Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer

Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer
Misi Empat Tahun Lalu, Done - END


__ADS_3

Berkat kecanggihan teknologi yang dikembangkan Robbin serta keahlian pria itu, pencarian Agnes tak menunggu lama.


Robbin mengatakan alamat tempat Leon berada, Agnes menyusup dengan keahlian nya ke kediaman Leon.


Setelah Agnes mendapatkan apa yang di inginkan, Eric menarik Harris untuk kembali ke markas.


"Kita tidak akan menunggu, tim Deana sedang bertugas dalam misi melindungi putri PM Dubai. Kita yang akan menyerang, persiapkan semuanya."


"Yes!"


Malam harinya mereka bergerak cepat, sebelum Leon kabur lagi. Dengan persiapan matang, mereka berempat datang dengan penyamaran ke kediaman Leon karena ini adalah tindakan diluar militer mereka harus sembunyi - sembunyi.


Seperti biasa dengan masker yang menutupi wajah dan topi hitam yang menutupi kepala. Eric merengsek masuk ke dalam rumah Leon tanpa terdengar, langkahnya seringan angin. Dia bukan pria militer abal - abal, dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti sekarang.


Eric menusuk matanya dengan dua jari, memberi kode pada Harris agar memperhatikan sekeliling.


Harris mengangguk, dia maju merengsek lebih dulu. Diikuti Agnes dan Eric, sedangkan Robbin seperti biasanya memeriksa dari rekaman Cctv yang sudah ia sabo tase.


"Musuh 3 di kiri, di lorong kanan ada 2." Ujar Robbin dalam sambungan.


Eric tak menunggu, dia meng-kode agar Harris menembak lebih dulu. "Kiri Hajar!"


Lalu Eric menoleh pada Agnes, "Kanan hajar!"


Mereka berdua mengangguk, rentetan peluru dari Harris dan Agnes menerjang para penjahat. Tanpa perlawan yang berarti para penjahat itu tumbang.


Para anak buah Leon yang lainnya berlarian menuju arah tembakan terdengar.


Dorrrr.


Dorrr.


Dorrr.

__ADS_1


Suara - suara tembakan menggema di dalam rumah itu, Leon bahkan berlari keluar untuk melarikan diri.


Robbin melihat dari teropong jauhnya, dia segera menargetkan Leon dengan senjata jarak jauhnya dan menembak kedua kaki penjahat itu.


"Arghtttt!" Leon merintih kesakitan, dia tumbang ke tanah tak bisa berkutik.


Aksi tembak - menembak di dalam rumah selesai, Eric segera meringkus Leon beserta anak buahnya yang masih selamat melemparkan mereka ke dalam sel khusus militer.


***


Di kamarnya Justin sedang bersitegang dengan putranya, dua - duanya berdebat siapa yang lebih berhak tidur bersama Danielle dan tidak ada yang mau mengalah.


"Mommy sangat sangat mencintaiku! Lebih dari mencintai Daddy! Aku yang akan tidur menemani Mommy!" teriak Grissham.


"Tapi... Daddy yang lebih dulu bertemu dengan Mommy-mu! Bahkan sejak kamu belum ada di perut Mommy-mu!" balas Justin tak kalah sengitnya.


Danielle hanya anteng menonton film kesukaannya, membiarkan dua lelaki yang katanya mencintainya saling beradu.


"Tapi Daddy yang membuat Mommy menangis karena meninggalkan Mommy! Aku yang selama empat tahun ini berada di samping Mommy!"


"Daddy, tapi Daddy..." mulut Justin terbungkam.


Senyum kemenangan terpoles di bibir Grissham, dia menjulurkan lidahnya lalu berbaring di samping ibunya langsung memeluk tubuh Danielle. "Pergilah, Daddy! Kamu mengganggu kami!"


Danielle benar - benar menahan tawanya yang akan pecah, sekuat tenaga tak ingin menertawakan Justin yang kalah oleh putra mereka.


"Danielle...." Justin merengek bersuara seperti anak kecil.


"Justin, putramu yang menang. Kamu harus menerima dengan jiwa ksatria. Pergilah, cari cara agar bisa menang dari putramu," usir Danielle masih sambil menahan tawanya.


"Grissham, awas saja! Huh!" dengan tak rela dan wajah yang memberengut kesal Justin akhirnya keluar dari kamar.


"Aku hebat bukan, Mom?" Grissham membanggakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"No comment."


Namun, seketika tawa Danielle pecah. Dia terbahak - bahak tak kuat lagi menahan tawa yang sejak tadi ditahan.


***


Di bawah tekanan dan siksaan militer, Leon akhirnya membuka mulutnya dan memberitahukan tempat Bos besar penjualan gadis - gadis bermata cyan.


Eric sebagai Jenderal langsung menghubungi pihak negara lain tempat si Bos besar berada, kurang dari 24 jam Bos besar berhasil dibekuk.


Deana dipanggil ke ruangan Eric di camp militer.


"Siang, Sir! Hormat!" Deana memberi hormat.


"Istirahat."


"Yes, Sir!" Deana merilekskan tubuhnya.


"Bos besar dari misi empat tahun lalu telah berhasil tertangkap karena kami sudah menyerbu langsung Leon."


Lalu Eric menceritakan semua kejadian kemarin dan malam tadi.


"Terima kasih, Sir. Aku juga meminta maaf, karena gagal empat tahun lalu." Ujar Deana.


"Setiap misi akan selalu ada kegagalan, itu akan menjadi pengalaman untuk kalian. Kita juga manusia biasa, dan aku tidak menuntut kalian semua harus sempurna. Kini, misi empat tahun lalu. Done."


"Yes, Sir!"


"Pergilah."


Seminggu kemudian setelah pertemuan para delegasi selesai, Eric mengantar Justin ke negara Mesir untuk memperjelas dan menyelesaikan masalah. Dari pihak PM Mesir meminta maaf karena menyamarkan Justin sebagai Stehpen karena belum bisa mengikhlaskan kepergian putranya.


Sedangkan Emily masih betah di rumah Danielle, dia kehilangan Justin dan juga Stephen tapi mendapatkan keluarga baru. Dia juga sangat akrab dengan Grissham, bahkan anak itu selalu menempel padanya setiap waktu. Justin yang paling bahagia melihat putranya lengket dengan Emily, ia bisa dengan puas bermesraan dengan Danielle tanpa ada penghalang.

__ADS_1


3 bulan kemudian, pernikahan Justin dan Danielle diadakan di Ballroom hotel mewah. Resepsi diadakan dengan besar - besaran, bahkan PM mesir dan PM Dubai khusus datang dari negara mereka membawakan hadiah - hadiah yang luar biasa.


_______________END________________


__ADS_2