
"Oiya ngomong-ngomong kenapa kau bekerja di guild kelas rendah seperti ini. Bukannya kau itu adalah lulusan terbaik dari angkatan mu yah?" ucap Watanabe Rin pada Lahar.
"Tidak ada alasan khusus untuk itu. Hanya saja aku sangatlah membenci para bangsawan kotor itu. Jadi, aku memilih guild ini karena guild ini yang paling jarang berhubungan dengan para bangsawan kotor itu. Jika aku bergabung dengan guild yang memiliki ranking tinggi, maka pasti para bangsawan kotor itu akan sering menghubungi guild tersebut. Demi apa pun, aku sangat membenci mereka," jelas Lahar panjang lebar.
"Ohh begitu... Tapi apakah kau membenci semua bangsawan?" tanya Watanabe Rin lagi.
"Ya tentu saja. Hanya dengan mendengar nama bangsawan saja sudah membuat ku mual jijik," jawab lahar.
"Tapi bukankah itu juga tidak adil? Bukankah tidak semua bangsawan memiliki sifat buruk yang kau sangkakan itu? Contohnya saja bayi bangsawan yang baru lahir, para anak-anak kecil yang juga belum tahu apa-apa. Bukankah itu tidak adil untuk ikut membenci mereka?" ucap Watanabe Rin.
"Iya untuk saat ini anak-anak itu belum tahu apa-apa, tapi 10 atau 20 tahun lagi, aku yakin mereka akan menjadi sama kotornya dengan bangsawan pendahulu mereka. Aku yakin itu," ucap Lahar dengan yakin.
"Sepertinya kau memang benar-benar membenci mereka yah. Bukan hanya dari tutur kata mu, tetapi juga dari raut wajah mu itu yang menggambarkan kebencian yang amat besar. Semuanya begitu terlihat jelas," ucap Watanabe Rin lagi.
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan mu? Sudah lebih baik?" tanya Lahar.
"Sepertinya sudah, kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan kita menuju tempat dimana senior Genm berada," ucap Watanabe Rin yang kini sudah beranjak dari duduknya.
"Ayo," Lahar kini pun sudah beranjak dari duduknya.
Mereka berdua lalu langsung tancap gas berlari menuju ke dekat hutan Krimin. Tempat dimana senior Genm terdeteksi oleh jurus milik Watanabe Rin tadi.
Dibawah sinar rembulan yang agak redup. Di bawah langit yang setengahnya dipenuhi bintang. Di bawah hujan salju yang mulai turun kecil-kecil. Watanabe Rin dan Lahar berlari dengan begitu cepat. Saking cepatnya, seakan-akan mereka bisa menghilang kapan saja mereka mau.
***
Tak terasa, kini matahari sudah mulai terbit dari ufuk timur. Watanabe Rin dan Lahar terlihat masih saja berlari. Meskipun mereka telah berlari dengan begitu cepat, akan tetapi mereka masih belum juga sampai di tempat yang sedang mereka tuju itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja saat mereka berdua masih berlari, Botol Penghubung milik Watanabe Rin berbunyi. Watanabe Rin pun langsung menghentikan langkahnya dan mengangkat panggilan tersebut. Lahar yang berlari di belakangnya juga ikut berhenti.
"Hallo?" buka Watanabe Rin.
"Hallo, kau ada dimana sekarang?" bunyi suara dari Botol Penggung yang mana ternyata adalah suara dari Coro Ocra.
"Kami masih dalam perjalanan ke hutan Krimin senior," jawab Watanabe Rin.
"Begitu yah. Kalau bisa cepat yah," ucap Coro Ocra.
"Siap senior kami akan berlari dengan kecepatan penuh," jawab Watanabe Rin.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu kalian. Yang jelas, lebih cepat kau sampai, lebih baik," ucap Coro Ocra.
"Siap senior," jawab Watanabe Rin.
***
Setelah 4 jam berlari dari titik tadi, kini mereka sudah sampai di dekat hutan Krimin. Dalam radius ini, Watanabe Rin sudah bisa merasakan hawa keberadaan dari Coro Ocra. Namun, entah kenapa ia tidak bisa merasakan hawa keberadaan dari pada Genm Fred. "Apakah mungkin lacakan ku semalam salah?" begitu pikirnya dalam hati.
