
Polisi sudah menetapkan pelaku sebagai tersangka, termasuk Queen. Sebab yang berat bagi wanita itu adalah keterangan dari ayahnya Zivanya sendiri. Pria itu mengaku terang-terangan di depan polisi ketika sedang introgasi kalau dia memang punya hubungan khusus dengan Queen. Hal itu tentunya menjadi catatan khusus tersendiri untuk menjatuhkan hukuman mereka saat sidang keputusan nanti.
Arion yang mendapat laporan itu dari Javier pun merasa sangat bahagia. Hatinya sedikit lega. Hanya saja tinggal menunggu Zivanya dan kakaknya sadar dari koma.
Ya, Aries dinyatakan koma sesaat setelah pemeriksaan ketika masih di ruang emergency. Sementara Zivanya, mendengar dokter sendiri tidak yakin kalau gadis itu akan selamat, membuat dunia Arion hampir separuhnya menghilang.
Meskipun usia mereka masih remaja, entah karena rasa nyaman Arion saat dekat dengan Zivanya membuat pria itu tak henti-hentinya jatuh hati.
.
.
.
.
Satu bulan berlalu begitu cepat. Pihak kepolisian belum dapat menggelar sidang keputusan untuk para pelaku itu dikarenakan menunggu Queen benar-benar pulih. Tak disangka luka yang dibuat oleh Zivanya cukup parah, sehingga membuat proses penyembuhan yang cukup lama.
Sementara itu kondisi Aries sudah semakin membaik. Ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap untuk perawatan lebih lanjut. Sedangkan Zivanya masih terbaring di ruang ICU dengan wajahnya yang sangat tenang.
Wajah cantik gadis itu menjadi pemandangan indah bagi Arion selama satu bulan terakhir. Akan tetapi, entah kenapa sudah lama sekali Zivanya tidak ada di sisinya.
"Zivanya ... Apa kamu sudah kembali ke tubuhmu? Kalau sudah bangunlah ... Aku masih ingin melihat senyummu, tawamu dan marahmu. Sungguh! asal kamu tahu, banyak sekali perubahan yang terjadi padaku semenjak bertemu denganmu. Bangunlah Zivanya, buka matamu ... Aku ingin menikah denganmu," ucap Arion berdiri di samping tempat tidur Zivanya. Ia masih sangat berharap kalau gadis itu masih bisa selamat dari maut.
Air matanya menetes. Baru kali ini hal itu terjadi, selama ini Arion berusaha keras untuk tetap kuat. Tidak hanya sekadar menemani, doa yang diulangnya setiap waktu tetap sama. Menginginkan gadis itu cepat pulih.
Ditengah genggaman tangan yang Arion lakukan pada Zivanya, tiba-tiba gerakan yang mulanya sangat pelan lalu beranjak membalas genggaman tangannya. Arion terkejut, seketika menatap Zivanya penuh harap.
"Kamu sadar Zivanya? Bangunlah ... Aku di sini," lirihnya. Namun mata gadis itu belum terbuka, hanya gerakan tangannya saja yang terasa.
Arion tersenyum, karena ia yakin doanya sebentar lagi akan terkabulkan. Ia menekan sebuah tombol untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama, dokter pun masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter itu pada Arion.
"Tangannya bergerak Dok. Zivanya sudah sadar!" seru pria itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Syukurlah. Kalau gitu Tuan bisa menunggu di luar? Tolong beri kami waktu untuk memeriksakan kondisinya," kata dokter itu.
"Baik Dok." Arion mengangguk patuh lalu keluar dari ruangan.
.
.
.
.
Arion mondar mandir di depan ruang ICU, ia tampak begitu gelisah. Di tengah rasa gundah gulana yang dialaminya itu, Aries datang diantar oleh seorang perawat menggunakan kursi roda menghampirinya.
"Arion, bagaimana keadaan Zivanya?"
"Dia sudah mulai memberi respon Kak, tapi belum tahu perkembangannya bagaimana ... Omong-omong gimana keadaan Kakak sekarang?"
"Aku sudah sangat baik. Rencananya sore ini aku sudah bisa pulang ke rumah."
"Hmm ... Sepertinya lebih baik Kakak pulang ke rumah mommy sama daddy saja. Mengingat rumah Kakak masih dalam pengawasan polisi."
"Iya aku tahu itu," jawab Aries singkat sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Kak, perusahaan yang Kakak pegang itu akan diambil alih lagi sama Daddy. Tapi Daddy bilang hanya sementara, apa Kakak sudah tahu?" tanya Arion dengan hati-hati.
