.
"Apa wanita tadi masih di dalam?" tanya Zivanya dalam hati. Ia pun mengetuk pintu tersebut terlebih dahulu. Setelah tidak ada jawaban, ia membukanya dengan sangat hati-hati.
"Sepi sekali," gumamnya. Gadis itu sama sekali merasakan keheningan pada kamar Bos-nya itu. Apalagi melihat orang yang ada di balik selimut itu hanya tampak Aries sendiri di sana tanpa memakai atasan alias berte lanjang dada.
Mata itu terpejam tampak sangat lelah. Zivanya tidak ingin mengganggunya terlebih dahulu. Ia pun memilih pergi ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian pria itu.
Akan tetapi, saat dirinya hendak masuk ke ruangan tersebut tiba-tiba ...
JLEB! Sebuah pisau menusuk pada bagian perutnya.
"Aaaa!" Zivanya terkejut bukan kepalang. Rasa sakitnya langsung menjalar ke seluruh tubuh bersamaan dengan darah yang mengalir dengan derasnya. Pandangannya samar-samar melihat orang yang pergi dari hadapannya, sesaat kemudian ia tidak sadarkan diri.
Di luar, Aries terlonjak kaget di atas tempat tidur setelah mendengar teriakan Zivanya. Pria itu langsung turun dari tempat tidur dan bergegas menuju sumber suara.
Tak disangka, darah yang dikeluarkan Zivanya sangat banyak. Bahkan pakaian yang dikenakan gadis itu langsung berubah warna.
"Zivanya! Apa yang telah terjadi padamu?" teriak Aries menggoyangkan bahu gadis itu berharap masih dapat mendengar suaranya dan bisa tersadar.
Tubuh pria itu seketika lemas, terlebih saat tangannya menyentuh darah Zivanya. Wajahnya langsung pucat pasi dan sesaat kemudian tidak sadarkan diri. Itulah suatu kelemahan yang dimiliki oleh Aries. Semenjak traumanya semakin melekat dalam pola pikirnya, ia menjadi pria yang takut akan menyentuh darah.
Namun di dalam kamar itu ada yang aneh. Mungkin kebanyakan mengira orang yang menusuk Zivanya tadi telah pergi dari sana. Pada kenyataannya dia masih ada, bersembunyi di dekat lemari.
Melihat Aries pingsan, orang itu menghubungi seseorang melalui ponselnya. Setelah selesai. Orang itu menyeret Aries untuk dibawa pergi dari sana. Sedangkan Zivanya yang semakin mengeluarkan banyak darah, dibiarkan begitu saja terbaring lemah dengan wajah yang mulai membiru.
__ADS_1
Bersambung ....