
Zivanya merasakan tubuhnya terasa lebih ringan. Tidak ada rasa sakit yang tadi sempat membuatnya hilang kesadaran.
"Kenapa aku tertidur di ruangan ini?" Gadis itu bertanya-tanya kemudian bangun dan berdiri. Semangatnya seakan kembali. Bahkan ia sampai mengibas-ngibaskan tangannya ke pakaian yang ia kenakan. "Loh kok bajuku ada darahnya?" Zivanya mendekati ke arah cermin. Namun tidak ada bayangan dia di dalam cermin itu, yang ada hanya dirinya yang sedang terbaring dengan luka tusukan.
Gadis itu tercengang, buliran bening pun seketika membendung di kelopak matanya. Ia bergeming, tidak percaya. "Jiwaku ... terpisah dari ragaku. Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah ... Apa hidupku berakhir?" katanya bermonolog.
Tiba-tiba terdengar suara benturan sebuah benda yang cukup keras. Zivanya segera mencari ke sumber suara itu. Namun ketika hendak membuka pintu, gagangnya tidak bisa dipegang olehnya. Berkali-kali ia lakukan namun tetap tidak bisa.
Ditengah usahanya, ada yang membuka pintu kamar. Zivanya yang masih berdiri ditempatnya langsung terkejut dengan dua orang yang berdiri di ambang pintu.
"Queen dan ... Ayah," ucapnya dengan suara bergetar. Gadis itu menggelengkan kepala. "Gak! Itu gak mungkin kan mereka pelakunya?" lanjutnya.
"Bang, kita harus segera memindahkan jasad anakmu dari sini dan menghilangkan jejak!" kata Queen tampak tergesa-gesa.
"Hei apa kalian gak tahu kalau aku disini!" teriak Zivanya. Namun sayangnya teriakan itu tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan mereka.
"Tapi kamu harus pastikan dulu dia sudah meninggal atau belum. Setelah itu barulah kita kubur," ujar pria yang merupakan ayahnya Zivanya. Seorang ayah yang selama ini bak hilang ditelan bumi. Kini tiba-tiba muncul tanpa hujan dan angin mengharapkan anaknya sendiri meregang nyawa.
"Ayah jahat! Kenapa Ayah mau aku meninggal?" Zivanya tersulut emosi mengikuti kedua orang itu.
Di depan jasad Zivanya, Queen memakai sarung tangan medis terlebih dahulu lalu memeriksakan nadi pada tubuh gadis itu.
"Bang, nadinya sih masih sedikit berdenyut. Bagaimana ini? Nanti keburu siang kalau nunggu dia benar-benar mati," kata Queen.
"Yaudah kamu taruh mana deh yang aman di rumah ini. Jangan lupa kasih wewangian supaya gak bau darah!" ujar ayahnya Zivanya.
"Ya sudah deh, kalau gitu Abang bersihin darah ini ya!" kata Queen lagi menyuruh pria itu.
"Iya gampang!"
Keduanya mulai bergerak. Queen mengangkat tubuh Zivanya lalu dimasukkan ke salah satu lemari pakaian milik Aries, sedangkan ayah dari gadis itu membersihkan lantai untuk menghilangkan jejak.
Setelah selesai, mereka mulai mengambil barang-barang yang sangat berharga pemilik rumah tersebut. Mulai dari pakaian, jam tangan, uang berikut beberapa kartu yang Aries biasa taruh di dalam lemari kecil yang terletak di samping tempat tidur. Tentunya barang-barang milik pria itu tidaklah murah, Queen sangat tahu itu.
__ADS_1
Di sisi lain, Zivanya menangis melihat jasadnya sendiri di perlakukan seperti itu. Ingin rasanya ia membalas kedua orang keji itu tanpa ampun. Namun pada kenyataannya untuk menyentuh apapun yang ada di sekitarnya tidak bisa.
Dia yang melihat kedua orang itu pergi dari kamar Aries segera mengikuti.
"Aries bagaimana? Apa dia sudah aman?" tanya ayahnya Zivanya.
"Aman, dia sudah aku ikat di gudang bawah tanah samping ruang CCTV dan semua data yang merekam kita pun sudah aku hapus!" jawab Queen sangat yakin.
"Lantas bagaimana dengan adiknya Aries? Itu misi kedua kita!" ujar ayahnya Zivanya sambil mulai berpikir.
Zivanya yang mendengar itu sangat marah sekali. Ia tidak terima!
