Kesatria Bulan

Kesatria Bulan
Chapter 4 : Kedatangan Orang Aneh


__ADS_3

Sepulang dari tempat Frenk Jie, Lahar tidak langsung pulang menuju rumahnya. Seperti yang ia katakan sebelumnya pada Frenk Jie bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan. Sesuatu yang harus ia lakukan adalah latihan.


Ya, jika di hari senggang seperti hari libur ini, lahar akan menghabiskan sebagian waktunya untuk berlatih seorang diri. Dari dulu, lahar selalu berlatih seorang diri. Entah kenapa, ia merasa lebih nyaman seperti itu. Tempat yang ia pilih untuk berlatih dari dulu hingga sekarang adalah hutan Green Briar. Hutan tersebut terletak di sebuah bukit. Nama bukit itu adalah bukit Kepala Naga. Lahar memilih tempat tersebut untuk berlatih adalah karena tempatnya yang sangat sepi dan sunyi. Daerah itu pun jarang didatangi orang, sehingga sangat cocok untuk berlatih seorang diri tanpa gangguan apa pun.


Kenapa di sebut bukit Kepala Naga? Tentu saja karena jika dilihat dari jauh, bentuk bukit itu terlihat seperti kepala naga yang sedang tertidur.


Saat ini, Lahar telah sampai di hutan Green Briar. Ia pun langsung menuju lokasi tempat biasa ia berlatih yang terletak di samping aliran sungai.


Saat berlatih di sini, yang lahar fokus latih adalah kekuatan elemen apinya. Tidak ada yang meragukan kehebatan lahar dalam berpedang, akan tetapi entah kenapa kemampuannya dalam menggunakan elemen api masihlah amat kurang. Itulah sebabnya ia lebih sering menggunakan pedangnya saat di medan pertempuran.


Bushhhhhhh. Kobaran api yang lumayan besar langsung muncul sesaat setelah lahar menggunakan salah satu jurus elemen apinya. Api itu muncul dari mulutnya yang sedang meniup itu. Nama jurus itu adalah Tiupan Api.


Masalah utama lahar dalam penggunaan elemen api adalah tingkat keakuratannya. Ia sebenarnya bisa mengeluarkan kekuatan yang amat besar, akan tetapi jurusnya itu sering kali meleset dan amat kecil kemungkinan jurusnya itu tepat sasaran. Tentu jika di dalam pertempuran yang sesungguhnya itu merupakan hal yang berbahaya. Karena bisa saja jurusnya yang kuat itu malah mengenai rekan-rekannya.


Baru beberapa menit Lahar berlatih, salju-salju yang tadi masih menutupi area itu pun kini telah mencair. Salju-salju itu tak kuasa menahan hawa panas dari api yang keluar dari jurus-jurus Lahar.


Suara pekikan elang kini terdengar yang entah datang dari mana. Lahar berhenti sejenak lalu memandang ke arah langit.


***

__ADS_1


Sudah sekitar 1 jam lebih Lahar berlatih di sini. Hasil latihannya pun masih dibilang belum membuahkan hasil yang ia harapkan. Jurusnya itu masih belum bisa ia kontrol secara penuh. Ia terlihat mengelap peluh yang menetes dari bagian atas kepalanya.


Di saat ia sudah kelelahan itu, ia juga kini merasa lapar. Ia lalu mulai melangkah maju ke arah sungai yang ada di hadapannya itu untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Bisa siput, ikan, kerang, kepiting, atau apa pun itu asalkan bisa ia makan. Lahar sangat amat menyukai makanan yang berasal dari air dari pada makanan yang berasal dari daratan. Jadi, bila ia disuruh memilih mau makan ikan atau daging sapi panggang, ia pasti akan memilih untuk memakan ikan saja. Meskipun ikan yang ditawarkan ikan yang kecil sekalipun.


Lahat langsung menarik pedang dari pinggang sebelah kirinya sesaat setelah sampai di tepi sungai. Ia kemudian mulai mencari-cari hewan apa yang bisa ia dapatkan dari dalam sana. Karena sekarang masih musim dingin, makan hanya terdapat sedikit ikan-ikanan saja yang menampakkan diri mereka di aliran sungai.


