
"Oi, kenapa kau bersembunyi begitu? Kau menangis?" tanya Lahar.
Watanabe Rin saat ini belum sanggup untuk menjawab pertanyaan dari Lahar itu. Ia masih merasa terenyuh mendengar pernyataan dari Ozas barusan yang mengatakan bahwa makan satu hari satu kali itu adalah hal yang wajar dan memang Ozas pikir bahwa manusia memang hanya butuh makan sehari sekali.
"Kakak?" panggil Ozas pada Watanabe Rin yang masih bersembunyi dibalik Lahar.
"Kak Watanabe sepertinya sedang batuk, jadi mungkin dia akan berada di belakang kakak untuk sementara waktu agar kamu engga ketularan. Lebih baik sekarang kita cari tempat untuk makan terlebih dahulu," ucap Lahar.
"Eh kak Watanabe batuk? Bukannya tadi ia sehat-sehat saja? Lalu permen kapasnya kapan kak?" tanya Ozas yang entah kenapa sekarang sudah tidak merasa takut dengan Lahar yang memang berpenampilan sangat serius.
"Iya, kak Watanabe barusan tersedak salju, jadi langsung batuk. Tenang saja, sehabis kita makan, kita akan langsung membeli permen kapan," jawab Lahar.
"Eh tersedak salju? Hahahaha ternyata kak Watanabe cukup ceroboh juga yah memakan salju. Wah beneran kak?" ucap Ozas dengan begitu bersemangat.
"Iya beneran," jawab Lahar.
"Yeay horeeeeee," timpal Ozas dengan bersemangat.
Mereka bertiga pun lalu mencari tempat untuk makan terlebih dahulu sebelum membeli permen kapas untuk Ozas.
***
"Wah makanan apa ini kak namanya? Ini beneran boleh dimakan? Wah nanti sehabis makan kira-kira berapa banyak piring yang harus aku cuci yah?" ucap Ozas dengan polos dan dengan mata yang sangat berbinar-binar.
__ADS_1
Lagi-lagi mendengar perkataan dari Ozas, Watanabe Rin kembali merasa terenyuh. Kedua bola matanya kini terlihat kembali berkaca-kaca.
"Nama makanan ini adalah sup daging ayam. Tentu saja kamu tidak perlu melakukan apa-apa setelah memakannya," jawab Lahar.
"Wah beneran kak? Wah... Ini pertama kalinya aku mendengar makanan yang terdengar enak begitu. Ini juga pertama kalinya aku bisa makan tanpa melakukan apa-apa," ucap Ozas dengan polos.
"Ya sudah kalau begitu, kamu makan dulu yah," ucap Lahar.
"Baik kak, selamat makaaannnn," ucap Ozas dengan bersemangat dan langsung mulai menyantap sup daging ayam itu dengan begitu lahap.
"Aku lanjut pergi berkeliling lagi yah, senior Watanabe. Senior bisa menjaga Ozas terlebih dahulu hingga menemukan orang tuanya atau pengasuhnya. Biar saya sendiri yang melanjutkan tugas berpatrolinya. Kalau ada apa-apa, bisa hubungi saya lewat botol penghubung. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi nanti," Lahar lalu bangkit dari duduknya dan kembali ke tugas utamanya untuk malam fedtival ini, yaitu untuk menjaga keamanan festival.
***
Di gedung Pilar Emas tersebut, para bangsawan dan para pejabat saat ini sedang mengadakan pesta makan malam menjelang puncak acara yang akan diselenggarakan tepat pukul 9 malam.
Terlihat berbagai macam hidangan sudah siap di atas meja kayu mewah yang panjang dan berukuran besar itu. Di sekitaran meja itu, sudah berjejer kursi-kursi empuk nan bagus yang sudah siap untuk diduduki oleh para bangsawan dan para pejabat kota.