"Awas saja kalau kalian sampai menyentuh Arion, aku gak akan segan buat perhitungan sama kalian!"
Queen ikut berpikir. "Bang, masalahnya sampai sekarang aku belum ketemu lagi sama adiknya. Dia itu sekolah di luar negeri dan setahu aku juga ada pengawasan ketat juga dari orang tua mereka."
"Kalau begini kondisinya, aku harus pikirin matang-matang. Bagaimanapun seluruh harta kekayaan mereka harus jatuh ke tangan kita!" ujar ayahnya Zivanya tetap optimis.
Mendengar Arion akan menjadi target mereka, Zivanya pun segera menemukan keberadaan pria itu.
Di sebuah apartemen berkonsep minimalis, disana Zivanya berada. Namun di dalam apartemen itu tampak sepi bak tak berpenghuni. Gadis itu mencari ke seluruh ruangan, tepat di salah satu kamar ia mencium aroma parfum seperti yang dihirupnya ketika terakhir bertemu pria itu.
"Aku yakin, ini kamarnya Arion!" katanya.
Tiba-tiba ia mendengar suara, seperti seseorang yang sedang membuka kunci pintu. Zivanya segera pergi ke depan. Saat pintu terbuka, ternyata benar. Orang yang baru saja membuka pintu itu adalah Arion. Sebuah senyum pun mengembang dari kedua sudut bibirnya.
Pria itu terlihat sangat tampan memakai baju koko, sarung dan peci di kepalanya. Sepertinya Arion baru saja pulang dari masjid terdekat dari apartemennya.
"Arion!" reflek Zivanya memanggil pria itu. Gadis itu tidak ingat kalau saat ini jiwanya terpisah dari raganya.
Disisi lain, Arion hanya merasa sebuah angin yang lembut lewat di telinganya karena memang Zivanya memanggilnya tepat berada di sampingnya.
Pria itu hanya menoleh sesaat lalu menutup pintu dan melangkah kembali.
__ADS_1
"Astaghfirullah ..." Zivanya pun teringat. "Ya Allah, tolong bantu aku menyelamatkan orang-orang yang sudah berbuat baik padaku. Buat Arion mampu melihatku dalam keadaan sebaik mungkin," pintanya pada Sang Maha Kuasa.
Dengan hati yang tulus, Dia mengkhendaki doa Zivanya. Saat ini gadis itu berdiri sebagaimana manusia normal dengan raga yang bernyawa.
"Arion," panggilnya sangat lembut.
Langkah kaki pria itu langsung terhenti dan mematung beberapa saat. Dia merasa heran. "Suaranya mirip sekali dengan Zivanya," ucapnya bermonolog.
Saat itu juga Zivanya yakin sekaligus bersyukur. Arion mampu mendengar suaranya.
"Aku di sini Arion!" seru gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan detak jantung yang berdegub cukup cepat, Arion perlahan berbalik badan. Bulu halus yang ada di kedua lengannya seketika berdiri. Seingatnya, ditengah perjalanannya tadi ia sama sekali tidak melihat Zivanya.
"Zi-Zivanya? Bagaimana bisa kamu di sini? Ka-kamu benar Zivanya?" Arion bertanya-tanya.
"Ini aku Arion, Zivanya. Aku sedang butuh bantuanmu ... Sekarang!" seru gadis itu yang merasa waktunya tak banyak lagi.
"Bantuan apa? Maksudnya bagaimana? Aku sama sekali gak paham."
Zivanya menarik napasnya dalam-dalam. "Aku dan kakakmu, Aries ... Sedang sangat membutuhkanmu."
"Bantuan apa Zivanya? Biar jelas dong! Atau jangan-jangan kamu dan kak Aries punya hubungan skandal? Apalagi pria itu sangat aneh!" gerutu Arion sambil bersilang dada dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia merajuk.
"Astaghfirullah Arion ... Gak mungkin lah. Aku dan dia baru kenal beberapa hari!" Zivanya terdiam beberapa saat. "Mau mendengarkan aku dulu?" tanyanya kemudian.
"Aku gak percaya. Kamu pasti bohong Zivanya! Aku kecewa!" Arion masih enggan menatap gadis itu.
"Baiklah kalau kamu masih gak percaya. Sekarang lihat aku," pinta Zivanya.
Arion berusaha meredam rasa cemburunya. Sesaat kemudian, ia pun menoleh ke arah Zivanya lagi.
"Aaa astaghfirullahal'adzim ... "
__ADS_1
Bersambung ....