
Mobil keluar dari area parkiran, Danielle bersikap dingin pada Stephen. Sejak di dalam mobil, dia hanya diam tanpa memperhatikan Stephen lagi.
Stephen menatap tak enak pada Danielle, dia memang keterlaluan memerintah seperti pada seorang asisten.
"Anda ingin kemana sekarang? Tadi Anda mengatakan ingin membeli sesuatu untuk kekas-sih Anda," Danielle sengaja menekan kata kekasih seperti pria itu tadi.
"Ekhm."
Sepertinya wanita ini memang kesal padaku. Batin Stephen.
"Ke toko perhiasan."
"Baik," jawab Danielle dingin.
Danielle turun dari mobil membiarkan Stephen membuka pintu mobilnya sendiri, dia tak ingin lagi melayani lelaki itu seperti seorang pelayan.
Pria bernama Abdul, turun dari mobil satunya berlari membuka pintu untuk Tuan-nya.
Stephen menurunkan sebelah kaki tingginya, menarik seluruh tubuhnya keluar, memang tubuh pria itu terlihat sangat atletis. Saat berdiri ia mengancingkan jas mewahnya, merapikan rambutnya.
"Cih!" Danielle kini sangat pesimis, sepertinya benar lelaki narsis yang bersamanya bukan lah Justin.
__ADS_1
Terlalu narsis dan sok parlente! Cibir Danielle.
Stephen kembali mengerutkan keningnya, kenapa dia merasa Danielle sedang mengolok - ngoloknya. "Ekhm, dimana toko perhiasannya?"
"Ikuti saya," Dengan kaki jenjangnya yang dibalut celana dan tubuh bagian atasnya memakai kaos hitam yang menempel memperlihatkan lekuk - lekuk tubuh Danielle, juga senjata di pinggang Danielle yang menyempurnakan keberanian wanita itu, membuat Stephen yang mengikuti di belakang meneguk saliva-nya. Kenapa tiba - tiba dia kehausan saat melihat tubuh proporsional sang wanita militer?
Langkah Danielle tiba - tiba terhenti.
"Aww!" Jidat Stephen terantuk punggung keras Danielle.
"Kenapa kamu berhenti tiba - tiba?!" kesal Stephen.
Danielle berbalik, menghela nafasnya sabar. "Kita sudah sampai, jadi aku berhenti. Tetapi, kenapa Anda tidak memperhatikan jalan dan malah menabrak tubuhku? Apa Anda sedang berpikiran me sum karena memperhatikan tubuhku dari belakang?"
"Sudahlah, ini tokonya. Ayo, masuk."
Setelah masuk Stephen langsung memilih - milih sebuah kalung untuk diberikan pada Emily, tapi saat melihat gelang seketika dia mengambilnya.
Degh!
Jantung Danielle bergemuruh hebat, dia mengigat momen saat dulu Justin memilih gelang untuk mereka berdua. Seketika ia mengelus gelang dengan kunci di pergelangan tangannya yang masih melingkar disana. Matanya melihat pergelangan Stephen, mungkin saja disana ada gelang pasangan mereka tapi pergelangan Stephen tertutup lengan jas jadi tidak jelas ada atau tidaknya gelang itu.
__ADS_1
"Apa menurutmu Emily akan menyukainya?" tanya basa - basi Stephen pada Danielle.
"Entahlah, aku tidak tau selera kekasih Anda."
"Dia suka yang cantik, apa gelang ini cantik?" tanya Stephen lagi.
"Bukankah gelang pasangan lebih bagus, misalnya gelang sepertiku. Aku memakai gelang yang kekasihku berikan, aku memakai yang ada kuncinya dan kekasihku memakai yang ada gemboknya. Kekasihku bilang, satu gembok hanya bisa dimasuki satu kunci dan tak bisa dimasuki kunci lain. Seperti hati seseorang, jika saling mencintai hanya bisa dibuka oleh satu orang.
"Arghtt! Kepalaku!" Stephen memegang kepalanya yang sakit mendengar perkataan Danielle. Tiba - tiba gambaran - gambaran tidak jelas menyerbunya.
Tubuh Stephen goyang, Danielle dengan sigap menangkap tubuh lelaki itu.
"Anda tidak apa - apa?"
"Hei! Dewa Cupid! Kenapa kau menembakan panah cinta padaku! Lihatlah aku jatuh cinta pada wanita angkuh ini!"
"Cih ! Aku tidak memintamu mencintaiku Pria gila!"
"Arghttt! Apa ini? Kenapa aku mendengar suara - suara ini?"
Danielle menatap cemas melihat Stephen menutup telinganya, wajahnya seperti sedang kesakitan.
__ADS_1
"Kalian! Bantu aku bawa Tuan kalian! Dia kesakitan, cepat!"
Akhirnya tubuh lemah Stephen dipapah masuk kembali ke dalam mobil, pria itu terus mengerang seperti menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.