
Teriakan pria itu membuat Zivanya berlari kecil mendekat ke ruang ganti.
"Ada apa Bos?" tanyanya berdiri tepat di depan ruangan itu seraya menundukkan pandangannya.
"Cepat ke sini!" perintah pria itu. Suaranya bahkan semakin meninggi mungkin sebentar lagi akan mencapai titik tertinggi karena mulai naik pitam. Sepertinya Zivanya melakukan kesalahan lagi.
Dengan ragu-ragu Zivanya masuk dengan cara berjalan mundur. Ia takut kalau bosnya itu masih dalam kondisi yang sama seperti sehabis mandi tadi.
"Kalau saya perintah itu datangnya menghadap ke depan bukan mundur seperti itu, tidak sopan namanya!" ujar pria itu yang telah memakai kaos oblong berwarna abu muda serta celana kantor berwarna biru dongker bermotif kotak-kotak. "Balik badan!" lanjutnya.
Dengan perasaan cemas, Zivanya berbalik badan. "Maaf Bos."
"Lihat saya!" pintanya masih dengan nada tinggi.
Zivanya langsung mengangkat wajahnya lalu menatap pria itu.
"Maksud kamu apa? Jas sama celana saya warnanya biru dongker. Ini dasi kenapa warnanya merah? Kamu ini bisa tidak sih menyocokkan warna? Begini saja tidak becus!" kata pria itu merasa sangat kesal.
"Maaf Bos, sini biar saya ganti dengan warna lain. Tadi soalnya saya terburu-buru mengambilnya." Zivanya berkata jujur.
"Sudahlah tidak usah." Suasana hati pria itu sudah rusak karena Zivanya belum bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. "Keluar dari kamar saya!" bentak pria itu kemudian berbalik badan, berjalan ke arah lemari yang terdapat barisan berbagai macam dasi.
"Baik Bos," lirih Zivanya lalu segera pergi dari kamar itu.
"Baru sehari saja sudah begini. Ya Allah, kuatkan aku," ucap Zivanya bermonolog.
Gadis itu mengembuskan napas panjang sambil bersandar di pintu yang baru saja ditutup olehnya. Ia kemudian pergi ke ruang makan untuk memastikan kalau makanan yang tadi dibuat olehnya masih tertata rapi di atas meja.
Beberapa menit kemudian, pria itu turun dari lantai dua melalui anak tangga. Zivanya menyambut kedatangannya sambil menundukkan kepala.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut pria itu. Hanya suara dentingan garpu dan pisau yang memecah keheningan di ruang makan. Zivanya melirik ke arah pria yang tengah fokus menyantap makanan buatannya.
__ADS_1
"Kalau dilihat dari wajahnya sih, makanan buatanku gak buruk-buruk banget. Masih bisa dimakanlah sama dia," ucap gadis itu dalam hatinya, merasa lega.
Awalnya Zivanya hanya melirik, namun semakin lama tatapannya memperhatikan setiap garis wajah yang tampak tegas dimiliki oleh pria itu. Sampai saat ini, ia belum mengetahui siapa namanya. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya pada Queen sejak kemarin. Akan tetapi mengingat sikap Queen yang kurang bersahabat dengannya, membuat Zivanya malas melakukan hal itu. Ia optimis akan mencari tahunya sendiri.
Beberapa menit kemudian, pria itu telah menyelesaikan sarapan paginya. Lalu dia pun berdiri.
"Saya akan pulang pukul enam sore. Pastikan setelah saya pulang, rumah harus dalam keadaan bersih dan makan malam sudah tersedia di atas meja makan ... satu lagi, jangan hanya berleha-leha selama saya pergi bekerja. Kerjakan semua tugasmu dengan baik, karena saya akan memantaumu dari kantor," kata pria itu kemudian merapikan kembali jasnya lalu pergi dari hadapan Zivanya.
...----------------...
Sore pun tiba, wajah gadis itu sudah tampak sangat pucat. Tubuhnya terasa lemas dan tenaganya seakan sudah berada di ambang batas kehidupannya. Helaan demi helaan napas sebisa mungkin ia lakukan demi menguatkan tubuhnya.
Sebab seharian ini gadis itu tidak sempat makan maupun minum, ia terlalu sibuk membereskan serta membersihkan rumah sebesar itu sendirian. Tidak ada orang lain selain dirinya di sana.
Sampai-sampai bertepatan saat pria itu membuka pintu sepulang dari kantor, Zivanya pingsan di dekat anak tangga. Pria itu terkejut.