"Lewat sini," Watanabe Rin memimpin jalan menuju ke tempat Coro Ocra berada.
***
Pada akhirnya, Watanabe Rin dan Lahar sudah bisa melihat keberadaan dari pada Coro Ocra yang terlihat dari kejauhan sedang seperti menunggui seseorang yang sedang tergeletak tak berdaya. Hawa keberadaan dari pada orang yang tergelatak itu pun sangat tipis dirasakan oleh Watanabe Rin.
Mereka berdua lalu terkejut ketika sudah sampai. Ternyata orang yang mereka lihat dari kejauhan sedang tergeletak sekarat adalah Genm Fred. Watanabe Rin pun langsung cepat-cepat berlari menuju ke Genm Fred yang mana terlihat sedang diberi pertolongan seadanya oleh Coro Ocra.
__ADS_1
"Senior Genm!!! Tidak mungkin, sebenarnya apa yang sedang terjadi senior? Kenapa senior Genm menderita luka yang sangat parah ini," ucap Watanabe Rin dengan raut wajah yang sangat terkejut seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada Genm Fred.
"Oi tenanglah sedikit. Lalu, bisakah kau tangani lanjutnya? Tolong berikan perawatan pertama yah. Yang aku lakukan dari tadi hanyalah mencoba untuk mencegah detak jantungnya itu berhenti dan menutup beberapa lukanya saja. Tolong yah," ucap Coro Ocra yang lalu menyerahkan perawatan kepada Watanabe Rin yang mana memang berkemampuan khusus untuk mengobati dan beberapa kemampuan lain yang mana gunanya untuk men-support rekannya yang lain.
Saat ini, kondisi Genm Fred sangatlah mengenaskan. Luka sobek berada di sekujur tubuhnya. Darah pun mengalir dengan deras dari bekas luka-lukanya itu. Bahkan, kini lengan kiri dari pada Genm Fred sudah tidak ada lagi. Detak jantungnya juga sudah sangat lemah. Dia juga pastinya sudah kehilangan banyak sekali darah.
"Baik senior Coro, serahkan pada ku," Watanabe Rin lalu terlihat mulai membuka jurus pengobatannya.
"Senior Coro... Sebenarnya apa yang telah terjadi pada senior Genm... Apakah kau tahu sesuatu?" tanya Lahar.
"Entahlah... Saat aku baru menemukannya, dia sudah seperti itu. Aku juga terkejut kenapa ia bisa terluka separah itu. Bahkan, jika aku terlambat beberapa menit saja, mungkin detak jantungnya sudah berhenti dari tadi," ucap Coro Ocra dengan nada yang sangat serius.
"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya senior?" tanya Lahar.
"Kalian langsung kembali ke markas saja ketika kondisi Fred sudah baikan. Aku akan mencari tahu terlebih dahulu siapa yang berani melakukan hal ini padanya," Coro Ocra lalu langsung melompat dan berlari ke arah depan. Dari tatapannya tadi, ia sangat terlihat sekali marah dan sepertinya insting membunuhnya sudah sangat memuncak.
"Tunggu dulu senior, tung---," belum selesai Lahar mengucapkan kalimatnya, Coro Ocra sudah lebih dahulu menghilang dari pandangannya.
Lahar lalu kini berjalan menuju ke arah Watanabe Rin. Ia sepertinya saat ini sedang bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Senior Rin, apakah ada yang bisa aku bantu sekarang?" tanya Lahar.
"Oh... Iya... Bisakah kau gambarkan aku sebuah simbol untuk menambahkan darah? Contoh gambar simbolnya ada di buku itu. Kau bisa menggambarnya kan?" tanya Watanabe Rin yang mana kini tubuhnya kembali sudah dipenuhi oleh peluh. Sepertinya jurus penyembuhan yang sedang ia gunakan sekarang juga sangat menguras tenaganya sama seperti jurus Simbol Pelacak yang ia gunakan semalam itu.
***
Bersambung
__ADS_1