
"Ini nek," ucap Lahar sambil memberikan uang sebesar 4700 Hasq pada nenek penjual itu.
"Makasih nak," jawab nenek penjual itu kepada Lahar.
"Ngomong-ngomong, kenapa toko ini tampak sepi sekali nek? Padahal harganya barang di sini cukup murah," tanya Lahar yang masih penasaran kenapa toko milik nenek itu sepi pengunjung.
"Awalnya toko ini sama seperti toko pada umumnya yang mana pengunjung berdatangan setiap hari. Namun semenjak 2 minggu yang lalu, mereka tahu kalau nenek ini adalah seorang rakyat jelata. Lalu kemudian mereka tidak terlihat lagi berkunjung ke toko ini. Nenek juga tidak tahu apa yang salah dengan seorang rakyat jelata. Apakah rakyat jelata itu tidak punya hak untuk membuka usaha? Apakah rakyat jelata itu selalu harus menjadi pekerja kasar?" ucap nenek penjual itu dengan suara yang cukup lirih khas suara nenek-nenek.
Lahar lalu terlihat mengerutkan giginya, ia lagi-lagi tampak begitu kesal. Ia tidak habis pikir hanya gara-gara nenek ini seorang rakyat jelata, mereka tidak mau lagi berkunjung ke toko milik nenek ini. "Pasti memang ada yang salah dengan penduduk di kota ini," begitu pikir Lahar dalam hati.
"Lalu, apakah nenek akan tetap melanjutkan usaha nenek ini walaupun sudah tidak ada yang membelinya?" tanya Lahar lagi yang mana sedang menahan rasa kesal tersebut.
"Ya. Tentu saja nenek akan terus menjalankan usaha ini. Usaha ini dibangun lewat perjuangan yang amat keras. Nenek tidak mau menyerah hanya karena hal seperti ini," jawab nenek itu yang mana di mata yang sudah terlihat senja itu terlihat begitu penuh dengan harapan masa depan.
"Aku senang mendengar jawaban nenek," Lahar tersenyum, "kalau begitu, aku pamit untuk berkeliling lagi ya nek. Semoga kiosnya cepat kembali seperti semula."
Lahar lalu mulai kembali berjalan untuk berpatroli. Tinggal beberapa menit lagi hingga acara puncak musim dingin akan segera di mulai. Ia pun lalu memutuskan untuk berpatroli di sekitar alun-alun yang akan digunakan sebagai tempat acara puncak tersebut.
***
"Teng... Teng... Teng..." suara jam dinding yang menandakan bahwa saat ini sudah memasuki pukul 9 malam. Acara puncak pun akan langsung segera dibuka.
"Pyuuuuu... Booooommmm," suara kembang api yang meluncur lalu meledak di udara. Kembang api yang meledak itu, terlihat begitu indah bak bunga-bunga yang bermekaran di gelapnya langit malam.
__ADS_1
Terlihat setiap warga kota begitu menikmati pertunjukan kembang api tersebut. Saat ini, semua penduduk yang sedang berada disekitaran alun-alun yang jumlahnya puluhan ribu orang tersebut, secara bersamaan menatap ke arah langit secara bersamaan.
Pun demikian dengan Lahar. Lahar yang sebelumnya berjalan berpatroli mengelilingi daerah sekitaran alun-alun, saat ini tengah berhenti sejenak sambil melihat kembang api yang bermekaran di atas cakrawala tersebut.
Sementara itu di tempat lain, Watanabe Rin dan juga Ozas juga terlihat sedang menikmati pertunjukan kembang api tersebut. Kali ini, di tangan kanan Ozas sudah terdapat satu buah permen kapas yang mana ukurannya lebih besar dari pada kepala Ozas itu sendiri.
"Wah indah sekali ya kak kembang apinya," ucap Ozas dengan mata yang berbinar-binar memandang ke arah langit.
"Iya hehe," jawab Watanabe Rin.