"Astaga itu bukannya Zivanya? Ngapain dia tiduran di lantai gitu?" Langkah kakinya sengaja dipercepat saat menghampiri gadis itu.
"Zivanya! Bangun! Kamu ngapain sih tiduran di sini? Lantai saya nanti kotor!" ucap pria itu dengan nada tinggi. Ia belum melihat wajah Zivanya yang masih tertutup oleh rambut. Karena gadis itu tidak kunjung bangun, akhirnya ia menyibakkan rambutnya.
"Astaga, pucat sekali!" pekiknya langsung tercengang.
Tangannya langsung merogoh ke dalam saku celana untuk mengeluarkan ponsel. Pria itu pun mulai menghubungi dokter pribadinya.
"Dokter Smith, bisa ke rumah saya sekarang?"
"Ada apa memangnya Tuan?"
"Ada seseorang yang harus kamu periksa. Gak pakai lama ya! Saya tunggu."
Tanpa menunggu jawaban persetujuan dari dokter pribadinya itu, sambungan telepon langsung di putus olehnya. Ponsel pun dimasukkan kembali ke dalam saku celananya. Kemudian ia mengangkat tubuh Zivanya menuju kamar yang telah ia sediakan untuk gadis itu.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Zivanya berhasil direbahkan ke atas kasur. Pria itu kemudian keluar dari kamar untuk menunggu kedatangan dokter pribadinya di luar. Sebab, jikalau berlama-lama di dalam berdua dengan Zivanya, sebuah trauma yang masih membekas dalam ingatannya pun kembali berputar dan itu bisa membahayakan salah satu dari keduanya.
Dokter pribadinya itu datang tepat lima belas menit sesudah sambungan telepon diputus begitu saja.
"Ah, akhirnya kamu datang juga. Mari ikut saya!" ajak pria itu kemudian berjalan lebih dulu dan dokter pun mengikuti.
"Memangnya siapa sih yang sakit Tuan? Bukannya asisten pribadimu itu sangat jarang sakit? Bahkan hampir tidak pernah," tanya dokter itu saat mereka berjalan beriringan ke kamar yang ditempati oleh Zivanya.
"Dia asisten baruku, sedangkan si Queen akan resign beberapa hari lagi karena katanya dia akan menikah," jawab pria itu.
"Tuan, apa traumamu belum juga sembuh? Menurutku Queen itu sangat sempurna untuk dijadikan istri, bahkan dia rela merubah penampilannya supaya bisa menarik perhatianmu. Apa Tuan gak pernah menyadarinya?" Dokter pribadinya itu sedikit tahu banyak tentang kehidupan dirinya.
"Sudahlah gak penting. Lebih baik segera kamu urus dia, karena saya harus mandi sekarang," kata pria itu tidak mengindahkan pertanyaan dokter pribadinya lalu pergi dari sana menuju kamarnya.
"Baik Tuan." Dokter itupun masuk kedalam dan mulai memeriksakan kondisi Zivanya.
Setelah selesai di periksa, dokter pun memasangkan selang infus supaya gadis itu mendapat asupan cairan. Karena indikasi pemeriksaannya itu mengarah pada dehidrasi darurat. Terlebih ketika melihat lapisan luar bibir Zivanya tampak kering dan mengelupas serta hembusan napasnya yang terasa panas.
Beberapa saat kemudian, dokter membereskan peralatan medisnya yang akan ia bawa kembali ke rumah sakit. Lalu ia keluar dari kamar yang ditempati oleh Zivanya.
Di ruang tamu pria pemilik rumah itu sedang duduk menunggu dokter pribadinya selesai.
"Permisi Tuan," ucap dokter itu dan pria yang sedang duduk pun menoleh lalu berdiri.
"Bagaimana?"
"Pasien mengalami dehidrasi darurat. Jadi tadi saya pasangkan infus supaya ada cairan yang masuk ke dalam tubuhnya. Lalu ... " dokter itu pun memberikan selembar kertas pada Tuannya. "Ini resep obat yang harus Tuan tebus di apotek."
Pria itu mengambil resep obat dari tangan dokter pribadinya. "Baiklah nanti saya akan ke apotek untuk mengambilnya."
Dokter pun mengangguk. "Nanti malam saya akan ke sini lagi untuk memeriksakan kondisinya. Untuk sekarang saya izin permisi karena ada beberapa pasien yanh sudah menunggu di rumah sakit," katanya berpamitan dan pria itu hanya mengedipkan matanya bersikap dingin.
__ADS_1
Bersambung ....