Keputusan Terbesar Zivanya

Keputusan Terbesar Zivanya
Bab 24. Dianggap Cinta Monyet


__ADS_3

Zivanya yang diteriaki namanya pun menoleh, begitupun dengan Arion. Tawa yang sebelumnya menghiasi wajah mereka, seketika lenyap berubah menjadi raut muram dan datar.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Aries sambil melangkahkan kakinya mendekati Zivanya.


Gadis itu seketika merasa gugup lalu menatap Arion sesaat berharap pria yang duduk bersamanya itu bisa memberikan sebuah alasan yang bisa di terima oleh Aries. "Saya ... " Pandangannya tak sengaja melihat jam yang terpasang di dinding. "Astaghfirullah sudah jam empat sore," gumamnya mendadak mati kutu.


"Sudahku bilang dari awal 'kan Zivanya ... Setelah selesai langsung pulan," kata Aries merasa sangat geram.


"Maaf Bos, saya salah .... " Hanya itu yang dapat dikatakan oleh gadis itu.


Aries berdecak kesal lalu menatap pria yang duduk bersama Zivanya. "Arion ... apa yang telah terjadi padamu?" tanyanya kemudian, terdengar ketus.


"Supaya gak ada lagi perbedaan antara aku dan Zivanya," jawab Arion dengan santainya lalu memainkan kedua alisnya naik turun dengan tatapan terarah ke gadis itu.


"Kamu ini hanya merasakan cinta monyet Arion. Gak usah harus jadi seperti ini. Kalau suatu hari nanti, setelah masuk ke dalam masa dewasamu dan malah mencintai wanita yang berbeda, apa masih bisa kamu pertahankan keputusan yang sekarang kamu ambil?" jelas Aries mencoba memberi arahan menurut dirinya benar.

__ADS_1


"Kak, aku sudah pikirkan hal ini matang-matang. Ya, kalaupun suatu saat nanti Zivanya bukan jodohku ... Setidaknya aku bisa melihatnya bahagia saat ini," balas Arion terdengar sangat yakin. Namun jawaban darinya hanya mendapat respon malas dari Aries. Dia seakan tidak percaya pada sang adik.


"Ya sudah terserah kamu saja," kata Aries, lalu ia melirik ke arah Zivanya. "Dan kamu, ayok sekarang kita pulang! Tugasmu belum selesai," ucapnya.


Zivanya hanya mengangguk patuh. Hatinya seketika merasa cemas, takut jikalau Aries akan memarahinya saat nanti sudah sampai di rumah.


"Arion, aku pergi dulu. Assalamualaikum," kata Zivanya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Arion mengangguk sambil tersenyum simpul. "Iya, sampai ketemu lagi, Zivanya. Waalaikumsalam."


Aries berbalik badan lalu berjalan lebih dulu. Sementara Zivanya pun mengikuti dari belakang. Sedangkan Arion ikut berdiri dan menatap nanar kepergian Zivanya.


"Suatu hari nanti, kamu pasti paham Zivanya kenapa aku melakukan ini padamu. Aku harap bahagia akan selalu bersamamu untuk saat ini, besok dan seterusnya," kata Arion dalam hatinya. Kemudian pria itu pergi dari sana menuju kediamannya.


Di rumah Aries, mereka baru saja tiba. Berhubung rencana sore ini berantakan karena pertemuan Zivanya dan Arion yang tak kenal waktu, akhirnya Aries memutuskan untuk berangkat sendiri ke acara yang akan dihadirinya, seharusnya bersama Zivanya. Kesempatan gadis itupun harus diambil alih oleh sekertarisnya Aries, yaitu Olive.

__ADS_1


"Zivanya, sebaiknya kamu segera membereskan semua ini. Saya akan pergi ke kamar terlebih dahulu," titah Aries .


"Baik Bos," jawab gadis itu.


"Oh iya untuk acara malam ini, aku gak akan ajak kamu. Sepertinya untuk membereskan barang yang semua itu. Jadi saya akan pergi dengan Olive," kata Aries merasa tidak yakin kalau Zivanya bisa menyelesaikan tepat waktu.


Gadis itu tersenyum simpul. "Baik Bos gak apa-apa kok."


"Ya sudah, silahkan segera di bereskan! Oh iya kalau sudah selesai tolong bawakan latte hangat ke kamar saya ya," pinta Aries dan dijawab anggukkan kepala oleh Zivanya.


Meskipun Aries merasa tidak yakin Zivanya akan sempat. Namun disisi lain, dengan kesungguhan gadis itu akan segera menyelesaikanya. Kemudiam Aries pergi ke kamarnya.


Sesaat setelah Aries pergi, seorang wanita masuk begitu saja ke dalam tanpa mengetuk pintu. Zivanya yang sedang berada di dapur pun sangat terkejut.


"Hei, siapa kamu?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2