
Tepat pukul empat pagi, alarm dari ponsel Zivanya berbunyi. Gadis itu bangun dari tidurnya lalu duduk sambil mengangkat kedua tangan.
"Alhamdulillah ... " ucapnya penuh syukur karena masih diberi kesempatan hidup.
Tak lama kemudian, ia turun dari tempat tidur dan lekas mandi. Hingga tepat pukul setengah lima pagi, Zivanya telah rapi menggunakan setelan gamis berikut dengan kerudung yang menutupi bagian dadanya serta lengannya. Tidak lupa juga polesan bedak tabur bayi serta lipgloss menambah aura menyegarkan pada wajahnya.
Gadis itu keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar sang tuan. Saat membuka pintu kamar pria itu, ternyata sang pemilik kamar pun masih tertidur pulas.
Sebelum membangunkan Aries, gadis itu terlebih dahulu menyiapkan pakaian yang akan digunakan Bos-nya untuk pergi ke kantor. Ruangan yang dipenuhi barisan rak itu sangat dingin dan nyaman. Zivanya menjadi betah berlama-lama di sana. Setelah selesai, ia pun membangunkan Aries.
"Bos, Bos ... Bangun." Tangannya sembari penepuk dan menggoyangkan bahu Aries. Sesaat kemudian, pria itu menggeliat.
"Hah!" Aries terlonjak kaget di atas tempat tidur. "Astaga Zivanya kamu mengagetkan saya saja!" gerutunya sambil mengelus dada lalu mengusap wajahnya.
"Maaf, kalau bikin Bos jadi kaget. Saya gak maksud kagetin Bos kok," ujar Zivanya.
Aries melirik ke arahnya. Sempat tertahan sejenak lalu terkesiap. "Kamu pakai pakaian seperti itu karena omongan saya semalam?" tanyanya lali menyingkap selimut dan duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Iya," jawab Zivanya terdengar yakin.
__ADS_1
"Kenapa?" Aries beranjak dan posisi mereka saling berhadapan dengan jarak beberapa lamglah diantara keduanya.
"Hanya sedang belajar memperbaiki diri." Zivanya menundukkan pandangannya.
"Oh ... Lumayan juga. Tapi masih ada yang kurang, tetap harus diperbaiki. Segera bersiap, karena setelah saya selesai, kita langsung berangkat ke kantor," titah Aries seraya berjalan menuju kamar mandi.
"Baik Bos." Zivanya berbalik badan lalu keluar dari kamar Aries.
...----------------...
Zivanya tengah menunggu Aries di teras rumah. Sebuah mobil sedan CIVIC keluaran terbaru telah terparkir rapi di halaman rumah bersama seorang sopir yang berdiri disamping mobil tersebut.
Sang Tuan duduk di kursi belakang, sedangkan Zivanya duduk di kursi depan tepat bersebelahan dengan sopir. Selama perjalanan hanya keheningan yang tercipta dalam mobil itu. Ketiga orang yang ada di dalamnya sama-sama membungkam mulut rapat-rapat.
Hingga tak terasa mereka tiba di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Ketika tiba di depan lobby, beberapa pria menggunakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih pun telah berjejer rapi menyambut kedatangan mereka, lebih tepatnya Aries. Mereka menunduk hormat ketika pria itu melewatinya.
Sementara Zivanya merasa sungkan. Sebab selama ini ia tidak pernah diperlakukan layaknya tuan putri seperti itu. Namun ia tetap mengikuti langkah Aries di belakang. Berjalan sambil menundukkan pandangannya.
Sampai tidak sengaja Zivanya menubruk punggung Aries. "Bos kok berhenti sih?" gerutu gadis itu lalu mundur beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
"Kamu gak lihat di depan saya apa?" Aries bertanya balik tanpa menoleh ke arahnya.
Zivanya melihat ke depan Aries, ternyata mereka berdiri tepat di depan pintu lift. Matanya kemudian melirik pria itu dari samping.
"Bos, kita mau ngapain? Kok berdiri di depan pintu?" tanya Zivanya penasaran.
Satu ... Dua ... Tiga .... Aries tidak menjawabnya. Tak lama berselang, pintu lift terbuka. Pria itu masuk ke dalam dan Zivanya pun mengikuti.
Setelah pintu tertutup, otomatis lift pun bergerak naik. Akan tetapi, Zivanya seketika merasa takut. Ia sampai beristighfar berkali-kali. Tangannya memegang gagang besi yang ada di pinggirannya sangat kuat.
"Astaghfirullahal'adziim!" ucapnya cukup keras.
Lain halnya dengan Aries yang hanya bersikap dingin mendengar suara Zivanya yang terdengar ketakutan. Ia membiarkannya begitu saja, sebab gadis itu masih berdiri kokoh dan tidak sampai jatuh pingsan.
Dalam beberapa menit lift pun berhenti dan pintu terbuka. Namun Zivanya masih terpaku di tempatnya. Wajahnya pun pucat dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Bos .... "
Bersambung ....
__ADS_1