
Mobil berhenti tepat di depan lobby sebuah supermarket terbesar di kota itu.
"Neng, kalau sudah selesai hubungi saya ya," kata sopir itu dengan logat sunda-nya.
"Tapi Pak, saya gak tahu nomor ponsel Bapak," sahut Zivanya.
"Boleh dicatat Neng nomor saya."
"Oh iya Pak, sebentar ... " Zivanya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Kedua jempol tangannya dengan lihai membuka layar ponsel lalu menuju ke aplikasi kontak. "Berapa Pak nomornya?" tanyanya kemudian.
"Kosong delapan tujuh, tujuh tujuh tujuh, enam tujuh sembilan tujuh."
"Maaf Pak kalau boleh tahu nama Bapak siapa ya?" tanya Zivanya memastikan.
"Oh iya kita teh belum kenalan ya?" Sopir itu terkekeh, begitupun dengan Zivanya. "Saya Enan, Neng. Panggil saja Pak Enan."
"Oh iya, baik ... sudah saya simpan nomor Pak Enan. Kalau gitu saya masuk ke dalam dulu ya," ujar Zivanya lalu turun dari mobil. Sesaat setelah ia turun, mobil pun pergi dari sana dan Zivanya segera mengambil trolley dengan ukuran paling besar. Ketika di dalam ia pun mengeluarkan list belanjaan yang semalam sudah sempat ia tambahkan beberapa barang kebutuhannya.
"Bismillah," ucap Zivanya lalu memegang trolley dan mendorongnya.
Langkah kakinya mulai menghampiri barang-barang kebutuhan Aries terlebih dahulu. Kemudian kebutuhan pokok lainnya.
Hampir setengah jam berlalu, Zivanya pun telah selesai menaruh barang sesuai list yang ada di tangannya. Namun sebelum melangkahkan kakinya ke rak lain, ia pun memastikannya terlebih dahulu. Saat dirasa telah semua, barulah ia kembali melanjutkan belanjanya.
Tiba di sebuah rak khusus surganya wanita. Mulai dari perlengkapan mandi, skincake tubuh, wajah, make up hingga kebutuhan penunjang lainnya. Zivanya terkesiap, ia tidak boleh gelap mata asal mengambil barang di sana. List yang dipegangnya sejak tadi pun diangkat tinggi-tinggi hingga tepat di depan wajahnya.
Ia mulai mengambil satu per satu barang sesuai yang ada di list. Mungkin bisa dibilang, apa yang ditulisnya itu menjadi barang dengan golongan harga yang paling murah. Lebih tepatnya ekonomis, karena rata-rata berhadiah alias beli satu gratis satu.
Dalam beberapa saat, ia telah selesai. Tujuan selanjutnya yaitu menuju pusat pakaian yang ada di lantai dua. Akan tetapi, barang-barang yang telah ia masukkan ke dalam trolley itu tidak bisa ikut naik ke atas karena memang peraturan dari supermarket itu.
Tanpa sepengetahuan dan disadari oleh Zivanya, diam-diam ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari jauh ketika ia baru saja sampai di pusat pakaian. Zivanya yang masih berjalan dengan santainya menuju tempat khusus pakaian muslimah. Kedua matanya berbinar karena banyak sekali model pakaian muslimah yang tampak modis. Namun kebanyakan menjadi satu set dengan celana kulot ataupun rok celana.
Berhubung bentuk badan yang tidak terlalu gemuk, Zivanya mengambil beberapa stel saja berikut dengan jilbab yang memiliki ukuran lebih besar dari yang biasa ia pakai sewaktu ke sekolah, tujuannya untuk menutupi bagian dada dan punggungnya.
__ADS_1
Disaat Zivanya hendak pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran, tiba-tiba orang yang memperhatikannya sejak tadi melangkahkan kakinya lebih cepat menghampiri gadis itu.
"Assalamualaikum, cantik .... "
Zivanya terkejut dengan menarik napas sedalam mungkin. "Astaghfirullah." Ia memejamkan mata sejenak sambil mengatur napasnya kembali.
"Bukannya jawab salam, kok malah istighfar sih!" protes orang yang telah mengejutkan dirinya.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabaroka...tuh." Gadis itu tercekat dengan orang yang tengah berdiri dihadapannya saat ini. Tampan.
"Arion? Ke-kenapa kamu memakai jubah slimfit seperti ini? Bukankah kamu dan Aries ... Kalian ...." Zivanya seketika menjadi gugup sekaligus salah tingkah.
"Aku sudah masuk islam Zivanya. Kita sekarang sama!" seru Arion merasa sangat bahagia. Matanya sampai berkaca-kaca. Tidak ada bedanya dengan Zivanya sendiri. Dia terkejut dan juga bahagia.
