
Brak!
Arion berhasil mendobrak pintunya. Bersamaan dengan itu, semua orang yang ada di dalam tampak terkejut.
"Arion ... " lirih Aries. Wajah pria itu sudah babak belur dibuat oleh mereka. Selain itu, tubuhnya pun tampak terkulai lemas.
Arion menatap kakaknya penuh iba. Ia tidak tega. Sesaat kemudian pandangannya tertuju pada pria berkumis dan bentuk tubuh tambun, berdiri di samping Aries. Tajam dan penuh kebencian.
"Tangkap semua yang ada di sini! Pastikan mereka mendapat hukuman seberat-beratnya!" perintah Arion dengan suara yang keras dan penuh penekanan. "Terutama pada pria yang berdiri di samping kakakku. Beri dia hukuman mati!" teriaknya lagi.
Para anggota yang bersamanya pun langsung bergerak cepat sambil mengerahkan senjatanya ke hadapan mereka. Semua pelaku yang ada di sana mengangkat tangannya ke atas. Namun ada satu orang yang tidak terlihat disepanjang pandangan Arion. Dia adalah Queen. Bisa dibilang, dia satu-satunya wanita yang ada pada tim mereka dan tentunya menjadi otak rencana pembunuhan berantai ini.
Saat semua sudah berhasil dibekukan oleh para anggota kepolisian, Arion segera membawa Aries keluar dari ruangan itu.
"Pak Javier tolong temani kakakku ke rumah sakit ya!" perintah Arion ketika ia sudah berada di teras rumah dan mobil ambulance pun sudah tiba di sana. Aries dibantu dua orang perawat masuk ke dalam mobil.
"Baik ... tapi Tuan Muda, Anda gak lupa seseorang bukan?" tanya Javier mencoba memberi kode pada Arion tentang Zivanya.
"Oh iya, Astaghfirullah ... " Arion menepuk keningnya cukup keras. "Tunggu sebentar!" ujarnya lalu masuk kembali ke dalam rumah.
.
.
.
.
.
Sementara di salah satu ruangan Zivanya sedang menahan seorang wanita, sebab ketika Arion dan yang lain mendobrak pintu ruang penyekapan Aries, wanita itu hendak melarikan diri. Beruntung nalar Zivanya menyadari. Ia segera mengejar wanita itu.
Sungguh tak di sangka, wujud yang tadinya hanya terlihat oleh Arion pun dalam sekejap mampu dilihat wanita itu dengan wujudnya yang berbeda. Jauh lebih menyeramkan. Wanita itu pun ketar ketir dibuatnya.
"Tolong jangan bunuh saya!" teriak wanita itu yang tak lain adalah Queen.
Kebencian Zivanya tak terbendung lagi. Mungkin inilah terakhir kalinya ia lampiaskan pada wanita itu.
"Aku gak akan segan membunuh orang yang sudah tega membunuhku!"
"Siapa kamu sebenarnya!" Queen tidak mengenali wajah Zivanya. Gadis itu memang sengaja mengaktifkan mode menyeramkan.
"Kamu gak perlu tahu aku siapa, yang jelas aku akan membuatmu jera karena sudah mebuatku seperti ini!" Zivanya melempar sebuah meja yang ada di dekatnya. "Rasakan itu!" Dalam satu lemparan, Queen terkena hantaman meja. Sungguh mengenaskan. Kepalanya penuh cucuran darah. Wajahnya pun sedikit penyok. Wanita itu dalam sekejap tak sadarkan diri. Dia tidak meninggal, hanya mungkin bisa jadi nyawanya ikut melayang kalau tidak segera di selamatkan.
.
.
.
__ADS_1
.
Di kamar Aries, Arion membuka satu per satu pintu yang ada di lemari. Saat ia membuka pintu yang terakhir ...
Brak! Tubuh Zivanya jatuh ke arahnya. Reflek, Arion menahannya. "Astaghfirullah ... Zivanya." Pria itu menangis sambil memeluk gadis-nya. Ia merasa tubuh Zivanya masih terasa hangat.
Tanpa disadari oleh Arion, beberapa anggota polisi sempat mengikutinya tadi. Mereka menatap iba ketika melihat Arion menangis begitu pedihnya.
"Tuan ... " ucap salah satu dari mereka.
Arion menoleh dengan posisi masih memeluk Zivanya dari samping. Pisau yang tadi ditancapkan pada perut gadis itu berusaha dilepaskan olehnya. Seketika, darah mengalir begitu derasnya.
