
Pagi harinya, Reyna bersiap kesekolah begitupun dengan Reyhan. Namun Reyhan tetap diam tanpa menyapa Reyna.
Setelah selesai mengenakan seragamnya, Reyna menghampiri Reyhan yang masih sibuk merapikan seragamnya.
"Rey, kamu marah sama aku, maaf kalau aku membuatmu marah." Cicit Reyna. Namun Reyhan tidak memperdulikan perkataan Reyna, Ia mengabaikan Reyna yang masih berdiri didekatnya. Ia mengambil tasnya dan keluar dari Apartemennya tanpa memperdulikan Reyna.
Sementara Reyna menatap nanar Reyhan yang sudah pergi dari hadapannya.
"Apa kamu segitu marahnya denganku, sehingga kamu tidak mau berbicara sama aku sama sekali." Ucap Reyna menatap kosong kearah pintu kamarnya. Tak terasa cairan bening menetes di pipinya.
Sementara Reyhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Ia mulai memikirkan tentang Reyna. "Apa gue keterlaluan mendiamkan dia."
15 menit Reyhan sampai disekolah tempat ia menutut ilmu. Reyhan turun dari mobilnya.
"REYHAN.... " Panggil seorang perempuan cantik dan langsung berlari dan memeluknya.
"Reyhan gue kanget banget sama lo." Ucap perempuan itu dengan mengeratkan pelukannya dan tak lama Reyhan membalas pelukannya.
"Kapan lo datang?" Tanya Reyhan yang masih memeluk perempuan itu, namun tanpa sengaja mata Reyhan melihat Reyna yang masih duduk diatas motornya menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
__ADS_1
Reyna memutar motornya dan pergi meninggalkan area sekolah dengan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
"Reyna.... Tunggu... " Teriak Reyhan berlari mencoba mengejar Reyna yang sudah menjauh.
"Rey, siapa yang kamu panggil?" Tanya perempuan itu dengan memegang tangan Reyhan.
"Maaf Mel, gue tidak bisa jelaskan sekarang, gue harus kejar dia dulu. gue takut dia salah paham mengenai hubungan kita." Ucap Reyhan lalu menghampiri Brian yang baru masuk di area sekolah.
"Bri pinjam motor lo." Ucap Reyhan.
"Pakailah." Brian turun dari motornya. Reyhan dengan cepat menaiki motor Brian dan ia langsung menstatar dan menjalankannya. Karena ia mau mencari Reyna yang salam paham kepadanya.
Ceklek
Reyhan masuk kedalam kamarnya namun ia tetap tidak menemukan Reyna didalam kamar. Namun ia melihat balkon terbuka, ia berjalan kearah balkon dan ia melihat Reyna berdiri menatap lurus kedepan.
"Maureen" Panggil Reyhan pelang namun Reyna tidak menjawab, ia terus menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan Reyhan.
"Maureen, apa yang kamu lihat tidak seperti.." Perkataan Reyhan terpotong karena Reyna mengangkat tangannya pertanda Reyhan diam.
__ADS_1
"Tapi Ren, aku harus menjelaskan agar kamu tidak salah paham kepadaku." Ucap Reyhan lagi mencoba menjelaskan. Kalau semua yang ia lihat tadi itu hanya salah paham.
"Keluar" Ucap Reyna datar.
"Ren, tolong biarkan aku jelaskan, setelah itu aku akan keluar."
Reyna menghela nafas panjang dan kemudian mengangguk.
"Ayo kita masuk kedalam, aku akan menjelaskan semua, siapa perempuan itu." Ucap Reyhan dan menarik lembut tangan Reyna untuk masuk kedalam.
Sekarang mereka sudah duduk di kasur king zisenya.
"Ren perempuan yang tadi memelukku adalah teman masa kecilku dan aku menganggap dia seperti adekku sendiri."
"Diam... " Teriak Reyna menutup telinganya lalu menatap tajam Reyhan.
"Lo tidak usah menjelaskan lagi, gue udah paham. Awalnya hanya persahabatan lama-lama lo akan menghianati gue dengan sahabat lo itu." Marah Reyna dan kembali berkata Lo pada Reyhan bukan lagi kata kamu.
"Ren, aku tidak akan menghianati kamu. Percayalah padaku." Ucap Reyhan menggenggam tangan Reyna agar ia percaya padanya."
__ADS_1
"Lihat saja nanti, Tapi ingat satu hal aku akan meninggalkanmu jika kamu menghianatiku." Ucap Reyna lalu membaringkan dirinya ke kasur karena badangnya sangat lelah begitupun dengan hatinya.