"MasyaAllah, benarkah? Apa kamu lagi gak bercanda? Ini serius kan?" cecar Zivanya masih terasa mimpi. Doanya selama ini diijabah.
"Iya aku melakukan ini karena tulus dari hati atas kemauanku sendiri," jawab Arion merasa sangat jauh lebih baik.
"Aku gak nyangka kamu bisa seperti ini. Sejak kapan?" tanya Zivanya lagi. Gadis itu seakan masih menganggap ini adalah sebuah kebetulan dalam mimpinya.
"Hah! bagaimana bisa?" tukas Zivanya.
"Lebih baik sekarang kamu bayar terlebih dahulu itu semua barang-barang kak Aries, terus kita cari tempat makan di restauran yang ada di supermarket ini," ajak Arion dengan sungguh-sungguh.
Zivanya mengangguk cepat. Akan tetapi seketika ia pun terdiam lalu melihat jam yang terpasang di tangannya.
"Arion, aku cuma punya waktu setengah jam lagi untuk segera sampai rumah kakakmu. Maaf ya, kita cuma bisa sebentar ketemunya," ujar Zivanya membuat raut wajah Arion langsung murung.
"Yah ... Tapi gak apa-apa deh. Aku juga masih harus banyak belajar buat bisa mengolah perasaanku supaya bisa lillahita'ala dalam mencintaimu," sahut Arion dengan yakin.
"Alhamdulillah, semoga apa yang menjadi keputusan kamu ini bisa terus mengantarkanmu pada kebaikan ya." Zivanya tersenyum bangga pada pria yang sejak lama dikenalnya sangat baik itu. "Sebentar ya aku ke kasir dulu."
Arion mengangguk dan membiarkan Zivanya menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Lalu ia sendiri menunggu di luar.
__ADS_1
.
.
.
.
Di sebuah restauran khusus masakan negeri tirai bambu, Zivanya dan Arion duduk saling berhadapan.
"Sekarang jelasin sama aku, kenapa kamu bisa seperti ini? Ponsel kamu gak aktif dan kemarin setelah dari rumah kakakmu, bagai hilang ditelan bumi." Zivanya membuka pembicaraan di antara mereka.
Arion terkekeh mendengar celotehan gadis itu karena baginya sangat lucu dan menggemaskan.
"Baiklah ... Jadi, sejak pertama kali aku pisah darimu. Hatiku merasa terusik, dalam diriku merasa ada sesuatu yang menarik yang mesti aku petik untuk kehidupanku. Saat itu aku mulai mencari tahu sampai berpikir semalam suntuk. Tak disangka aku sampai tertidur dan terbawa mimpi ... Dan itu mimpi yang sangat buruk. Aku bangun dalam keadaan seluruh tubuh basah dengan keringat. Lalu tak lama terdengar suara adzan berkumandang, hatiku semakin lama semakin tenang."
"Lalu?"
"Mulai dari situ, aku mulai mencari tahu apa sih itu islam dan untungnya ada temanku yang beragama islam. Namanya Arden. Kedua orang tuanya paham sekali tentang agamanya. Akhirnya aku belajar dengan dia. Setelah aku cukup tahu banyak, aku bilang sama mommy dan juga daddy. Awalnya mereka menolak, tapi karena aku juga sudah tujuh belas tahun dan mereka bertanya sama aku berkali-kali ... 'Kamu yakin masuk keyakinan yang berbeda dengan kami? Secara dari lahir kamu memiliki keyakinan yang sama dengan kami.' Disitu aku mikir lagi, pelajaran yang sudah cukup jauh aku pahami. Akhirnya sebuah mukjizat datang melalui mimpi. Dan dari mimpi itulah aku yakin kalau keputusanku ini sudah benar."
"MasyaAllah ... Aku sampai gak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa membantu mendoakanmu, supaya kamu tetap istiqomah," ujar Zivanya lalu tersenyum simpul.
"Aamiin ... Dan satu lagi!"
"Apa itu?" Zivanya mengernyit.
"Semoga kita bisa segera menikah!" seru Arion dengan penuh harap.
Zivanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu mereka pun menikmati makanan yang sebelumnya telah dipesan bersama-sama.
Sampai tak terasa karena telah berbincang panjang lebar, Zivanya tidak ingat akan waktu yang tadinya hanya di berikan selama setengah jam saja untuk pertemuannya dengan Arion. Sedangkan saat ini hari sudah semakin sore dan waktu Aries pulang kantor pun tiba.
"Zivanya!"
__ADS_1
Bersambung .....