Kesatria Bulan

Kesatria Bulan
Chapter 5 : Pertarungan Hiburan


__ADS_3

Wushhhh... Bregg... Orang aneh yang tadi berada di atas pohon itu kini turun ke tanah, mendekat ke arah Lahar. Lahar pun langsung terlihat memasang kuda-kudanya dan siap mencabut pedangnya kapan pun ia mau. Melihat sikap Lahar yang semakin waspada itu, orang aneh itu tersenyum.


"Hi hi hi hi," tawa khas orang aneh itu.


"Aku ulangi lagi, siapa kau sebenarnya, dan apa maksud tujuan mu datang ke sini?" ucap Lahar dengan nada serius.


"Baiklah baiklah... Aku akan mengatakan siapa nama ku jika kau terus memaksa ku seperti itu. Nama ku... Bukan... maksud ku kau boleh memanggil ku Ace, aku datang ke sini hanya untuk menyapa mu sebentar. Hi hi hi hi," ucap orang aneh itu yang kemudian menyebut dirinya dengan sebutan Ace.


"Ha? Menyapa ku?" ucap Lahar.


"Ya menyapa mu," sesaat setelah Ace selesai mengucapkan kalimatnya itu iya langsung menyerang ke arah Lahar menggunakan sebuah tongkat baja yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.


"Tanggg," Suara tongkat baja milik Ace beradu dengan pedang milik Lahar yang langsung ia gunakan itu untuk menangkis serangan dari Ace.


"Menyapa ku kata mu? Dasar omong kosong," ucap Lahar sambil menghentakkan pedangnya dan membuat Ace mundur kebelakang.


"Hi hi hi hi," Ace hanya tertawa seperti biasanya sambil terus memainkan tongkat bajanya itu yang ia putar-putar di tangannya itu.


Wushhhh. Kali ini Ace mengayunkan tangan kanannya yang mana seketika menciptakan sebuah gelombang angin yang berbentuk bulan sabit. Tepian gelombang tersebut, terlihat sangat tajam. Gelombang yang cukup besar itu, langsung menerjang ke arah Lahar dengan sangat cepat.


Lahar sempat berpikir bahwa rasanya mustahil untuk menghindari serangan gelombang angin milik Ace itu dari jarak sedekat ini. Ia pun lebih memilih untuk mencoba menangkisnya dengan pedang miliknya.


"Tanggggg... Wushhhhhhh...," suara gelombang saat pertama kali terkena pedang milik Lahar. Setelah itu, gelombang serang tadi itu langsung pecah dan menimbulkan angin ribut yang berhembus ke segala arah dengan hembusan yang cukup kuat. Cukup kuat untuk membuat kaki Lahar bergeser beberapa cm ke belakang. Selain itu, hembusan angin yang keluar itu, membuat pandangan Lahar menjadi kabur.

__ADS_1


Wushhhhh. Seketika itu juga, Ace sekarang sudah berada di samping Lahar sambil merangkul pundaknya dan berkata, "Kena kau. Hi hi hi hi."


Lahar yang sangat terkejut dengan gerakan Ace yang sangat cepat itu lalu langsung melompat menjauh ke arah samping. Ia seperti sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat barusan itu. Gerakan yang sangat cepat, dan seakan seperti melebur bersama angin.


"Kenapa dengan muka mu itu. Kau tampak begitu terkejut. Hi hi hi hi," ucap Ace.


"Tak kusangka dia sehebat dan secepat ini. Cihh..." gumam Lahar di dalam hati.


"Apa yang kau katakan barusan? Aku bisa mendengar mu lohh... Aku ini bisa mendengar semua hembusan angin. Bahkan... suara yang kau keluarkan lewat hembusan nafas mu itu, aku bisa mendengarnya. Hi hi hi hi," ucap Ace.


Setelah itu, Ace dan Lahar kembali melanjutkan pertempuran mereka. Kali ini, Ace lebih inten dalam hal melakukan serangan. Setiap serangan yang dilancarkan itu, sangat membuat Lahar kewalahan karena kecepatannya itu. Beruntung, ia masih bisa menangkis atau menghindari serangan-serangan itu, walaupun beberapa serangan bisa mengenai tubuh dan baju milik Lahar sehingga meninggalkan beberapa goresan.


