
Setelah acara pemakaman selesai, Zivanya kembali ke rumah. Namun ketika baru saja tiba di halaman, ia melihat sang ayah tenga duduk di teras rumah. Wajah ayahnya sangat muram dan sulit diartikan. Gadis itu langsung menghampiri ayahnya dengan amarah yang mulai mendidih.
"Ngapain Ayah disini? Darimana saja Ayah? Gara-gara Ayah, ibu jadi meninggal. Ayah jahat!" Zivanya meluapkan amarahnya. Sakit hatinya melihat kematian sang ibu yang begitu mengenaskan.
"Jaga bicaramu Zivanya!" bentak sang ayah.
Namun tidak membuat gadis itu takut. Meskipun dia masih menghormati pria yang ada di hadapannya itu sebagai ayahnya, tapi pintu hatinya sudah tertutup untuk memaafkan ayahnya.
"Kenapa Yah? Apa Ayah masih butuh uang?" cecar Zivanya dengan mata yang mulai memerah. Sejatinya gadis itu tidak bisa marah. Selama ini rasa kesal serta marahnya hanya ia luapkan dengan tangisan.
"Iya, mana? Kamu punya?" Raut wajah sang ayah tidak terlihat menyesal sama sekali.
Zivanya begitu muak dengan ayahnya karena yang ada di otak pria paruh baya itu hanya uang, uang dan uang. Gadis itu semakin curiga.
"Besok uangnya akan aku berikan pada Ayah. Aku harap Ayah segera melunasi hutang yang katanya sebesar seratus juta itu," tegas Zivanya menatap sinis.
Sang ayah kemudian tertawa sambil bertepuk tangan. "Hebat sekali ... Uang darimana kamu? Kenapa bisa seyakin itu?"
"Ayah gak perlu tahu darimana aku mendapatkan uang," jawab Zivanya lalu memilih masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Tak lupa pintu kamarnya pun sengaja dikunci. Mengingat sebentar lagi waktu sholat ashar tiba.
...----------------...
Selepas sholat isya, Zivanya duduk di depan meja rias. Dirinya mulai memoles wajahnya secantik mungkin. Entah setelah kencan nanti apa yang akan terjadi padanya. Zivanya rela melakukan apapun demi mengabdi pada orang tuanya. Apalagi sekarang hanya tersisa ayahnya. Sebisa mungkin Zivanya harus tahu kemana saja uang yang telah ayahnya keluarkan sehingga bisa memiliki hutang sebanyak itu.
Zivanya keluar dari kamarnya. Ia mengenakan dress sebatas lutut, sepatu wedges serta rambut yang sengaja di gerai. Tak lupa sling bag berukuran kecil ia sampirkan pada bahu kanannya. Akan tetapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan ayahnya di sana. Sebelum pergi, Zivanya menengok ke kamar orang tuanya. Perlahan ia membuka pintunya, dan memang sang ayah tidak ada. Seraya menghela napas, Zivanya menutup pintunya kembali.
Ponselnya tiba-tiba berdering, Zivanya segera mengeluarkan benda itu dari dalam tas.
"Arion," gumamnya ketika melihat ke layar ponsel yang masih menyala. Ia pun segera menjawabnya .
"Hallo?" sapa Zivanya sambil berjalan keluar dari rumah.
"Zivanya, aku sudah di depan rumahmu."
__ADS_1
"Oh iya, aku sudah di teras. Tunggu ya."
"Oke."
Setelah sambungan telepon terputus, Zivanya mengunci pintu rumahnya. Lalu saat membuka gerbang, ternyata benar. Ada sebuah mobil yang terparkir di sana.
Kaca jendela mobik itu terbuka ketika Zivanya baru saja menutup gerbang.
"Zivanya!" panggil Arion.
Gadis itu tersenyum.
"Masuklah!" pinta Arion dan Zivanya mengangguk.
Arion begitu terpana dengan penampilan Zivanya malam ini.
"Kamu cantik," puji pria itu menatap tanpa berkedip.
Zivanya tersipu malu. "Terima kasih."
"Memangnya kenapa? Apa aku harus ganti pakaian dan pakai seragam sekolah di malam hari seperti ini?" balas Zivanya melirik seraya bersenyum simpul.
