
Satu minggu sudah Reyna dirawat rumah sakit akhirnya ia diperbolehkan pulang.
"Rey, lo mau ku antar pulang." Ucap Dion yang menatao Reyna diam dari tadi.
"Antar gue ke mansion gue ajah. Gue malas pulang ke apartemen." Ucap Reyna tanpa menatap lawan bicaranya.
Dion hanya menghela nafas lalu ia berkata "Baiklah"
Dion merasa kalau Reyna mempunyai masalah pada suaminya. Namun ia tidak mau bertanya biar Reyna sendiri yang memberi tahunnya.
Disinilah Reyna berada di Mansion pribadinya Yang dia beli bulan lalu untuk ia tinggali bersama suaminya. tapi mungkin itu tak akan pernah terjadi karena ia merasa Reyhan lebih memilih sahabat kecilnya ketimbang dirinya.
"Hey" menepuk pundak Reyna karena ia melihat Reyna melamun entah apa yang ia pikirkan.
"Apaan si lo, ngagetin ajah." Ucap Arumi datar.
"Ya lo juga ngapain ngelamun. Emeng lo pikirin apa sih." Tanya Dion.
"Gue nggak mikirin apa-apa." Bohong Reyna.
__ADS_1
"Oh iya, jangan pernah lo beritahu siapapun dimana keberadaan gue." Ucap Reyna yang diangguki Dion.
"Oh iya Rey nggak apa-apa kan gue tinggal sendiri disini." Ucap Dion merasa tidak enak meninggalkan Reyna sendiri namun mau bagaimana lagi ia harus mengurus Cafe Reyna dan ia juga punya usaha sendiri yang ia harus pantau terus.
"Ndak apa-apa." Jawab Reyna.
"Dion" Panggil Reyna sebelum Dion sampai didepan pintu keluar.
Dion Berbalik menatap Reyna. "Ya ada apa Rey, apa lo butuh sesuatu."
"Gue cuma mau bilang Terima kasih." Ucap Reyna, dan Dion hanya menjawab dengan senyuman dan kembali membuka pintu untuk keluar dari Mansion mewah Reyna.
Sementara Reyna hanya memandang datar kepergian Dion.
Reyhan berada di danau tempat ia selalu melihat Reyna dari jauh. Ia hanya memandang air danau dengan tatapan datar tanpa ada senyuman dibibirnya.
"Ren gue rindu sama lo, sudah satu minggu kamu pergi tanpa ada kabar. kembalilah Ren." Ucap Reyhan dalam hati.
Drrrrttt.... Drrrrttt...
__ADS_1
Suara telpon Reyhan berbunyi dan Reyhan segera mengangkat handphonenya karena ia berharap Reyna yang menelponnya.
"Rey apa ada kabar dari Reyna." Ucap Pak Ardan di sebrang telpon.
"Belum ya, Reyhan belum. menemukannya. ini Reyhan masih sedang mencarinya. " Jawab Reyhan.
"Rey, datanglah kerumah Ayah, Ayah akan menceritakan sesuatu tentang Reyna." Ucap Pak Ardan.
"Baiklah ya, Reyhan akan kerumah Ayah." Jawab Reyhan lalu menutup telponnya karena ia akan pergi ke rumah Ayah mertuanya sedangkan orang tua Reyhan belum mengetahui tentang Reyna yang menghilang selama seminggu.
Disitulah sekarang Reyhan berada dirumah Pak Ardan. Ia duduk disofa singel sedangkan Pak Ardan dan Ibu lisa dusuk disofa panjang.
"Rey Ayah mau tanya dan Ayah harap kamu mau jawab jujur semua pertanyaan ayah." Ucap Pak Ardan tegas dan menatap Reyhan yang sulit diartikan sedangkan Reyhan hanya menunduk dan meremas tangannya karena gugup dan bingun, Ia bingung apa Ayah mertuanya mau bicarakan kepadanya.
"Iya Ayah, Rey akan menjawab dengan jujur apa yang Ayah tanyakan pada Reyhan." Jawab Reyhan.
"Apa kamu dan Reyna sedang marahan sehingga membuat Reyna pergi" Tanya Pak Ardan yang diangguki Reyhan.
"Iya Ayah Reyna marah sama Reyhan. kepergian Reyna itu kesalahan Reyhan karena Reyhan membentaknya." Jawab Reyhan menunduk.
__ADS_1
Sedangkan Pak Ardan hanya menghela nafas panjang. " Apa yang membuat kamu sampai membentak Reyna."
"Reyna mendorong Amelia Ayah. dan Amelia adalah teman kecil Reyhan. ketika aku melihat Amelia terjatuh tanpa pikir panjang aku langsung membentak Reyna." Ucap Reyhan menjelaskan semua tanpa ia tutupi dari Ayah mertuanya.