Kesatria Bulan

Kesatria Bulan
Chapter : Suara Ozas


__ADS_3

"Tapi ironisnya, sekarang kau malah bekerja untuk mereka yah? Hehehe. Bukankah bekerja mengamankan festival ini secara tidak langsung sama saja sedang bekerja untuk para bangsawan itu?" ucap Watanabe Rin.


"Tentu saja berbeda, menjaga festival berarti bukan hanya menjaga para bangsawan itu saja, tetapi juga para rakyat yang lain," jawab Lahar.


"Hihihihi ya ya ya," Watanabe Rin hanya tertawa.


***


Di kota Hert, di sekitaran alun-alun kota yang ramai, kini terlihat ada seorang anak kecil yang sedang menangis dengan amat keras. Anak kecil itu terlihat sendirian dan pakaiannya kotor compang camping. Terlihat mantel musim dinginnya penuh dengan tambalan sana sini. Dilihat dari penampilannya itu, sepertinya anak kecil itu adalah seorang rakyat jelata. Oleh karena itu, orang-orang yang melihatnya menangis hanya memandanginya dengan sinis tanpa ada yang berniat untuk membantunya berhenti menangis.


Belum diketahui apa penyebab anak itu menangis. Yang jelas tangisan anak kecil itu cukup keras. Yang mana seharusnya orang-orang disekitarnya itu membantunya atau setidaknya menanyakan kenapa anak itu menangis.


Tak berselang lama, Lahar dan Watanabe Rin mendengar akan tangisan anak kecil itu. Mereka berdua pun lalu langsung berjalan agak tergesa-gesa menuju ke sumber suara tangisan tersebut.


Pada saat mereka sampai, mereka langsung melihat anak kecil yang sedang menangis itu sedang dikerumuni oleh orang-orang. Mirisnya, orang-orang yang mengerumuni itu tak seorang pun diantara mereka yang berinisiatif untuk menolongnya. Mereka malah hanya memandanginya layaknya sebuah tontonan. Bahkan ada yang bergumam dan mengatai anak kecil itu hanyalah rakyat jelata sehingga tidak apa-apa jika tidak ditolong.


"Bukannya anak yang sedang menangis itu adalah rakyat jelata? Tidak sopan sekali menangis di malam festival seperti ini," ucap salah seorang wanita di sekitar situ yang mana pakaiannya sangatlah mewah.


"Iya yah, pantas saja sih. Dia kan rakyat jelata," timpal rekan wanitanya yang berada tepat di sebelahnya.


Jika dilihat dari baju yang wanita-wanita itu kenakan, tidak salah lagi mereka adalah kaum bangsawan. Ditambah lagi, rambut mereka bewarna pirang keemasan.


Lahar yang mendengar percakapan antar 2 wanita bangsawan itu tentu saja langsung naik pitam. Namun, ia masih bisa mengontrol emosinya itu dan hanya melewati kedua wanita itu dengan penuh amarah menuju ke anak kecil yang masih menangis itu.

__ADS_1


"Halo adik kecil, kenapa adik menangis di sini sendirian? Di mana orang tua mu?" tanya Lahar dengan ramah ke anak kecil itu.


Anak kecil itu terlihat tidak terlalu menggubris omongannya itu. Anak kecil itu masih saja terus menangis.


"Adik kecil, jangan menangis yah. Nanti kakak belikan permen kapas loh kalau adik berhenti menangis," kini giliran Watanabe Rin yang berbicara pada anak kecil itu.


Mendengar ucapan Watanabe Rin yang menawarkan permen kapas itu, seketika itu juga anak kecil itu langsung berhenti menangis. Iya pun kini terlihat begitu antusias karena mendengar bahwa ia akan diberi permen kapas yang mana mungkin jarang ia makan itu.


"Beneran kak? Asikkkk," ucap anak kecil itu yang langsung terlihat begitu ceria.


