Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer

Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer
Sebuah Pelukan Hangat.


__ADS_3

Malam harinya, kegiatan pertemuan yang pertama antara para delegasi dari berbagai negara yang akan membahas tentang perserikatan diadakan di ruangan ballroom hotel berbintang.


Danielle bersama Deana dan satu rekan dari Dubai seorang lelaki berperawakan tinggi besar berwajah timur tengah, sangat tampan hanya untuk menjadi seorang pengawal. Mereka bertiga khusus mengawal Justin dan Emily ke dalam ruangan, karena setiap delegasi membawa pengawal mereka masing - masing.


Sebelum acara dimulai, Danielle memeriksa meja kursi mendeteksi jika ada alat yang membahayakan terpasang. Bahkan saat minuman dan makanan datang, dia yang akan mencicipi terlebih dahulu.


"Aman," ujarnya.


Justin ingin sekali menarik gelas minum dan makanan yang di-test Danielle, jika memang akan ada racun Danielle akan lebih dulu kena racun itu. Tapi ia tau itu adalah tugas Danielle, dia juga tak bisa berbuat apapun.


"Sayang, ada apa? Kenapa sejak bangun dari pingsan mu, kamu seperti sedang memikirkan sesuatu," Emily mengelus lengan Justin.


Justin tersenyum, "Aku baik - baik saja, jaga kesehatanmu saja, Emily."


"Hmm," Emily mengangguk, dia lalu berpaling pada Danielle juga pada Deana dan si pengawal bernama Ammar, "Ammar... Kalian berdua juga, pergilah ke pinggir bersama para keamanan yang lain," Emily menatap tak suka pada Danielle.


Danielle mengangguk, dia berjalan seraya menelisik sekeliling mendeteksi bahaya dari sekitar diikuti Deana dan Ammar di belakang.


Sekitar 40 menit pidato dan pengenalan para delegasi, Justin mengatakan akan ke toilet pada Emily.


"Pergilah," ujar Emily.


Justin berjalan ke arah Danielle dan Ammar, "Aku akan ke toilet."


"Saya akan ikut Anda, Tuan," ujar Ammar.


Justin menatap Danielle, ingin wanita itu yang mengantarnya tapi Danielle bahkan tak menatapnya. Ia membiarkannya, mungkin Danielle masih marah soal siang tadi karena dia memperlakukan Danille dengan buruk.


"Tunggu aku disini," Justin masuk ke dalam toilet.

__ADS_1


Kretek.


Saat baru saja berdiri untuk buang air kecil, Justin mendengar sesuatu di belakangnya seketika ia waspada. Tapi sebelum ia bertindak, suara benturan keras terdengar.


Bruakkk.


Seorang lelaki berkulit hitam dengan berseragam staff hotel memegang sebuah suntikan di tangannya sedang merintih kesakitan di lantai.


"Tuan, kamu baik - baik saja? Tidak terluka?" suara Danielle sarat akan kekhawatiran.


Justin masih terpaku, dia melihat di belakang Danielle, Ammar sudah tak sadarkan diri dengan suntikan menancap di leher pengawal itu.


***


Lima menit lalu, Danielle tidak berani menatap wajah Stephen yang mengatakan akan ke toilet. Kini dia tak berani lagi menatap wajah Justin di tubuh orang lain, tak ingin menyakiti perasaan Emily karena dia juga seorang perempuan. Tetapi... saat Stephen berjalan menjauh dia tak bisa menahan tatapan sembunyi - sembunyinya untuk melihat lelaki itu, tepat saat itu lah ia melihat seorang lelaki berpakaian staff hotel mengikuti Stephen dan Ammar dengan gerak - gerik yang mencurigakan.


"Deana, jaga Nona Emily. Aku harus memeriksa sesuatu," ujarnya.


"Kevin, kau dengar aku?" ujar Danielle memijit ear phone seraya berjalan ke arah toilet pria.


"Dengar, ada apa?" jawab Kevin dalam sambungan.


"Kau lihat lelaki hitam yang memakai seragam staff hotel yang mengikuti Stephen, perbesar gambar. Aku melihat sesuatu di tangannya tadi!"


"Oke, tunggu." Kevin memperbesar gambar rekaman dari Cctv yang menangkap sosok si pria hitam dengan pakaian staff hotel.


"Sial! Kejar dia! Dia membawa sebuah suntikan di tangannya!"


"Sial!" Danielle berlari cepat, tapi sayang dia terlambat. Ammar si pengawal sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan suntikan di lehernya.

__ADS_1


Danielle menerjang si pria hitam saat tangan lelaki itu ingin menusukkan jarum ke leher Stephen.


Bruakk.


Tendangannya berhasil melumpuhkan si pria hitam.


"Tuan, kamu baik - baik saja? Tidak terluka?" suara Danielle sarat akan kekhawatiran.


"Ughht..." ringisan terdengar dari arah bawah.


Danielle maju menerjang pria hitam itu, menarik kerah pria itu. "Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu?!"


"Arghtt!"


"Jawab baji ngan!! "


Buggh!


Danielle menonjok wajah bagian kiri si pria hitam, si pria hitam hanya tergolek lemah tanpa bisa menjawab. Tiba - tiba mulut pria hitam itu mengeluarkan busa, sepertinya si pria hitam itu sudah meminum racun tersembunyi dalam mulutnya dan akhirnya tidak bernafas. Mati.


Danielle memeriksa nafas di hidung si pria hitam yang akan menyerang Stephen, tidak ada lagi nafas kehidupan disana.


"Dia mati," lirihnya.


Tiba - tiba sebuah pelukan hangat dari belakang mengagetkannya, tubuh Danielle seketika kaku.


"Danielle..."


Sebuah suara yang sangat lembut yang mampu membangkitkan gelenyar - gelenyar kebahagian dalam tubuh Danielle berbisik di telinganya.

__ADS_1


Justin!


__ADS_2