Kesatria Bulan

Kesatria Bulan
Chapter 1 : Lahar


__ADS_3

Malam hari, di sebuah kota kecil di pinggiran kerajaan Yupa, ada seorang remaja berusia sekitar 15 tahun tengah berjalan sendirian di bawah salju yang sedang turun cukup lebat itu. Salju yang jatuh ke tanah itu, kini sudah membumbung cukup tinggi hingga menjadi agak susah untuk berjalan. Meskipun salju turun dengan cukup lebat, akan tetapi langit yang gelap itu masih dihiasi bintang-bintang yang terlihat berkerlap-kerlip.


Langkah anak remaja itu tiba-tiba saja terhenti. Ia terhenti karena mendapati bahwa ada seorang anak kecil yang berusia sekitar 8 tahun, terlihat masih duduk di pinggiran jalan dan terlihat menggigil. Ia pun lalu menghampiri anak kecil itu. Saat si anak remaja itu berada di depan anak kecil yang sedang terduduk sendirian itu, tiba-tiba anak kecil itu menatap ke atas ke arah wajah anak remaja itu dan berkata dengan suara lembutnya, "Kakak butuh korek api kak? Murah loh cuma 500 Hasq saja." (Hasq adalah mata uang yang berlaku di dunia itu)


"Kau sedang sendirian adik kecil? Kenapa kau menjual korek api di malam yang sudah cukup larut ini? Dimana orang tua mu?" tanya anak remaja itu yang kini sudah jongkok sehingga tingginya sama dengan tinggi anak kecil yang sedang duduk itu.


"Aku udah gak punya orang tua kak. Hari ini dagangan ku belum banyak yang laku, jadi aku harus menjual beberapa korek api lagi supaya aku bisa mendapatkan uang yang cukup untuk makan adik ku," jawabnya dengan suara polos khas anak berusia 8 tahun.


"Kau punya adik? Berapa banyak?" tanya anak remaja itu.


"Satu kak," jawab nya dengan wajah yang sudah memerah karena kedinginan.


"Usianya berapa tahun? Lalu dimana adik mu sekarang ini?" tanya anak remaja itu lagi.


"Adik ku sedang menunggu ku di samping bangunan itu kak. Usianya baru 5 tahun kak," jawab anak kecil itu sambil menunjuk pada sebuah bangunan yang cukup besar.


"Kalian rumahnya dimana?" tanya anak remaja itu lagi.


"Kami gak punya rumah kak, kami tidurnya berpindah-pindah tempat. Kadang di bawah pohon, di samping bangunan, pokonya dimana aja asalkan kami bisa tidur," jawabnya dengan polos.


"Sekarang sudah malam. Orang-orang juga sudah mulai tidak ada yang keluar. Akan sulit untuk menjual korek api - korek api itu sekarang. Lebih baik sekarang kalian ikut kakak saja bagaimana?" tanya anak remaja itu.


"Ikut kemana kak? Kakak gak akan jual kita kan?" tanya anak kecil itu dengan tatapan dan sorot mata yang tak berdosa.

__ADS_1


"Engga, kakak gak akan jual kalian. Ya sudah ayo, rumah kakak gak terlalu jauh kok dari sini," ucap anak remaja itu.


"Kalau begitu makasih banget ya kak. Sebentar aku panggil adik ku terlebih dahulu," anak kecil itu lalu berlari menuju adiknya yang ternyata sudah tertidur di samping kedua bangunan besar yang saling berdekatan.


Setelah itu, mereka bertiga lalu langsung bergegas ke rumah anak remaja itu. Sesampainya di sana, mereka langsung dibawa oleh anak remaja itu ke ruang makan. Di meja makan, sudah tersedia beberapa makanan. Tidak terlalu banyak memang, tapi sepertinya sudah cukup untuk anak kecil dan adiknya itu untuk makan malam.


"Ini kalian makan dulu yah, biar kakak bikinkan minuman hangat dulu buat kalian," ucap anak remaja itu.