"Kamu serius? Tahu darimana?" tukas Aries tercengang.
"Dari Daddy langsung. Tadinya aku disuruh menggantikan Kakak, tapi aku gak mau. Aku belum siap, apalagi pikiranku masih fokus ke Zivanya."
"Kamu benar-benar mencintainya?" tanya Aries menatap adiknya sangat serius.
"Tentu dan itu pasti. Aku sangat mencintainya," jawab Arion sangat yakin.
__ADS_1
"Jadi itu alasan kamu pindah keyakinan, karena dia?" tanya Aries lagi, kali ini rasa penasarannya semakin besar.
"Bukan, Kak. Kalau karena dia, Kakak salah besar!" tegas Arion.
"Lantas karena apa?"
"Karena pilihanku sendiri dan dengan kayak gini, aku bisa menemukan ketenangan dari diriku yang sebenarnya."
Di tengah perbincangan serius diantara kakak beradik itu, dokter keluar dari ruangan. Arion menoleh dan langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana Dok keadaan Zivanya? Apa dia sudah benar-benar sadar?"
"Setelah dilakukan pemeriksaan tadi, pasien belum bisa dikatakan sadar sepenuhnya. Sebab kedua matanya masih tertutup rapat. Sabar ya Tuan, semoga pasien bisa segera mendapat keajaiban," ujar dokter itu memberi semangat pada Arion.
Helaan napas panjang dikeluarkan begitu saja oleh Arion. "Aamiin ... Baik Dok, terima kasih banyak."
Dokter menepuk bahu Arion, "Kalau begitu saya permisi."
Kepergian dokter bersamaan dengan Aries yang kembali juga ke kamarnya.
.
.
.
.
Ketika malam datang, Arion masih menemani Zivanya di ruangan ICU yang dingin dan hanya terdengar suara mesin pendetek detak jantung itu.
"Sa-kit ... Sa-kit ..." lirih Zivanya dari dalam alat uap yang menutupi mulut dan hidungnya. Matanya pun perlahan terbuka.
Arion menyadari itu langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Kebetulan waktu juga masih menunjukkan pukul tujuh malam, itu artinya dokter pun masih ada untuk berjaga.
Zivanya pun diperiksa dan Arion menunggu di luar. Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan.
"Baik Dok terima kasih banyak."
Setelah dokter pergi, Arion pun masuk ke dalam. Pria itu kemudian tersenyum tatkala saling menatap dengan Zivanya.
"Assalamualaikum gadis cantikku ..."
"Waalaikumsalam, Arion." Suara Zivanya memang masih terdengar lemah.
Arion langsung mencoba menghibur gadis itu. Semakin lama hingga malam pun semakin larut. Zivanya tampak menunjukkan raut wajah bahagianya. Gadis itu merasa dicintai oleh Arion.
"Zivanya ... "
"Iya?"
"Kalau aku melamarmu untuk menjadikanmu istriku bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat Zivanya terdiam beberapa saat, kemudian lirikan matanya menatap Arion lebih dalam lagi.
"Kamu yakin mau jadikan aku seorang istri? Bagaimana kalau aku bukan istri yang kamu harapkan selama ini?"
"Gak Zivanya. Aku sudah sangat yakin ... " Arion kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin yang setiap hari dibawanya. Pria itu memang sengaja supaya ketika Zivanya sadar, ia pun akan melamarnya.
Gadis itu merasa terharu. Tanpa sadar air matanya keluar dari kedua ekor matanya. "Iya, aku mau jadi istrimu, Arion."
Seperti bunga yang hampir mati lalu disiram oleh air, itulah Arion. Pria itu merasa berbunga-bunga, begitupula dengan Zivanya. Dibukanya kotak cincin itu lalu dipakaikan di jari manis gadis-nya.
"Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai calon suamimu."
"Sama-sama, Arion. Terima kasih juga atas ketulusanmu selama ini."
.
.
__ADS_1
.
.
Satu minggu kemudian, Zivanya telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Kondisinya semakin membaik. Selain itu di hari yang sama, proses persidangan keputusan para tersangka pun sedang di gelar di pengadilan. Arion beserta Aries bekerja sama dalam tim supaya bisa menjebloskan mereka dengan hukuman yang amat berat.
Beberapa jam setelah persidangan itu, Arion menghampiri ayahnya Zivanya yang sudah dalam penjagaan ketat oleh dua orang anggota polisi.
