
Tubuh Danielle menegang melihat kekasihnya menodongkan pistol ke kepalanya sendiri. Namun, tak sengaja ia melihat dari pantulan kaca lemari pajangan seseorang menarik pelatuk pistolnya dan moncong pistol mengarah pada Justin.
Deana juga melihat pergerakan itu, saat melihat Danielle berlari menerjang tubuh Justin untuk melindungi lelaki itu, Deana mengarahkan senjata apinya pada orang yang akan menembak Justin.
"Tidak! Justin!"
Tap ! Tap ! Tap !
DORRRR!
DORRRR!
Daniellle tepat waktu mendorong Justin, tetapi tembakan orang itu menyerepet lengan Danielle.
Sedangkan tembakan Deana tepat mengarah jantung orang itu, seketika orang yang menembak Danielle tersungkur mati.
"Danielle, sayang... Ahhh! Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit!"
Danielle menahan tangan Justin yang akan menggendongnya, "Ini hanya terserempet, aku baik - baik saja."
"Tetap harus dirawat!" Justin mengangkat tubuh Danielle memeluknya dalam pelukan.
"Disini urus dulu, itu lebih penting. Sepertinya ada pengkhianat, sepertinya orang itu menembak bukan menuruti perintah Emily. Aku bisa diobati Jeff, kamu sebaiknya menenangkan Emily. Lihat dia terlihat sangat shock sampai pingsan, Justin turuti ucapanku."
Justin akhirnya menurut, dia membawa tubuh Danielle ke kamarnya. Membaringkan wanita itu di ranjang dan menyerahkan Danielle dalam pengobatan Jeff.
Justin keluar kamar berjalan menuju orang yang menargetkannya, "Deana, siapa dia menurutmu? Apa suruhan dari pihak delegasi?"
__ADS_1
"Bukan, semua delegasi aman. Apa dia bagian keamanan yang sudah lama bersamamu?" tanya Deana.
"Sepertinya baru hari ini aku melihatnya, coba cek ID-nya."
Deana memeriksa ID si penyerang, ditelisik lebih lama wajah di kartu ID dan wajah si penyerang ternyata berbeda. "Beda orang, pria ini pasti menyusup hari ini."
"Siapa sebenarnya dalangnya? Apa sama dengan pria hitam yang menyerangku kemarin?"
"Kemungkinan sama, aku harus melapor pada atasan."
Justin mengangguk, dia lalu pergi ke kamar Emily. Wanita itu sudah sadarkan diri, wajah Emily sangat pucat.
"Kamu baik - baik saja?" tanya Justin saat sudah mendekat ke ranjang.
"Bagaimana keadaan Danielle? Apa luka tembaknya parah?" cemas Emily.
"Tentu saja aku mencemaskan nya, sejak awal aku lah yang memerintahkan untuk menembak. Itu salahku, aku tidak tau akan menjadi begini. Stephen, tidak! Maksudku Justin, maafkan aku. Aku menyesal, sungguh."
Justin dapat merasakan ketulusan Emily, dia mengangguk. "Setidaknya kamu baik - baik saja, Stephen pasti ingin kamu melepaskan hubungan palsumu denganku. Aku tau kamu sangat mencintai Stephen."
Mendengar nama Stephen, tangisan Emily pecah kembali. Justin memeluk Emily untuk terakhir kalinya, ia mengelus lembut rambut wanita itu.
"Aku berhutang banyak padamu dan Stephen, saat itu aku sedang diculik oleh seseorang. Namun, insiden-mu malah menyelamatkanku. Emily, terima kasih. Aku akan selalu menyayangimu, tetapi mungkin sebagai saudaraku."
Tubuh Emily semakin bergetar, ia memeluk Justin. Memeluk untuk melepaskan, "Hu... hu... aku melepasmu, Justin. Aku melepasmu..."
Justin masih memeluk Emily sampai wanita itu melepaskan pelukannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Saat kembali ke negara Stephen, mari pergi ke makamnya sama - sama. Oke?" Justin mengelus kepala Emily seperti elusan sayang kakak pada adiknya.
Emily mengangguk, tersenyum sedih. "Justin, kamu selalu memiliki tempat di hatiku. Meskipun nantinya kita hanya sebagai saudara, biarkan namamu ada disana."
Justin tersenyum lega. "Aku tau. Istirahatlah, aku harus melihat keadaan Danielle."
"Oke."
Saat Justin masuk ke dalam kamarnya, Danielle sudah selesai diobati. "Kamu sudah merasa lebih baik?"
"Ya, gimana Emily?"
"Kalian para wanita, saling cemburu saling ingin menyerang tetapi pada akhirnya saling menanyakan keadaan. Hhhh, aku sungguh nggak mengerti wanita. Emily sama denganmu, dia mengkhawatirkan mu."
"Emily mengkhawatirkan ku?"
"Ya, dan kami sudah selesai bicara. Emily sudah melepskan hubungan palsu kami."
"Begitu," tapi tidak ada nada senang dalam suara Danielle saat mendengarnya.
"Kamu tidak senang?"
"Tidak. Bagaimana pun Emily ditinggalkan mati oleh Stephen. Hati Emily itu pasti hancur, aku sudah mengalaminya. Setiap hari saat menunggu kedatanganmu, da da ku sesak. Seolah ada yang mencekikku, itu sangat menyakitkan. Lalu, kabar kehamilanku perlahan membuatku bangkit, apalagi semua orang mendukungku," Danielle tersenyum lemah mengingat rasa sakitnya dulu.
"Maafkan aku, sayang. Aku memberikan luka yang begitu dalam padamu, kini ayo kita bahagia bersama anak kita."
Danielle mengangguk, "Ya."
__ADS_1