"Perayaan festival tahun ini sepertinya akan berjalan lebih meriah lagi yah," ucap salah seorang bangsawan laki-laki yang usianya sekitar 50an tahun. Rambutnya pirang, perutnya buncit, tubuhnya gemuk, suaranya agak membuat telinga yang mendengarnya sakit. Namanya adalah Rudolf Marchi. Ia adalah seorang bangsawan dan sekaligus menjabat sebagai wakil wali kota Hert. Tingginya sekitar 163 cm.
"Iya benar sekali. Apalagi tahun ini kembang apinya akan sangat banyak dan juga lebih besar lagi dari tahun kemaren. Panggung, makanan, pengisi acara, minuman, semuanya juga sudah meningkat dari tahun kemaren. Tahun ini pasti akan menjadi tahun yang luar biasa hahahaha," timpal bangsawan yang satunya yang mana sedang duduk bersebelahan dengan Rudolf Marchi. Nama bangsawan ini adalah Alexander Benz. Ia adalah Wali Kota Hert. Tubuhnya tidak se-gemuk Rudolf Marchi, akan tetapi postur tubuhnya lebih tinggi dibanding Rudolf Marchi. Tinggi tubuhnya sekitar 180 cm.
"Hahaha semua penduduk pasti akan terpukau dengan kemegahan acara puncak pada tahun ini," timpal Rudolf Marchi sang Wakil Wali Kota.
__ADS_1
***
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Sudah sekitar 25 menit semenjak Lahar meninggalkan Watanabe Rin dan Ozas di tempat makan tadi. Saat ini, Lahar masih menjalankan tugas utamanya yaitu berpatroli di malam festival musim dingin ini.
Saat ini, suasana kota terlihat menjadi semakin ramai. Orang-orang kini sudah memenuhi jalanan untuk segera berbondong-bondong menuju ke alun-alun utama kota dimana acara puncak festival akan dilaksanakan di sana. Meskipun udara akan semakin dingin dengan semakin larut ya malam, akan tetapi sepertinya hal itu tidak akan menjadi penghalang bagi penduduk kota yang memang sangat menantikan puncak acara festival musim dingin ini.
Tiba-tiba, langkah Lahar berhenti. Langkahnya terhenti karena saat ini ia melihat ada sebuah kios yang sangat sepi, bahkan tidak ada pembelinya sama sekali. Ia pun penasaran kenapa ada satu buah kios yang tidak ada pembelinya sama sekali padahal suasana saat ini sangatlah ramai. Bahkan, kios-kios di sekitarnya pun terlihat begitu ramai.
Saat lahar sampai di kios tersebut, ternyata yang sedang berjualan adalah seorang nenek tua. Di kios ini, nenek tersebut menjual beraneka macam boneka-boneka dan aksesoris seperti gelang, anting, dan lain-lain. Jika dilihat sekilas, tidak ada perbedaan yang mencolok dengan aksesoris yang dijual di kios-kios lain. Namun, entah kenapa cuma di kios ini yang sepi tiada pengunjung.
"Selamat malam nek," sapa Lahar sesaat setelah sampai di kios tersebut.
"Ma malam nak," jawab nenek itu dengan lirih. Sepertinya, nenek itu sudah tidak bisa berbicara terlalu keras. Suaranya pun terdengar begitu lirih dan agak gemetaran.
"Wah gelangnya bagus-bagus nek. Aku beli 2 yah," Lahar lalu mengambil 2 buah gelang yang sama, akan tetapi berbeda warnanya. Yang satu bewarna hitam, dan yang satu lagi bewarna merah. Lahar lalu menghampiri nenek tua itu untuk membayar 2 buah gelang itu.
"Harga 2 buah gelang ini berapa nek?" tanya Lahar sambil menunjukkan 2 buah gelang yang tadi ia ambil.
Nenek tua itu lalu mengambil 2 buah gelang itu dan memperhatikannya dengan teliti dari jarak dekat. Sepertinya penglihatannya juga agak terganggu.
"Ini satu gelangnya harganya 2500 Hasq. Kalau beli dua langsung, cukup bayar 4700 Hasq saja," ucap nenek tua itu yang lalu kembali memberikan gelang yang tadi ia ambil kepada Lahar.
***
__ADS_1
Bersambung