Setelah anak kecil dan adiknya itu selesai makan, mereka pun lalu dipersilahkan untuk langsung tidur di kamar milik anak remaja itu.


***


"Siapa anak-anak kecil yang kau bawa itu?" tanya seorang laki-laki yang rambutnya sebagian sudah bewarna putih itu.


"Oh begitu ya. Aku kira kau menculik mereka dan berniat untuk menjual mereka hahahaha," pria itu tertawa dengan cukup keras.


"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu," jawab anak remaja itu.


"Yang lebih penting lagi, sekarang kau mau tidur dimana? Jangan bilang kau mau tidur bersama ayah mu ini yah?" ucap pria itu yang ternyata adalah ayah dari anak remaja itu.


"Siapa juga yang mau tidur bersama mu. Aku akan tidur di sini saja," jawab anak remaja itu.


"Yakin kau mau tidur di sini? Di ruang yang tidak ada kasurnya ini?" tanya ayahnya itu.

__ADS_1


"Iya, aku masih bisa tidur sambil duduk dan menyandarkan punggung ku ke dinding," jawab anak remaja itu.


"Wah begitu yah. Ya sudah aku mau pergi dulu yah, pintunya gak usah dikunci. Walaupun semisal ada maling yang masuk rumah ini, pasti maling itu akan bingung. Tidak ada barang yang bisa di curi dari rumah ini hahahaha," ucap ayahnya itu yang lalu langsung pergi di malam yang sudah larut ini.


Si anak remaja itu lalu langsung pergi ke pinggiran ruangan dan lalu menyandarkan punggungnya itu ke dinding yang terbuat dari kayu itu. Ia meletakkan pedang yang masih terbungkus sarung itu ke lantai yang juga terbuat dari kayu.


Nama anak remaja itu adalah Lahar. Dari kecil ia sudah di asuh oleh ayahnya. Nama ayahnya adalah Jack. Mereka berdua tinggal di sebuah rumah kayu kecil yang sangat sederhana. Sehari-hari, pekerjaan ayahnya adalah mengurus hewan ternak yang bukan miliknya. Artinya, setiap hewan ternak yang ada di kandang, adalah hewan titipan yang mana tugas Jack adalah merawat dan membesarkannya.


Sementara itu, Lahar adalah seorang pemburu penjahat yang tergabung dalam sebuah guild, walaupun umurnya saat ini barulah menginjak 15 tahun. Ia juga baru saja lulus dari akademi sekitar 3 bulan yang lalu.


Sebenarnya setelah lulus akademi, ia langsung ditawari oleh kerajaan untuk menjadi tentara kerajaan karena memang nilai Lahar adalah yang paling tinggi diantara teman-temannya yang lain.


Akan tetapi, kebenciannya pada bangsawan membuatnya enggan untuk bergabung untuk menjadi tentara kerajaan. Jika ia bergabung dengan tentara kerajaan, itu berarti sama saja ia bekerja langsung di bawah para bangsawan yang selama ini amat Lahar benci.


Kekuatan utama lahar adalah terletak pada keterampilannya menggunakan pedang. Ia juga bisa menggunakan elemen api, akan tetapi entah kenapa ia lebih sering untuk menggunakan pedangnya saja dan bertarung secara fisik.


Uang yang di dapat oleh Lahar tentu tidaklah terlalu banyak, karena guild tempatnya bekerja adalah guild yang kecil dan terhitung baru. Guild tempatnya bekerja masih dalam ranking F. Sementara urutan guild yang paling elite ke yang paling di anggap remeh adalah S, A, B, C, D, E, dan terakhir adalah F.


Malam semakin larut. Salju yang dari sejak petang tadi turun, kini perlahan sudah berhenti. Suara auman serigala kini kembali terdengar seperti sedang bersahut-sahutan. Lahar pun kini sudah tertidur di ruang depan rumahnya dan tidur dalam posisi duduk sambil menyandarkan punggungnya ke dinding yang terbuat dari kayu itu.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2