Setelah mencari sekitar beberapa menit, akhirnya lahar menemukan sebuah ikan berukuran sekitar 15 cm. Dengan sekali ancang-ancang, ia langsung melemparkan pedang yang ada ditangan kanannya tadi langsung ke arah ikan itu. Jleb. Pedang yang ia lemparkan barusan, dengan sempurna mengenai perut ikan itu.Lahar pun lalu langsung mengambil pedang dan ikannya itu dan kembali mencoba untuk mendapatkan satu ikan lagi.


Setelah beberapa saat, kini Lahar telah berhasil menangkap 4 ikan berukuran 13-18 cm. Ia pun langsung mengumpulkan kayu untuk membakar ikan-ikan yang baru ia tangkap itu.


Bushhh. Hanya dengan memberikan jari jemarinya, Lahar berhasil menghidupkan kayu yang tadi ia kumpulkan penuh dengan api. Lahar lalu membakar ikan hasil tangkapannya tadi di atasnya.


***


Zig zig zig zig. Tiba-tiba sebuah senjata berbentuk bulatan yang di tepiannya tajam itu terbang menuju ke arah Lahar yang sedang beristirahat itu.


Lahar yang sedikit terlambat menyadari kedatangan senjata itu pun tidak mampu mengeluarkan pedangnya untuk menangkisnya. Yang bisa ia lakukan untuk saat ini adalah menghindarinya.


Srettt. Meskipun Lahar sudah berusaha untuk menghindar, akan tetapi senjata itu masih saja mengenai wajah lahar. Kini, goresan bekas senjata itu di pipinya, mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Siapa di sana?" ucap Lahar dengan suara yang tidak terlalu keras. Lahar sedikit mengecilkan matanya itu dan memasang wajah yang serius kali ini. Alisnya pun sedikit ia kerutkan.


"Hi hi hi hi. Hebat juga kau bisa menghindari lemparan senjata ku itu. Tidak banyak loh orang yang bisa melakukannya. Seperti yang diharapkan dari siswa dengan nilai terbaik dari akademi. Hi hi hi hi," ucap sosok pria yang tubuhnya tidak terlalu besar dan suaranya agak nyaring dan tipis. Suara tawanya itu pun sangat khas sekali.


"Siapa kau pak tua? Dan apa maksud mu melempar senjata itu ke arah ku," tanya Lahar serius.


"Tidak ada maksud apa-apa, tenang saja. Oi oi oi, kasar sekali kau ini. Aku masih belum cukup tua untuk dipanggil pak tua loh. Hi hi hi hi," ucapnya yang lagi-lagi diakhiri dengan suara tawanya yang khas itu.


Jrek. Lahar kini memegang pegangan pedang miliknya. Ia seperti tengah bersiap jikalau orang itu tiba-tiba melakukan sebuah serangan.


"Oi oi oi sudah aku bilang kan aku tidak bermaksud apa-apa. Kenapa kau malah terlihat seperti sedang bersiap-siap untuk bertarung?" ucap sosok itu.


"Kau ini sebenarnya siapa? Dan aku tanya sekali lagi, apa maksud dan tujuan mu melakukan hal itu pada ku?" ucap Lahar dengan nada yang berat dan serius.


"Benar kata orang-orang. Orang muda jaman sekarang banyak yang tidak sabaran yah. Dan kepala mereka dipenuhi oleh kecurigaan. Hi hi hi hi," jawabnya.


"Lagi-lagi kau tidak menjawab pertanyaan ku yah? Lagi pula siapa juga yang tidak akan merasa curiga jika tiba-tiba seorang berpenampilan aneh menyerang mereka dengan senjata yang bergerak begitu cepat ke arah mereka. Jika aku tadi tidak menghindar, mungkin kepala ku sudah terpisah dari tubuh ku. Bagaimana mungkin aku tidak merasa curiga?" ucap Lahar.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2