***


Kini, langit sudah mulai menggelap. Matahari sebentar lagi akan benar-benar menghilang dari langit. Yang tersisa, hanya cahaya jingga yang tidak terlalu menyilaukan tersebut.


"Kau ini sebenarnya cuma mau bermain-main dengan ku yah pak tua? Aku lihat kau belum mengeluarkan kekuatan penuh mu. Kau seperti masih menahannya," ucap Lahar.


"Wah wah wah, tak terasa langit sudah gelap yah. Kita teruskan kapan-kapan lagi yah, tentu saja kita akan segera bertemu kembali. Dan juga, aku ini tidak setua seperti yang kau katakan loh. Jadi, jangan panggil aku pak tua. Entah kenapa setiap kali kau memanggil ku dengan sebutan pak tua, hati ku terasa sakit. Lagi pula, aku ini masih 25 tahun loh... Cuma terpaut 10 tahun kan dengan mu... Wahai Onirion Lahar?" ucap Ace yang mana langsung membuat Lahar terlihat terkejut.


"Hi hi hi hi. Kenapa kau tampak terkejut begitu? Apa aku salah mengucapkan nama mu?" tambah Ace lagi.


"Kenapa... Kenapa kau bisa tahu nama ku? Bahkan teman-teman ku saja tidak ada yang tahu tentang nama itu," ucap Lahar yang masih memasang wajah terkejut. Wajah dan tubuhnya kini juga sudah dipenuhi luka goresan.

__ADS_1


"Hi hi hi hi. Rasanya sangat menyenangkan bisa bermain dengan mu hari ini. Sampai jumpa," ucap Ace yang lalu langsung melompat ke belakang dan lalu seakan menghilang bersamaan dengan hembusan angin.


"Cih... Siapa sebenarnya orang itu? Dasar sialan. Jika saja aku lebih kuat. Sialll," gumam Lahar yang lalu langsung memukul tanah tempat ia berpijak itu.


***


Matahari kini sudah digantikan bulan. Langit pun sudah sepenuhnya gelap. Suara auman serigala sudah mulai terdengar bersahut-sahutan.


Saat ini Lahar masih dalam perjalan pulang menuju rumahnya. Saat ini, ia masih berada di area hutan. Ia berjalan dengan perlahan karena ia sudah kehilangan sebagian besar kekuatannya setelah berlatih dan lalu bertarung dengan orang yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya tadi.


Rasanya, baru pertama kali ini Lahar mendapatkan luka goresan yang cukup banyak di tubuhnya. Ditambah lagi, pakaian yang dikenakannya itu juga ikut robek di sana-sini. Saat ini dia tahu, ketika nanti sudah sampai rumah, pasti Jack ( ayahnya ) akan langsung menertawakannya karena terlihat begitu menyedihkan seperti ini.


***


"Aku pulang," ucap Lahar yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Wah lama ju---- Bwahahahahahahahaha hahahahahaaha... Apa-apaan itu. Apa-apaan dengan pakaian dan tubuh mu yang terlihat begitu menyedihkan seperti itu. Kau habis diburu beruang yah? Hahahaha," Jack tertawa dengan amat keras.


"Sudah ku duga ayah pasti akan langsung tertawa melihat ku seperti ini. Tadi aku bertemu dengan orang aneh saat sedang berlatih sendirian di bukit Kepala Naga, di hutan Green Briar. Ia lalu langsung menyerang ku bertubi-tubi. Serangannya sangat cepat, aku belum mampu mengimbangi semua pergerakkannya, maka dari itu, beberapa serangannya mengenai ku," jelas Lahar yang kini langsung duduk di kursi kayu di hadapan ayahnya itu.


"Oh begitu yah, tapi aku jarang sekali melihat mu sampai seperti ini. Ini merupakan hiburan tersendiri buat ku ini Hahahaha," ucap Jack yang masih tertawa.


"Ayah macam apa kau ini, bukannya khawatir tapi malah senang melihat anaknya babak belur seperti ini. Yah meskipun aku memang tidak membutuhkan rasa khawatir mu itu sih," ucap Lahar.

__ADS_1


***


Bersambumg


__ADS_2