
Esoknya, benar saja Deana mengajukan Danielle untuk berada di samping putri PM yang bernama barat, Emily. Kini, ia sudah berada di kediaman khusus dari Pemerintahan bagi tamu - tamu dari delegasi luar negeri.
Danielle memakai pakaian serba hitam, dengan rambut pendeknya. Kini dia sedang berdiri tak jauh dari meja makan, disana ia melihat Justin sedang bermesraan dengan menyuapi Emily.
"Emily, sejak kemarin makanmu sedikit? Apa tidak selera dengan makanan di negara ini?" bujuk Stephen.
Emily menggeleng, "Aku hanya tidak selera."
"Apa sesakmu kambuh? Mau aku panggil Dokter?"
"Aku baik - baik saja jika istirahat. Biarkan aku tidur sebentar, nanti malam kita harus datang ke pertemuan."
"Baiklah, ayo," Stephen merangkul Emily penuh kelembutan seakan wanita itu terbuat dari kaca yang rentan pecah.
Danielle dan beberapa pengawal dari tim keamanan Dubai, mengikuti mereka berdua ke kamar. Dengan wajah tenang Danille melaksanakan tugasnya.
"Kalian tunggu disini! Biarkan aku berdua dengan Emily," ujar Stephen sebelum akhirnya menutup pintu kamar, matanya sekilas menatap pengawal keamanan dari pihak Austria.
Danielle membalas tatapan lelaki itu dengan tenang, entah Justin atau memang Stephen yang pasti sementara ini dia hanya akan menjadi pengawal pribadi tanpa membuat masalah.
Lama Stephen di dalam kamar Emily, lalu keluar dengan perlahan menutup pintu agar tidak berisik dan membangunkan tunangannya.
"Jaga Emily," ujar Stephen pada pengawal pribadi kekasihnya.
"Ya, Tuan Stephen."
Stephen menatap wanita militer yang mengenalkan namanya dengan Danielle, wanita yang bertemu dengannya di bandara tetapi dengan penampilan yang berbeda. Tidak ada lagi jejak - jejak feminim pada saat wanita itu di bandara, sekarang wanita itu terkesan tomboi dengan rambut pendeknya.
"Kamu tadi bilang, namamu Danielle?"
"Ya, Tuan."
"Ikutlah bersamaku, aku ingin membeli sesuatu untuk tunanganku. Kamu pasti tahu jalan di setiap kota ini."
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Danielle datar.
"Kamu bisa mengemudi?"
"Tentu, Tuan."
"Ini kuncinya, ayo pergi."
Danielle mengangguk, mengikuti langkah Stephen.
Danielle duduk di kursi kemudi, Stephen duduk di kursi belakang. Satu mobil keamanan lainnya berada di belakang mobil mereka.
"Jalan."
Danielle melajukan mobilnya, sesekali melirik wajah Stephen dari kaca spion depan. Wajah yang sama dengan Justin, hanya berbeda dalam style rambut dan berpakaian. Jika Justin tidak pernah merapikan rambutnya dibiarkan begitu saja, pakaian Justin pun trendy lebih ke gaul tapi Stephen berambut rapi dan berpakaian jas rapi dengan wajah dingin. Sedangkan wajah Justin tidak pernah terlihat serius apalagi di dekatnya Justin selalu cengengesan. Perbedaan yang sangat menonjol, apa lelaki yang sedang bersamanya memang Stephen bukan Justin?
Danielle menggelengkan kepalanya, sedikit frustasi.
"Maaf, Tuan. Saya membuat Anda tidak nyaman."
"Tentu saja kamu membuatku tidak nyaman, apa menurutmu kamu sopan bertindak seperti ini?"
"Tidak, Tuan. Sekali lagi maafkan saya."
"Hm, Aku maafkan kali ini. Tetapi jika di depan tunanganku, jangan sekali - kali kamu bersikap seperti ini. Emily sangat sensitif, jika dia cemburu atau marah aku tidak akan memaafkanmu."
Danielle mengetatkan genggaman tangannya pada kemudi mobil, ulu hatinya terasa nyeri. Dulu, Justin tidak pernah bersuara dingin seperti sekarang.
"Anda ingin kemana?"
"Cari restoran lebih dulu, Emily menyukai western food. Bawa aku kesana, kamu pasti tau tempat - tempat seperti itu."
"Baik."
__ADS_1
Tak lama Danielle memarkirkan mobil, satu mobil lainnya ikut berhenti.
"Silahkan masuk, Tuan. Restoran ini sangat terkenal dengan masakan western," ujar Danielle.
"Kamu masuk lebih dulu."
Danielle mengangguk, dia berjalan masuk mencari manajer restoran berbicara sebentar.
"Silahkan duduk, Tuan. Manajer akan membawa makanan tester. Dan ini adalah menu - menunya, silahkan dilihat."
Stephen sibuk melihat menu - menu makanan, saat tester datang ia mencicipi setiap makanan dan sesekali mengangguk.
"Tugasmu bagus, makanan disini memang enak. Reservasi untuk besok malam, karena malam ini aku ada pertemuan."
"Baik, Tuan. Tetapi..." ujar Danielle.
"Tapi?" Stephen mengangkat satu alisnya.
"Saya adalah pengawal pribadi Anda, bahkan saya adalah militer satuan khusus. Kenapa Anda memperlakukan saya seperti asisten pribadi?"
Wajah Stephen seketika memerah, merasa malu dengan perkataan wanita militer di depannya. Perkataan wanita itu benar, kenapa dia bersikap bodoh?
"Apa aku telah menyinggungmu, Danielle? Apa karena masalah di bandara? Saat itu kamu sempat memanggilku Justin, kamu seperti menahan sesuatu padaku dan nada suaramu seperti--"
"Itu hanya perasaan Anda saja, Tuan. Tetapi, apakah saya salah mengatakan kalau saya bukan pelayan pribadi Anda? Saya hanya ingin Anda sedikit saja menghormati saya," ujar Danielle berani.
"Ekhmm, sudahlah. Abdul!"
"Ya, Tuan Step?" sang asisten pribadi maju.
"Pesan restoran ini untuk malam besok, kamu sudah sering melakukannya. Siapkan makanan terlezat untuk kekasih-ku," Stephen menekan kata kekasih di akhir kalimat untuk memperjelas dia sudah mempunyai seorang kekasih. Entah kenapa betapa konyol pikirannya.
Danielle menaikkan sebelah alisnya, merasa ada sikap kekanakan dari sifat tegas dan dingin yang diperlihatkan Stephen. Seperti sedang berusaha menegaskan padanya jika lelaki itu sudah mempunyai kekasih.
__ADS_1