"Lihat anak jelata itu. Baru mendengar permen kapas saja langsung berhenti tangisannya. Jangan-jangan, ia menangis hanya karena meminta belas kasihan orang yang lewat saja untuk mendapatkan makanan. Dasar rakyat jelata," ucap wanita bangsawan 1 yang tadi juga sempat mengatai anak kecil itu.


Lahar yang mendengar kalimat itu, kini pun semakin terbakar amarah. Kali ini, sepertinya ia tidak bisa lagi menahan emosinya.


"DIAM !!" ucap Lahar sambil melotot tajam ke arah wanita bangsawan itu yang mana wanita itu langsung diam seketika. Begitu pun dengan orang-orang yang tadi mengerumuni anak kecil itu, kini mereka semua seakan sangat terkejut dengan sikap lahar itu yang berani menegur wanita bangsawan itu.


"Bagus anak pintar. Sekarang ayo kita beli permen kapas yang kamu suka," ucap Watanabe Rin kepada anak kecil itu. Sekarang, keduanya terlihat telah bangkit dari duduknya dan kemudian mulai berjalan mencari permen kapas.


"Permisi tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Sekarang semuanya sudah kembali normal. Silahkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian bisa melanjutkan aktivitas di festival ini. Terima kasih," ucap Watanabe Rin dengan sopan sebelum ia dan anak kecil itu mulai bergegas mencari permen kapas. Lahar kemudian mengikuti keduanya dari belakang dengan masih tetap berusaha menahan amarahnya itu.


***


"Oiya kakak sampe lupa, nama mu siapa adik kecil?" tanya Watanabe Rin.

__ADS_1


"Nama ku Ozas kak. Cita-cita ku adalah untuk menjadi seorang Wali Kota suatu hari nanti," jawab anak kecil itu dengan polos. Wali Kota sendiri adalah seorang yang memimpin sebuah kota. Biasanya orang yang menjadi Wali Kota adalah dari golongan bangsawan.


"Wah Ozas yah. Nama yang bagus. Ngomong-ngomong kenapa kamu mau jadi Wali Kota suatu hari nanti?" tanya Watanabe Rin lagi.


"Ozas ingin menjadi Wali Kota supaya bisa membantu teman-teman Ozas yang kelaparan kak. Ozas juga akan mengizinkan teman-teman Ozas untuk masuk akademi, jadi jika mereka sudah besar nanti, mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak kak," ucap Ozas dengan polos.


"Wah mulia sekali cita-cita mu. Kakak doakan supaya cita-cita mu itu suatu saat nanti bisa terkabul. Oiya ngomong-ngomong kamu udah makan belum?" tanya Watanabe Rin.


"Udah dong kak," jawab Ozas dengan senyum lebar di wajahnya. Gigi-giginya yang beberapa ompong itu pun kelihatan.


"Wah bagus kalau begitu. Memangnya kapan terakhir kali kamu makan?" tanya Watanabe Rin lagi.


"Tadi pagi kak," jawab Ozas yang masih tersenyum lebar itu.


Jleb. Jawaban dari Ozas seakan menusuk hati nurani baik Watanabe Rin atau pun Lahar. Bahkan, kini mata Watanabe Rin terlihat berkaca-kaca mendengar jawaban dari Ozas.


Sambil menahan air matanya jatuh, Rin mencoba tetap tersenyum lalu bertanya, "Kenapa kamu bilang sudah makan kalau terkahir kali kamu makan adalah saat pagi?"


"Kan memang seperti itu kan kak? Bukannya manusia itu idealnya cuma makan satu kali sehari yah? Kata ibu kalau kita sudah makan satu kali sehari, itu sudah lebih dari cukup," jawab Ozas dengan polos.


Mendengar jawaban dari Ozas, kini Watanabe Rin tidak sanggup lagi menahan air matanya. Ia pun langsung bersembunyi di balik Lahar agar tidak terlihat sedang menangis oleh Ozas.


"Eh kakak kenapa sembunyi di balik kakak yang menyeramkan itu?" tanya Ozas. (Yang dimaksud kakak yang menyeramkan itu adalah Lahar)

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2