Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer

Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer
Tidak Ada Yang Lebih Penting Darimu.


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Justin langsung menekan tubuh Danielle ke dinding. "Kamu bilang nggak akan cemburu, sayang. Tapi lihatlah tatapan tajam menusuk mu padaku, kau menakutiku."


"Huh!" Danielle memalingkan wajahnya ke samping tak ingin melihat wajah Justin, dia juga seorang wanita kenapa harus menahan rasa cemburunya?!


Justin menarik dagu Danielle agar wanita itu menoleh padanya lagi. "Sayang, aku harus bagaimana? Akan aku turuti keinginanmu. Kalau kamu ingin aku berterus terang sekarang pada Emily, aku akan melakukannya. Tidak ada yang lebih penting darimu."


Baru lah wajah Danielle perlahan berubah, ia akhirnya menghela nafasnya. "Aku yang kekanakan, aku tau kamu hanya berpura - pura tapi disini sangat sakit," Danielle menunjuk hatinya.


"Aku juga sakit kalau melihatmu kesal seperti itu, jadi aku harus gimana sekarang?"


"Aku akan sekuat tenaga bertahan, kamu lakukan saja yang menurutmu baik untuk kalian berdua. Jangan menambah musuh, kamu juga masih harus memberitahu PM mesir, Ayah Stephen. Daddy-ku akan pergi bersamamu nanti ke Mesir, membantumu memulihkan kehidupanmu."


Justin mengangguk. "Kita harus kembali, atau Emily akan curiga jika kita lebih lama disini."


"Kau benar," Danielle mengiyakan.


"Cium aku dulu," pinta Justin.


Danielle tersenyum, menarik kaos Justin mencium dengan dalam namun singkat. "Sudah, ayo keluar."


Justin keluar lebih dulu diikuti Danielle.


Sedangkan Emily sedang marah - marah di kamarnya, ia sedang berganti pakaian yang basah.


"Aku tau wanita itu sengaja menyenggol jus-nya! Ashfa, aku harus gimana? Data Danielle bahkan susah dibobol," Emily merasa frustasi.


"Apa sebaiknya Anda bertanya langsung pada Tuan Stephen, apa ada sesuatu tentang nya dan nona Danielle yang dirahasiakan dari Anda."

__ADS_1


"Kau benar, lebih baik aku bertanya langsung. Aku tidak sabar hanya menunggu dan curiga, aku akan menemuinya," Emily baru saja selesai bicara, Stephen masuk.


"Stepp," gagap Emily.


Apa Stephen mendengar ucapanku barusan?


"Aku mendengar pembicaraan mu dengan Afsha. Kalau kamu sudah mempunyai kecurigaan padaku, sebaiknya kita bicara. Tadinya aku masih ingin memberimu waktu, tapi sepertinya itu akan sia - sia kalau kamu sudah curiga padaku," ujar Justin.


"Tidak! Stephen, aku tidak curiga padamu. Kamu salah, aku hanya--"


"Cukup Emily, jangan mencari alasan jika akhirnya semua yang aku katanan benar. Mari bicara, Afsha tinggalkan kami berdua."


Afsha menatap sebentar wajah Nona-nya lalu mengangguk dan berjalan keluar. Dia menutup pintu kamar agar pembicaraan kedua orang di dalam teredam oleh pintu tertutup.


"Kemarilah, kamu harus bersantai saat mendengar penjelasanku. Kamu ingin tau 'kan semalam aku kemana? Aku akan mulai dari sana."


"Semalam aku pulang," mulai Justin.


"Pulang?" perasaan Emily tiba - tiba gelisah, firasatnya buruk.


"Ya, pulang. Ke rumah kekasih asliku, Danielle. Namaku asliku adalah Justin, aku dan Danielle bukan hanya sepasang kekasih tetapi kami sudah menjadi orang tua dari seorang anak berusia empat tahun. Dulu saat aku menghilang, Danielle sedang mengandung anakku."


"Stepp, jadi... ja-jadi kamu sudah mendapatkan ingatanmu kembali? Kamu dan Danielle apa? Sepasang kekasih, kalian punya anak?!" tubuh Emily bergetar tak bisa menerima kenyataannya.


"Emily! Jadi selama ini kamu tau aku bukan Stephen?"


Emily menggeleng menyangkal.

__ADS_1


"Kamu keterlaluan, sudahlah. Lagipula aku sangat mencintai Danielle dengan segenap nyawaku. Jadi Emily, mari saling melepaskan."


"Stephen! Tidak! Kamu adalah Stephen tunanganku! Arghttt! Tidak!" Emily histeris tidak ingin menerima, dia berlari keluar kamar dengan cepat membuka pintu. Ia merasa dadanya sesak.


Diluar para Agen keamanan bersiaga mendengar teriakan Emily, apalagi saat majikan mereka mengangis hebat.


"Bunuh wanita militer itu! Bunuh Danielle! Tembak pengkhianat itu!" teriak Emily emosi.


Agen dari negara timur tengah mengacungkan senjata ke arah para Agen Austria.


Danielle dan seluruh tim yang ada di ruangan ikut mengacungkan senjata mereka ke arah Agen timur tengah.


Saat Justin menyusul Emily keluar dari kamar, situasi di ruangan sudah bersitegang. Ia juga mendengar teriakan Emily yang memerintahkan membunuh Danielle, melihat para Agen di ruangan itu saling menodongkan senjata akhirnya Justin menarik senjatanya lalu membidik kepalanya sendiri.


"Turunkan senjata kalian semua, jangan sakiti Danielle. Dia adalah kekasihku," ucapan Justin seketika membuat para Agen terperangah. Kini mata semua orang tertuju pada Justin yang mengarahkan pistol ke kepalanya.


"Stephen!" teriak Emily marah.


"Perintahkan mereka untuk menurunkan senjata, Emily. Atau aku akan menembak diriku sendiri, menyusul Stephen. Itu maumu, 'kan?"


Justin sedang bertaruh, dia tau perasaan Emily padanya tulus. Ia sedang bertaruh, Emily sebenarnya tidak ingin melihatnya mati dan akhirnya melepaskan hubungan palsu mereka berdua.


"Tidak! Justin!"


Tap ! Tap ! Tap !


DORRRR!

__ADS_1


__ADS_2