
Justin sedang bergelantung menaiki sebuah helikopter, dia menaburkan bunga - bunga mawar dari atas sana. Sungguh permintaan gila dari istrinya yang sedang hamil anak kedua.
"Justin, kalau sudah selesai meloncatlah. Kau hanya tinggal menarik tuas parasut sebelum sampai ke tanah, tapi sebelum itu ber-manuver lah dulu," ujar Danielle dari ear phone nya.
"Kau memang gila! Apa anakku yang kedua akan seperti kakaknya, Grissham?!"
"Mungkin! cepatlah, aku ingin mencium mu!"
Seketika Justin bersemangat di iming - imingi ciuman, biasanya setelah ciuman libido Danielle akan overload dan mereka akan berakhir di atas ranjang.
"Aku datang!!!" Justin turun ke bawah lalu ber-manuver seperti yang di inginkan istrinya, setelah permukaan darat terlihat baru dia menarik tuas parasut dan mendarat dengan sempurna. Dia melepas belitan parasut dari tubuhnya berlari ke arah Danielle, memangku wanita yang sedang mengandung usia 3 bulan itu menciumnya dengan bergairah.
"Hati-hati, putra keduamu nanti tertekan tubuhmu," tegur Danielle.
"Kamu benar-benar ingin seorang putra lagi, aku menginginkan putri. Putri kita akan kuat sepertimu dan akan berbeda dari putra kita," Justin lebih memilih mempunyai seorang putri daripada anak lelaki yang akan mirip seperti Grissham yang selalu pintar mengakalinya.
__ADS_1
"Kamu hanya tak suka karena selalu dikalahkan oleh putramu sendiri, Justin. Kamu tidak suka diremehkan putramu, harga dirimu jatuh. Iya, 'kan?"
"Huh!" ucapan Danielle memang benar.
6 bulan kemudian...
Lahirlah seorang bayi mungil laki - laki, putra kedua Danielle dan Justin. Perbedaan usia 5 tahun ternyata sangat berpengaruh, Grissham yang baru menginjak usia 5 tahun merasa jika dirinya mempunyai saingan dan tak menginginkan adik laki - lakinya.
Pernah suatu ketika Danielle sedang di kamar mandi dan Justin bekerja, anak kedua mereka yang diberi nama Danny ditinggalkan sendiri di ranjang bayi. Sewaktu Danielle keluar dari kamar mandi, anak keduanya itu hilang.
"Danny! Danny!"
Danielle berlari menuruni tangga dari kamarnya menuju kamar putra pertama nya di lantai bawah, sejak mereka menikah Danielle dan Justin hidup terpisah dari kedua orang tua mereka. Di rumah hanya ada mereka ber empat dan satu assisten rumah tangga.
"Grissham! Kamu apakan adikmu! Dimana Danny?"
__ADS_1
Seperti biasa Grissham hanya anteng dengan mainan nya, bahkan tak melirik pada Ibunya yang bicara dengan emosi padanya. Kini, dia sudah terbiasa. Selalu salah dimata Ibunya, kasih sayang yang dulu ia dapatkan dari sang Mommy sebelum kedatangan Daddy dan adiknya sudah sejak lama hilang.
"Grissham!"
"Danielle! Ada apa?" Justin berlari masuk sembari menggendong Danny di pelukannya, ia sedang di teras rumah bersantai dengan anaknya menatap matahari sore.
"Ya Tuhan! Kau sudah pulang! Kenapa membawa Danny tak bilang padaku! Aku--" Danielle berteriak histeris.
Matanya lalu terjatuh pada Grissham, seketika rasa penyesalan menyerbunya. "Sayang, Mommy hanya--"
Grissham mengangkat kepala mungilnya, tatapan mata anak kecil itu sungguh menohok. Ada guratan benci pada Danielle, Ibunya.
Tubuh Danielle terhuyung mundur, ia benar - benar merasa bersalah. "Maafkan, Mommy..."
Justin bisa menduga apa yang terjadi barusan, sepertinya kecemasan Danielle pada Grissham sudah terlalu overthinking. Meskipun tingkah Grissham semakin hari semakin dingin pada mereka, tapi ia percaya Grissham hanya butuh pengertian nya dan juga Danielle.
__ADS_1
"Danielle, biarkan aku bicara dengan putra kita. Gendong Danny," Justin menyerahkan Danny dari pelukannya pada istrinya.
Justin mendekati putranya, namun Grissham membuang muka tak ingin bicara dengan sang Daddy.