Kesatria Bulan

Kesatria Bulan
Chapter 2 : Dylan dan Josh


__ADS_3

Kukkkuruyukkkk. Suara ayam berkokok di pagi hari membangunkan Lahar. Ia lalu bangkit dari duduknya, tak ketinggalan, ia kembali meletakkan pedangnya di pinggang sebelah kiri.


Ia berjalan menuju jendela yang terletak di ruangan itu dan kemudian membukanya. Sorot sinar matahari pagi langsung menyorot wajah lahar yang baru bangun itu. Karena sekarang masih musim dingin, jadi sorot sinar matahari di pagi ini tidaklah terlalu menyilaukan.


"Udara yang segar," ucap Lahar dalam hati saat sedang menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Lahar lalu pergi ke luar rumah untuk selanjutnya menuju ke kandang ternak miliknya dan ayahnya yang ukurannya tidak terlalu besar dan seluruhnya terbuat dari kayu. Saat ia sampai, ia sudah mendapati Jack (ayahnya) sudah mulai mengurusi ternak-ternak titipan orang lain itu.


Ada 4 sapi, 4 kambing, dan 2 kuda di kandang itu. Setiap hari, mereka berdua harus mengurus ternak-ternak tersebut yang notabene bukanlah milik mereka. Mereka hanya dipercaya untuk merawat ternak-ternak tersebut dan kemudian hasil dari ternak tersebut akan dibagi dua.


"Ayah semalam pulang jam berapa?" tanya Lahar yang perlahan mendekati ayahnya itu yang sedang asik memerah sapi itu.


Sambil tersenyum, Jack menjawab, "Entahlah, aku tidak terlalu mengingatnya. Yang jelas itu sudah hampir mendekati akhir dari malam."


Lahar termasuk orang yang sangat peka. Ia bisa mendeteksi jumlah orang yang berada 5 meter di sekitarnya. Bahkan bila ia sedang tidur sekalipun. Ia pasti akan menyadari jika ada orang atau apapun yang bergerak di sekitarnya, apalagi berjalan dihadapnnya. Namun, anehnya, ia sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran ayahnya itu. Lahar sendiri hingga saat ini masih belum menemukan jawabannya.


"Sapi yang itu sudah ayah perah belum?" tanya Lahar lagi.


"Sudahlah, biar ayah saja yang mengurus ternak-ternak ini. Ngomong-ngomong kau sudah memeriksa anak kecil yang semalam kau bawa pulang belum?" tanya Jack balik.


"Belum sih, tapi ketika tadi aku baru terbangun, aku masih bisa merasakan hawa keberadaan mereka masih berada di dalam kamar. Jadi, aku pikir mereka masih tertidur," jawab Lahar.

__ADS_1


"Begitu ya, tapi lebih baik kau memeriksanya juga kan? Untuk sekedar mengucapkan selamat pagi atau hal-hal semacam itu. Oiya ngomong-ngomong apa yang akan kau rencanakan selanjutnya mengenali 2 anak kecil itu? Apakah kau akan merawat mereka seterusnya di rumah ini?" tanya Jack lagi.


"Tidak, tentu saja tidak. Sebenarnya nanti siang aku berencana untuk membawa mereka ke tempat rekan ku di guild. Kebetulan ia mempunyai semacam panti asuhan untuk anak-anak terlantar," jawab Lahar.


"Oh begitu ya," jawab Jack sambil tersenyum lebar. Jack adalah pribadi yang sangat santai. Ia sangat jarang dan bahkan hampir tak pernah marah sekalipun. Setiap kali berbicara dengan Lahat, ia pasti akan selalu memasang senyum lebarnya itu, kecuali di saat-saat tertentu saja.


Lahar lalu kembali ke dalam rumahnya untuk memeriksa 2 anak kecil yang semalam ia bawa itu. Karena agak terburu-buru, lahar pun sampai lupa untuk menanyakan nama dan asal mereka. Lahar menyadari bahwa kedua anak kecil itu bukanlah berasal dari kota ini.


Saat lahar sudah memasuki rumah, ia menemukan bahwa kedua anak kecil itu ternyata sudah tidak berada di kamar, tempat mereka berdua tidur semalam. Lahar lalu menggunakan sensornya dan menyadari bahwa mereka berdua sekarang sudah berada di dapur.