"Bantu saya menuntaskan kasus ini Pak!" pintanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baik Tuan," ucap salah satu anggota lalu berjalan menghampiri Arion. "Berikan pisau itu pada kami, biar menjadi barang bukti."
Arion mengangguk patuh lalu memberikan pisau itu padanya.
.
.
.
.
Sementara jiwa Zivanya yang masih berada di luar, mendampingi Arion di depan ruang operasi. Tak lama kemudian datang kedua orang tua kakak beradik itu.
"Arion ... " kata ibunya lalu memeluk pria itu sangat lembut. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
"Iya Mom. Tapi kak Aries kritis dan ... " Arion mengempaskan napas putus asa. "Doakan Zivanya supaya dia bisa selamat."
"Aamiin."
"Bagaimana Arion, apa pelakunya sudah ketangkap semua?" tanya ayahnya Arion.
Zivanya yang mendengar pertanyaan itu pun teringat akan Queen yang masih ada di dalam ruangan.
"Arion!" panggil gadis itu. Pria yang dipanggilnya pun menoleh.
"Ada apa?" tanya Arion. Namun kedua orang tuanya menatap heran lalu saling bertukar pandang.
"Queen tadi habis aku beri pelajaran. Dia masih pingsan di ruangan yang dekat dengan dapur. Coba kamu minta polisi yang di sana buat mengeceknya, takutnya dia kabur," jelas Zivanya membuat Arion menatapnya seakan tidak percaya.
"Oke aku akan segera hubungi polisi yang masih ada di sana," kata Arion lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
"Arion, kamu bicara sama siapa? Disini hanya ada kami yang bersamamu," ujar ibunya merasa khawatir dengan kewarasan anak bungsunya itu.
Arion mematung sejenak, ia tidak ingat kalau kedua orang tuanya tidak mengetahui keberadaan Zivanya yang bersama dengan mereka.
__ADS_1
"Oh, gak apa-apa kok Mom, Dad," jawab Arion sekenanya. Karena memang ada untungnya juga punya sifat terlalu santai dan acuh macam Arion, kedua orang tuanya pun terdiam sambil menghela napas panjang.
.
.
.
.
Setelah mendapat informasi dari Arion. Para anggota polisi yang masih berada di kediaman Aries langsung menuju ruangan yang dimaksud. Benar saja, di sana ada Queen yang masih tergeletak tak sadarkan diri.
Salah satu dari mereka segera memeriksakan kondisi wanita itu. "Nadinya masih berdenyut. Kita bawa ke rumah sakit. Dia bisa jadi saksi kunci ataupun tersangka atas kejadian hari ini," ujarnya.
"Baik. Ayok cepat angkat dia dan segera panggil ambulance!"
Mereka semua keluar dari ruangan itu, lalu diberi garis kuning di depan pintunya. Bukan hanya di pintu itu saja, di sekeliling kediaman Aries pun di beri garis kuning sampai sidang keputusan berakhir.
Queen dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Aries dan juga Zivanya. Sementara para komplotan wanita itu sudah diamankan di kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
.
.
.
.
Beberapa jam setelah operasi berlangsung, dokter pun keluar.
"Dok, bagaimana kondisi Zivanya?" tanya Arion merasa khawatir, sebab jiwa gadis itu masih ada di dekatnya.
Dokter menghela napas, kalau dilihat dari raut wajahnya dokter itu tampak tidak yakin. "Operasi berjalan lancar. Akan tetapi, pasien mengalami pendarahan hebat, tapi beruntung kami masih punya cadangan kantung darah yang sesuai dengan pasien. Namun saat ini pasien masih dalam keadaan kritis. Kami juga belum bisa memastikan pasien akan selamat atau tidak. Mengingat, luka tusukan yang dideritanya itu sangat dalam. Bahkan sampai merobek rahimnya."
"Astaghfirullahal'adzim ... "
Arion dan kedua orang tuanya merasa tercengang atas penjelasan dokter, begitupun dengan Zivanya sendiri. Pantas saja rasa sakit itu membuat jiwanya sampai terempas keluar.
"Pasien akan kami taruh ke dalam ruang ICU, jadi Anda bisa menjenguknya di sana," lanjut dokter.
"Terima kasih Dok!" ucap Arion.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya permisi." Dokter pun pergi dari hadapan mereka.
"Arion, kami ke ruangan tempat kakakmu terlebih dahulu ya," kata ibunya sambil mengelus punggung putra bungsunya.
Arion menatap kedua orang tuanya mengejapkan mata lalu mengangguk. "Iya Mom."
Bersambung ....
__ADS_1