Keputusan Terbesar Zivanya

Keputusan Terbesar Zivanya
Bab 16. Tetap Tidak Bisa


__ADS_3

Arion menghampiri Zivanya lalu meraih kedua tangan gadis itu yang masih mematung. Ia kemudian membawa Zivanya ke dalam pelukan. Namun apalah daya, gadis itu segera menahannya.


"Maaf, Arion aku gak bisa pelukan sama kamu."


"Kenapa Zivanya? Aku yakin kamu juga rindu 'kan sama aku?" Arion semakin bertanya-tanya.


"Tuan Muda ... "


Suara pria yang dikenali oleh Arion, membuatnya menoleh.


"Pak Javier ... " kata Arion seketika bersikap dingin.


"Kenapa Anda sudah ada di sini Tuan Muda?" tanya Javier merasa heran sambil mengerutkan alisnya.


"Aku tidak bisa kalau hanya berdiam diri di sana, menunggu kabar darimu Pak Javier," jawab Arion jujur.


"Kalau kamu juga ada di sini, nanti bisa bikin masalah baru. Bukankah kita sudah mengatur rencana?" Javier berdecak kesal. "Tuan Muda. Cukup bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Belajarlah untuk dewasa."


Arion tersenyum miring. Matanya memutar malas ke arah lain. "Belajar untuk dewasa? Cih! ... Aku bukan bersikap kekanak-kanakan, hanya saja aku ingin melindungi orang yang aku sayang." Nada bicaranya tiba-tiba meninggi. Matanya pun menatap tepat ke arah Zivanya yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Oke, baiklah gak usah diperpanjang. Jadi bagaimana rencana kita?" tanya Javier. Hatinya mulai cemas karena sebentar lagi Aries akan pulang dari kantor.


"Rencana kita? Memangnya kalian merencanakan apa?" Zivanya bertanya-tanya.


"Nanti akan aku jelaskan, Zivanya. Lebih baik sekarang kamu ikut denganku," kata Arion lalu menarik sebelah tangan Zivanya.


"Ikut kemana? Aku di sini bekerja Arion ... Dan entah sampai kapan," lirih gadis itu menunjukkan raut wajah sedihnya.


"Tolong Zivanya kita gak punya waktu lagi. Nanti keburu kak Aries datang!" Arion semakin geram karena Zivanya tidak mudah mempercayai dirinya.


"A-Aries? Jadi Bos itu namanya Aries?" gumam gadis itu meskipun bersuara pelan, namun masih dapat di dengar oleh Arion.


"Ada apa sih? Kenapa aku harus ikut dengan kalian?" tanya Zivanya lagi, tapi kedua orang pria itu masih enggan menjawabnya sekarang.


"Tuan Muda, saya rasa batalkan saja rencana kita. Pelayan yang bersamaku ini akan ku kembalikan ke rumah kedua orang tua Anda. Maaf, kami harus pergi." Javier angkat tangan. Baginya Arion masih sama, menjadi pria yang sesuka hati bertindak semaunya. Meskipun didikan keras dari ayah-nya Arion cukup keras, namun sepertinya belum berpengaruh.


Pantas saja Arion diberi waktu tiga tahun untuk dapat memimpin perusahaan. Sedangkan kakaknya sewaktu lulus dari akademik tingkat atas, langsung dipercaya memimpin perusahaan. Bahkan perusahaan yang di pegang oleh Aries sudah tampak kesuksesannya.


Arion menarik napasnya dalam-dalam melihat kepergian Javier bersama seorang pelayan. Sementara Zivanya masih terpaku dan berusaha mencerna apa yang baru saja dilihatnya.

__ADS_1


"Arion, kenapa wanita tadi mirip banget sama aku ya?"


Pertanyaan Zivanya membuat Arion menoleh padanya.


"Iya aku juga tahu. Tapi tetap saja, aku cuma mau kamu."


"Arion, kita gak bisa sama-sama karena---"


"Karena kita berbeda?" Arion menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak bisa menerima kenyataan yang ada. "Kita bisa menikah di luar negeri Zivanya. Di sana banyak sekali yang menikah dengan keyakinan yang berbeda."


"Cukup Arion!" Mata Zivanya membulat. "Bukan cuma keyakinan yang aku permasalahkan. Tapi dari derajat keluarga kita juga berbeda. Kamu itu Tuan dan aku cuma seorang pelayan."


"Kenapa kamu bicara seperti itu Zivanya? Bagiku kita gak ada bedanya." Arion menunjukkan raut wajah sedihnya.


"Maaf Arion ... " Zivanya berusaha menahan sesak di dadanya. Sebab ia juga tidak mungkin berharap banyak pada Arion. Baginya, cinta saja tidak cukup untuk memasuki gerbang pernikahan. "Meskipun kamu sangat baik padaku. Tapi aku tetap gak bisa menikah denganmu."


"Zivanya aku---"


"Arion!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2