"Gak juga sih," kata Arion mengembuskan napas panjang lalu menghadap ke depan. "Pakai sabuk pengamanmu. Kita akan segera berangkat," sambungnya dengan tangan kiri yang telah siap mengoper gigi dan kedua kakinya berada pada posisi antara kopling dan gas.
...----------------...
Mobil yang Arion kendarai telah sampai di sebuah restauran bintang lima di pusat kota metropolitan. Dimana restauran itu berada di salah satu gedung yang menjulang tinggi hingga puluhan lantai.
Keduanya turun dari mobil. Arion pun segera menghampiri Zivanya dengan sebelah tangan yang ia lipat supaya gadis itu bisa mengalungkannya di sana.
"Kemarikan tanganmu," pinta Arion sedikit menggerakkan tangannya. Lalu Zivanya oun sadar dan menuruti permintaan Arion.
Mereka berjalan tampak sangat serasi. Mungkin yanh tidak tahu, mereka itu sepasang kekasih, begitu sempurna. Keduanya pergi ke salah satu lift yang ada di sana.
__ADS_1
Berada dengan jarak yang berdekatan seperti ini dengan Arion, membuat detak jantung Zivanya tidak menentu. Sejujurnya gadis itu bahagia, begitu pula dengan Arion. Meskipun iman mereka berbeda, cukup berperan seperti itu saja rasanya seolah nyata.
Tepat di lantai sepuluh, lift itu berhenti. Arion melangkah lebih dulu dan diikuti oleh Zivanya. Suara dentuman musik di lantai itu sudah terdengar walaupun samar-samar.
"Arion, kita mau pergi ke acara apa sih? Aku gak salah kostum kan?" bisik Zivanya tak jauh dari telinga Arion.
"Acara ulang tahun teman satu sekolahku. Dia juga asli Indo ... Kamu gak salah kostum kok, cantik," kata Arion sambil memuji gadis yang sedang di gandengnya itu.
"Oh gitu .... " Zivanya tersenyum lalu menghela napasnya.
Sebelum masuk ke dalam ruangan, dua orang petugas meminta data dari Arion. Kemudian pria itu pun mengeluarkan ponselnya dan menempelkan layar yang berisi gambar barcode yang ada di ponselnya itu ke arah kamera yang ada di sana. Setelah terkonfirmasi, keduanya diperbolehkan masuk ke dalam.
"Aku baru tahu kalau ke pesta ulang tahun orang kaya seperti kalian cukup ribet ya ternyata," kata Zivanya ketika mereka berjalan di sepanjang lorong menuju pintu masuk.
Arion hanya terkekeh pelan. "Memangnya pesta ulang tahun yang biasa kamu datangi seperti apa?" tanya pria itu.
Zivanya mengangkat kedua bahunya. "Aku jarang sekali datang ke acara seperti itu. Lagi pula aku sendiri tidak pernah dirayakan, paling hanya bagi-bagi snack saja sama para tetangga."
"Kalau nanti aku yang rayakan bagaimana? Kamu mau?" tanya Arion membuat Zivanya tersentak.
"Gak usah bercanda. Aku gak mau seperti itu Arion. Bukankah ulang tahun itu berarti umurnya menjadi berkurang ya? Jadi untuk apa dirayakan?" timpal Zivanya.
Arion hanya tertawa. Tanpa terasa keduanya sampai di sebuah pintu berukuran besar terbuat dari kayu jati yang tampak sangat kokoh. Bukan hanya itu saja, salah seorang pria bertubuh kekar, berkulit hitam, kepala plontos serta pakai atasan singlet berwarna hitam dan juga celana jeans ditambah sepatu boots. Pria itu berjaga di depan pintu pun tampak sekuat tenaga untuk membuka pintunya sehingga otot pada lengannya bisa terlihat.
"Silahkan," kata pria itu setelah pintu terbuka.
Zivanya dan Arion mulai masuk ke ruangan yang sebenarnya.
Deg!
Mata Zivanya membulat seketika. Ia tidak menyangka apa yang sedang dipandangnya saat ini. Tubuhnya terpaku seolah rasa dingin pada ruangan itu membuatnga membeku.
"Arion, apa kita tidak salah tempat?"
__ADS_1
Bersambung ....