Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer

Kill Me Dengan Cintamu Gadis Militer
Kamu Tidak Akan Cemburu dan Marah Padaku.


__ADS_3

Justin termagu mendengar perkataan Putranya, dia melirik Danielle meminta pertolongan.


Danielle sudah terbiasa dengan kelakuan putranya, dia menoleh menenangkan Justin. "Putramu hanya terlalu pintar, kamu harus lebih mendominasi dari Grissham kalau tidak kamu bakalan kalah telak. Klek! Mati!" bisik Danielle, entah ia ingin menenangkan Justin atau malah menakuti lelaki itu.


"Apa--" Justin bahkan merasa lidahnya kelu tak ada suara yang keluar dari bibirnya.


"Grissham Ramberd! Kalau kau tidak keluar, Mommy akan laporkan pada kakekmu Vard kalau kau menganiaya Daddy-mu. Kau juga tau Daddy-mu ini kesayangan kakek dan nenekmu Krystal! Outttt!" ancam Danielle, jari telunjuknya menunjuk keluar.


"Apa Mommy anak kecil? Kenapa mengadu pada Kakek dan Nenek?! Huh!" Grissham mengangkat tinggi dagunya, tapi bocah kecil itu keluar juga.


Justin masih melongo, sepertinya putranya lebih luar biasa aktif darinya saat kecil dulu.


"Justin, hei! Enggak papa, putramu hanya sedikit... Spesial," Danielle mengusap lengan kekasihnya.


"Ya, super spesial."


"Ayo kita bersihkan tubuh. Semalam aku menelepon Mommy Krystal dan Daddy Vard, pasti mereka sudah sampai."


Justin mengangguk.


Setelahnya Justin dipeluk terus menerus oleh Krystal, Ibunya itu terus saja menangis bahagia. Seluruh keluarga berkumpul, mereka akhirnya bisa tersenyum lepas setelah bersedih selama 4 tahun.


Drrtttt Drttt.

__ADS_1


Ponsel Danielle bergetar, panggilan dari Deana. Danielle bangun dari sofa di ruang keluarga, berjalan ke arah jendela.


"Ada apa? Bagaimana Emily?"


"Kami sudah memberikan alasan, tapi sepertinya wanita itu meragukan alasan dari kami. Danielle, semalam ada seseorang yang membobol data-mu tapi karena kau adalah Agen khusus sistem keamanan sudah pasti menolak pembobol itu. Data-mu aman tentu saja, tapi aku duga itu adalah suruhan Emily. Kau tau 'kan, sejak pingsan nya Justin wanita dari timur tengah itu selalu menatapmu tak suka. Sebaiknya kau dan Justin kembali ke kediaman khusus delegasi, aku dan Lucas masih berjaga disini."


"Oke, aku akan segera datang. Justin sudah bertemu orang tuanya, aku sudah merasa lega sekarang."


"Baik, aku tutup," ujar Deana.


Tuuttt.


"Itu Deana, ada apa?" Justin sudah mendengar ucapan Danielle, tapi tetap bertanya. Ia memeluk Danielle dari belakang, mengecup lembut belakang kepala wanitanya.


"Sejak kita pergi semalam, ada seseorang yang berusaha membuka sistem data untuk mencari dataku. Tetapi dataku aman, sistem keamanan militer kita sudah sangat canggih apalagi Paman Robbin yang membuat sistem baru itu."


Danielle melepaskan belitan tangan Justin di tubuhnya lalu membalikkan tubuhnya, menatap mata Justin dengan dalam. "Justin, kita saling mencintai. Bahkan kamu yang hilang, kini kembali padaku dengan selamat dan sehat. Apa menurutmu hanya karena seorang wanita, kita bisa terpisahkan?"


"Danielle, apa kamu sungguh - sungguh? Aku dan Emily, sangat dekat lebih dari dugaanmu. Aku sudah terbiasa bersikap seperti Stephen yang selalu merawatnya saat Emily sakit, selalu membahagiakannya, selalu bersikap lembut padanya. Kamu tidak akan cemburu dan marah padaku?" tanya Justin.


"Aku yakin, aku bukan wanita yang berpikiran dangkal. Perasaanku seluas langit, aku nggak akan mempermasalahkan semua itu."


"Benar?" tanya kembali Justin.

__ADS_1


"Tentu, aku seorang wanita militer. Ucapanku bisa di validasi-kan."


"Baiklah, ayo pergi."


"Emm."


Namun, kata - kata tetaplah kata - kata. Saat Emily meminta disuapi Justin dan lelaki itu menurutinya dengan sikap biasanya yang lemah lembut mengurus Emily, kuku Danielle bahkan gatal ingin mencakar wajah bahagia Emily lalu menarik Justin dan mengurungnya di suatu tempat menjauhkan Justin dari Emily.


Justin melihat sorot tajam Danielle padanya, ia menelan ludahnya merasa serba salah. Sudah dengan jelas mereka bicara apa Danielle akan cemburu dan marah, dengan jelas wanitanya itu mengatakan tidak. Namun kini, ia bahkan bergidik merasakan amarah tak terucapkan dari tatapan Danielle. "Sial!"


Justin tak sengaja mengumpat di depan Emily yang sedang mengunyah, wanita itu tersedak.


"Uhukkk... Uhukk..."


Justin tersadar, dia menepuk - nepuk lembut punggung Emily dan sekali lagi bulu halus di tubuhnya seketika berdiri merasakan tatapan menusuk Danielle padanya.


"Ada apa Stephen?" heran Emily mendengar umpatan lelaki itu.


"Tidak ada, makanlah lagi aku harus ke kamar sebentar. Kamu nggak papa aku tinggalkan sebentar?"


"Tentu, pergilah. Kamu berjanji akan menceritakan tentang kamu semalam yang mendadak hilang, 'kan?"


"Ya, nanti aku jelaskan. Aku pergi dulu," Justin berjalan menjauh dari meja makan, memberi kode pada Danielle untuk mengikutinya.

__ADS_1


Dengan wajah kesalnya, Danielle mengikuti Justin.


Saat Emily curiga melihat mereka berdua, dia bangun dari kursinya ingin menyusul tapi tiba - tiba Deana maju dan menyenggol segelas jus di pinggiran meja. Jus itu menumpahi dress yang dipakai Emily.


__ADS_2