Lahar sedikit terkejut ketika ia menemukan bahwa kedua anak kecil itu ternyata sedang mencuci piring bekas makan malam semalam. Lahar pun merasa sangat tersentuh dengan apa yang mereka lakukan itu.


Salah satu dari mereka kemudian menyadari kehadiran Lahar dan langsung menyapanya, "Selamat pagi kak, kakak baru bangun yah?"


"Pagi... Kalian gak usah repot-repot mencuci piring seperti itu. Biar kakak saja," jawab Lahar seraya berjalan mendekat ke arah mereka.


"Gak papa kok kak. Ini sebagai ucapan terima kasih dari kami. Kami tidak memiliki apa-apa untuk membayar makanan dan sewa kamarnya. Jadi, setidaknya kami bisa membayarnya dengan jasa kami. Bahkan jika semua korek api yang aku punya itu terjual semuanya, rasanya juga masih belum cukup untuk membayar semua tagihannya," jawab anak yang lebih besar.


"Eh kenapa kalian berpikiran kalian harus membayarnya? Kalian tidak harus membayarnya kok. Oiya maaf sebelumnya kakak lupa menanyakannya, nama dan asal kalian dari mana?" ucap Lahar yang menjadi sangat sesak dadanya mendengar anak sekecil mereka mengatakan hal yang sangat dewasa seperti itu.


"Nama ku Dylan kak, dan nama adik ku Josh," jawab anak yang lebih besar.

__ADS_1


"Oh Dylan dan Josh yah... Terus asal kalian dari mana? Kakak rasa kakak baru menemui kalian kemaren, jadi kakak pikir kalian bukan berasal dari kota ini?" ucap Lahar lagi.


"Kakak benar, kami sebenarnya bukan berasal dari kota ini. Kami berasal dari kota Lyn, dan baru sampai di kota ini sekitar 2 hari yang lalu," jawab Dylan.


"Kota Lyn? Dimana itu?" tanya Lahar yang sepertinya tidak mengetahui letak kota tersebut.


"Itu kota yang sangat jauh kak dari sini kak. Butuh waktu sekitar 3 Minggu perjalanan menggunakan kereta kuda kak," jawab Dylan lagi.


"Wah jauh juga yah... Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa sampai di kota ini kalau jaraknya sejauh itu?" tanya Lahar lagi.


"Kami dibawa sama orang dewasa yang rambutnya bewarna pirang, badannya gemuk, bajunya berkilauan, dan ia memakai kacamata berlensa satu kak," jawab Dylan.


Mendengar jawaban dari Dylan tersebut, Lahar langsung bisa menyadari bahwa yang membawa mereka kemari adalah seorang bangsawan. Sepertinya bangsawan itu ingin memanfaatkan tenaga 2 anak kecil ini untuk keuntungan mereka sendiri. Atau mungkin, bangsawan itu berniat untuk menjual 2 anak kecil ini. Kini, hal tersebut semakin menambah kebencian Lahar kepada para bangsawan.


Di dalam pikirannya sekarang tidak ada hal baik yang dimiliki oleh para bangsawan. Sebaliknya, mereka selalu membawa penderitaan kepada para rakyat kelas bawah.


Di dunia tempat Lahar hidup ini, terdapat kasta yang membedakan kehidupan sosial bermasyarakat. Ada 4 kasta yaitu Bangsawan, Kesatria, Orang Biasa, dan yang paling bawah dan yang paling menderita adalah Rakyat Jelata.


Sebenarnya Lahar sangatlah tidak setuju dengan sistem kasta yang berlaku di dunianya itu. Ia menganggap bahwa tidak seharusnya manusia dibeda-bedakan seperti itu. Manusia itu sama dan tidak ada manusia yang lebih istimewa dari pada yang lainnya. Apalagi, kehidupan rakyat jelata selalu sulit. Bahkan bila mereka memiliki bakat atau kemampuan yang hebat sekalipun, mereka pasti akan tetap dipersulit. Bahkan, untuk masuk ke dalam akademi saja, anak-anak dari rakyat jelata sangatlah sulit.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2