***
Setelah peluncuran kembang api selesai, saat ini panggung hiburan dan acara pesta makan malam untuk seluruh penduduk kecuali untuk rakyat jelata pun dimulai.
"Boooooooommmmmm," tiba-tiba suara ledakan yang sangat besar terdengar memecah kegegap-gempitaan suasana kota saat ini. Suara ledakan yang lalu muncul asap hitam yang membumbung tinggi itu berasal dari gedung Pilar Emas (gedung utama Wali Kota).
Suasana yang tadinya penuh dengan rasa suka cita dan canda tawa itu, kini berubah menjadi sangat mencekam. Suara teriakan para penduduk yang sedang berada di sekitar situ langsung terdengar dengan begitu keras. Mereka berteriak sambil terus berlari menjauh dari pusat ledakan tersebut.
Kebalikan dengan para penduduk, para penjaga dari guild-guild yang sudah di sewa untuk berjaga-jaga kini terlihat langsung dengan sigap menuju ke pusat ledakan tersebut. Begitupun dengan Lahar, ia juga saat ini terlihat sedang berlari menuju ke pusat ledakan tersebut. Selain dari para penjaga dari guild-guild swasta, para penjaga dari prajurit kerajaan yang ikut berjaga pun ikut menuju ke pusat ledakan tadi.
"Wah kak apaan itu tadi? Kenapa terdengar begitu mengerikan? Aku takut," ucap Ozas yang langsung memeluk Watanabe Rin yang ada di sebelahnya itu.
"Jangan takut Ozas, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Sekarang tenang dulu ya, biar kakak memeriksanya terlebih dahulu ke sana," ucap Watanabe Rin yang raut wajahnya sekarang berubah menjadi serius itu.
__ADS_1
"Kakak jangan pergi kak, jangan pergi," ucap Ozas yang masih memeluk Watanabe Rin dengan erat tersebut.
"Tapi kakak harus pergi Ozas. Ini kan sudah jadi tugas kakak. Kakak janji, setelah urusan kakak selesai, kakak akan langsung menemui Ozas lagi dan membantu Ozas untuk mencari ibu Ozas lagi," ucap Watanabe Rin.
Pada akhirnya Ozas melepaskan pelukannya itu dengan perlahan. Dengan berat hati, Ozas merelakan Watanabe Rin untuk pergi menjalankan tugasnya.
"Baiklah, tapi kakak janji yah nanti kakak langsung ke sini lagi menemui Ozas," ucap Ozas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya kakak janji, tapi kamu janji juga yah untuk tidak menangis," ucap Watanabe Rin sambil mengacungkan jari kelingkingnya kepada Ozas.
"Iya, aku janji," ucap Ozas sambil menahan tangisnya dan sekaligus langsung menyambut acungan jari kelingking milik Watanabe Rin barusan.
Setelah itu, Watanabe Rin langsung bergegas dengan kecepatan penuh menuju ke pusat ledakan tersebut. Saat ini, ia berusaha untuk menghubungi Lahar dengan menggunakan Botol Penghubung, akan tetapi entah kenapa selalu gagal.
***
Sementara itu di tempat lain, Lahar kini sudah berada di pusat gempa. Saat ini, gedung Pilar Emas terlihat sudah hancur dan berantakan. Masih belum diketahui berapa banyak korban yang terdampak oleh ledakan barusan. Namun, telah dikonfirmasi bahwa Wali kota dan Wakil wali kota masih selamat karena ketika ledakan terjadi, mereka berdua sedang berada di alun-alun.
Saat ini, para penjaga yang sedang bertugas terlihat sedang menyelidiki penyebab ledakan tersebut. Lebih lanjut lagi, mereka juga sedikit terkejut karena bisa kecolongan seperti ini. Mereka pun saat ini terlihat dengan sangat serius menyelidiki kasus ini.
"Auuuuuuuu," suara Auman serigala tiba-tiba menggema yang mana menambah suasana menjadi terasa semakin mencekam.
***
__ADS_1
Bersambung