"Ayah ... " panggil Arion. Namun pria paruh baya itu hanya menatap sinis dirinya. "Saya ingin meminta restu dari Ayah untuk menikahi Zivanya," sambungnya dengan kerendahan hati.
Aries yang melihat hal itu merasa terharu. Adik laki-laki satu-satunya itu ternyata lebih berani darinya.
"Terserah kamu saja! Saya gak mau dengar nama dia lagi, terlebih ibunya." Ayahnya Zivanya tak luluh juga. Padahal tak lama lagi eksekusi hukuman mati akan menghampirinya.
Arion bergeming dan menundukkan kepala. Sesaat kemudian sebelum ia berkata kembali, para anggota polisi itu membawa ayahnya Zivanya masuk ke dalam sel tahanan. Ia pun mendapat kesimpulan kalau calon mertuanya itu sudah memberikannya restu.
"Sabar ya Arion, semoga kehidupan rumah tanggamu dan Zivanya bisa bahagia setelah ini," kata Aries sambil menepuk bahu adiknya dari belakang.
"Iya, Kak."
"Kalau gitu, ayok kita ke rumah sakit! Bukankah hari ini adalah hari pernikahanmu dengan gadia pujaan hatimu itu?" seru Aries merangkulkan tangannya di bahu Arion.
"Yuk Kak!"
.
.
.
.
Di sebuah ruangan rawat inap, Zivanya awalnya merasa terkejut saat tiba-tiba beberapa orang perawat merias wajah dan membantunya berganti pakaian. Lantas setelah selesai, perawat itu pun memberitahukan padanya. Ia terkejut merasa tidak percaya. Balutan gaun berwarna putih khas pengantin pun membuatnya bertambah cantik.
Tak lama kemudian, Arion beserta keluarga dan seorang penghulu masuk ke dalam ruangan rawat inap yang ditempati oleh Zivanya. Hati keduanya semakin berbunga-bunga tatkala mata mereka saling bersitatap.
Prosesi akad nikah pun berlangsung hikmat dan lancar. Akan tetapi setelah sah menjadi suami istri, entah kenapa Zivanya merasa sangat lelah dan ingin sekali tertidur.
Gadis itu hanya memakai selang infus serta oksigen saja. Arion membiarkan Zivanya tertidur guna beristirahat.
Hingga tepat satu jam berlalu, seorang perawat datang hendak memeriksakan kondisinya. Saat diperiksa, perawat itu sangat benar-benar terkejut karena denyut pada nadi di tangan serta detak jantung Zivanya sudah tidak ada lagi.
"Tuan ... " Perawat itu membuka tirai tergesa-gesa.
Arion beranjak dari duduknya lalu menghampiri perawat itu. "Ada apa Sus?"
"Pasien sudah meninggal dunia."
Betapa hancurnya hati Arion ketika mendengar kabar itu. Gadis yang baru dinikahinya satu jam yang lalu harus meregang nyawa tanpa diduga.
Arion langsung menghampiri Zivanya sambil berderai air mata. Termasuk kedua orang tua dan juga Aries yang ikut merasakan sakitnya jika berada di posisi Arion.
"Zivanya, istriku ... Kenapa kamu pergi Sayang? Belum sempat kita membuat cerita indah setelah ini, kenapa kamu pulang duluan? Apa kamu merasa sakit Sayang? Kenapa gak bilang sama aku?" Arion terguguk. "Astaghfirullahal'adzim ... Allah lebih sayang sama kamu, istriku."
Setelah perjalanan yang begitu panjang, Zivanya akhirnya menyerah. Keputusan terbesarnya untuk menikah dengan Arion pun sudah mampu ia ambil. Namun rupanya, Sang Pemilik dirinya lebih ingin ia pergi dari sisi Arion.
Terkadang apa yang menurut kita baik, belum tentu baik juga di mata Allah. Itulah kenapa kita disuruh terus meminta kepada-Nya, supaya hati kita ini merasa kalau Dia satu-satunya pemilik semesta berikut isinya. Inilah akhir dari perjalanan hidup Zivanya.
...**TAMAT**...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum, terima kasih yang sudah membaca cerita singkat yang Author buat ini. Mungkin gak banyak pelajaran yang bisa diambil, bahkan sepertinya gak ada. he,he,he.
Sampai ketemu di novel baru Author selanjutnya ya! Jangan lupa di subscribe, like sama komen. Semoga kalian sehat selalu.
Mohon maaf lahir dan batin ya teman-teman🙏, selamat lebaran 👋
Salam dari StrawCakes 🍰
__ADS_1